
Akhirnya Via mau mendengarkan ucapan Freddo yang sangat menenangkan hati nya. Setelah kedua nya turun dari mobil, Freddo menggenggam tangan Via terasa sangat dingin.
" Tangan mu dingin sekali." Freddo tersenyum.
" Bukan hanya tangan."
" Apa?" tanya Freddo.
" Kaki gemetaran, kau tidak lihat keringat dingin sudah Segede jangung." Via merogoh selembar tisu di tas kecil nya dan mengelap kening dan leher nya.
Freddo terkekeh melihat Via memang sedang mengatur nafas nya dan juga keringat pada kening nya.
" Jangan gugup, biasa saja."
" Biasa saja..pala lu peang." ucap nya dalam hati.
" O iya tunggu!' Via menghentikan langkahnya sesaat.
" Apa lagi?" kening Freddo mengkerut langkahnya ikut terhenti.
" Awas saja!, kalau aku gak bisa keluar dari ini hidup hidup."
Freddo tertawa mendengar ucapannya Via.
" Kau menjemput ku utuh, kembali juga harus utuh."
Freddo semakin ketawa.
" Tenanglah!, aku pastikan kau keluar dari rumah ku, kebahagiaan yang kau dapat."
" Pasti."
" Pasti." balas Freddo.
Sampai didalam benar saja orang tua Freddo sedang duduk di ruang keluarga. Bola mata Via mengedar sekeliling ruangan rumah mewah itu. Hanya mata nya yang mengedar tidak perlu kepala nya menoleh ke kanan dan kekiri.
__ADS_1
" Jangan norak Via." bathin Via bicara buat dirinya sendiri.
Setelah Via dan Freddo mendekat pada Laura dan Leander. Laura berdiri menyambut Via dengan ramah.
" Halo gadis Indonesia yang cantik, aku adalah ibu Freddo kenalkan namaku Laura." ucapnya sangat ramah.
" Selamat siang Ibu Laura." ucap Via.
" Dan ini Ayah nya Freddo." Laura menunjuk pada suaminya.
" Halo Via selamat datang."
" Selamat siang Pak Leander."
" Mari silahkan duduk!, sayang." ajak Laura.
" Terimakasih Ibu."
Via pun duduk bersebrangan dengan kedua orang tua Freddo, Freddo duduk disamping Via.
" Iya Ibu Laura, saya mengunjungi sahabat saya, Lina."
Laura dan Leander mengangguk.
Tidak lama pelayan membawa minum untuk Via dan Freddo.
" Silahkan di minum, Nona!"
" Terimakasih." Via berdiri menjulurkan tangan nya untuk bersalaman pada pelayan itu.
" Nama saya, Via."
" Iya Nona Via." tangan nya menerima untuk bersalaman pada pelayan itu.
Pelayan itu langsung membungkuk dan undur diri.
__ADS_1
" Kita makan siang bersama ya!"
" Terimakasih Ibu Laura." Via mengangguk hormat.
" Kau jangan sungkan sungkan pada kami."
" Baik Ibu."
" Freddo ajak kekasih mu makan."
" Baik Mom."
Via membathin diri nya sudah ditandai sebagai kekasih Freddo, ia mendengar ucapan keluar dari mulut Nyonya rumah.
" Via ayo kita makan siang."
" Aku klarifikasi dulu."
" Apa itu?"
" Aku belum jadi kekasih mu, kenapa Ibu mu sudah menandai aku sudah kekasih mu."
" Kau tidak mau?, heum?" balas Freddo.
" Ya tentu, aku baru kenal kamu 3 hari lalu..masa secepat itu?"
" Kalau begitu..kau tidak bisa keluar dari rumah ini hidup hidup dan utuh." ucap Freddo.
" Hah?, mata via membulat mulut nya menganga.
" Sejak kapan?, aku jadi kekasih mu?"
" Sejak kau sudah masuk di rumah ini, Ayo makan siang dulu."
Freddo langsung menarik tangan Via menuju meja makan ia menarik kursi untuk Via setelah Via duduk, Freddo duduk di sebelah Via. Makan siang mereka sambil berbincang bincang dengan bahasa internasional saja memakai bahasa Inggris tentunya, tidak mungkin Via berbahasa Belanda.😀😋
__ADS_1
Setelah makan siang, Freddo mengajak Via mengelilingi rumah mewah itu, sambil melangkah dan berbincang bincang tentunya.