
Laura dan Derick berjalan keluar area bandara , sedang kan Devis dan Lina telah menunggu mereka.
" Kau gugup?"
" Iya..aku mual."
" Eugh?"
" Aku mual karena gugup..huuuft."
" Santai..tenangkan diri mu."
" Aku mau pipis lagi, Dev sayang."
" Kau terlalu gugup, sayang."
" Hadduuhh..aku udah gak tahan, kebelet."
" Kita cari toilet."
Devis langsung menggandrng tangan Lina mencari toilet. Sampai di toilet Lina tergesa gesa untuk segera dikeluarkan air kemih nya. Devis menunggu Lina dengan sabar.
" Sudah?"
" Iya..lega."
" Ayo!, mereka pasti mencari kita."
Devis dan Lina kembali pada tempat mereka menunggu orang tua Devis. Baru saja Devis dan Lina di tempat semula orang tua Devis sudah muncul.
" Itu Mereka." tunjuk Devis.
Lina langsung menarik nafas dalam dalam ketika Derick dan Laura sudah mendekati mereka.
" Anak ku Devis." ucap Laura
" Mom." Laura langsung memeluk dan mencium Devis.
" Ayah."
" Apa kabar, son?" ucap Derick langsung memeluk Devis.
" Baik Ayah."
" Ini Lina."
" Apa kabar calon mantu ku?" Laura langsung memeluk Lina.
" Baik Tante."
" Nei, panggil Mommy saja."
" Baik Mommy." ucap Lina tersenyum."
" Apa kabar Lina?"
" Baik Om."
" Ayah saja, Mommy bisa mencubit ku."
__ADS_1
Lina tersenyum lebar.
" Baik Ayah."
Laura langsung bicara pada Devis dengan bahasa Belanda, Lina diam saja sedikit mengerti tapi selanjut nya Lina sudah tidak menangkap pembicaraan ibu dan anak itu.
" Lina."
" Iya Mom, sampai di rumah aku mau bicara ya!"
" Iya Mom."
" Devis cepatlah aku juga mau melihat kabar dua keponakan ku Abrey dan Michel."
" Iya Mom."
Devis segera membawa mereka, ke tempat Abrey dan Michel.
Abrey dan Michel sudah menunggu kedatangan Tante mereka.
" Chel.."
" Kenapa Kak?"
" Lina sama Devis jadi juga tuh..mau nikah."
" Iya lah, Devis demen sama Lina jodoh lah mereka."
" Huh!, jangan jangan mereka sudah pacaran waktu Abang elu masih hidup, pantas saja kena serangan jantung." Abrey mendengus.
" Kak kalau ngomong tuh di jaga."
" Yaaa..gue kan cuma duga duga aja Chel, barangkali Lina juga gatel sama Devis."
" Iya..Abang elu baru beberapa bulan meninggal, Lina udah ngegaet Devis aja."
Michel sudah tidak tahu lagi dengan sifat Kakak nya lebih baik dia diam saja.
" Lina juga udah Bunting."
" Kakak..bisa tidak gak usah sarkas kalau ngomong."
" Dulu sama Adrie juga gitu, udah Bunting sekarang sama Devis bunting duluan juga, dasar janda gatel."
Michel hanya geleng kepala saja, tidak tahan dengan ucapan Kakak nya.
" Kak biar gimana pun Lina sudah banyak bantu Kakak, apa Kakak tidak ada rasa terima kasih sama Lina?. Dsn sekarang ini kita juga sudah bukan ipar Lina lagi. Itu sudah urusan Lina."
" Itu mereka datang, chel."
Devis langsung memarkirkan mobil nya di jalan aspal. Mereka turun, Laura langsung menatap kedua keponakan nya dengan bahagia.
" Hai..Abrey, Michel apa kabar dengan kalian berdua?, kau makin cantik saja Michel."
" Baik, Tante trimakasih."
" Abrey, kapan kau menikah?, kasihan Michel tertahan."
Seketika ekspresi Abrey berubah menahan malu, warna wajah nya langsung merah.
__ADS_1
" Abrey Michel, apa kabar?"
" Baik Om Derick."
" Mari silahkan masuk Om Tante!"
" Terimakasih Michel." balas Derick.
" Rumah ini tidak berubah ya Brey?, O iya ini Tante bawakan oleh oleh dari Holland, kalian pasti suka."
" Terimakasih Tante."
" Dev, aku buatkan minum dulu ya!"
" Iya sayang."
" Maafin Tante, kami tidak bisa datang waktu Adrie meninggal."
Tak lama Buk Jum datang membawakan minuman dan makanan kecil untuk mereka.
" Silahkan di minum Tuan dan Nyonya."
" Trimakasih ya. Lina dia siapa?"
" Kenalkan Nyonya, saya Buk Jumiah."
" Dia sudah lama ikut dengan saya, Mom, Sudah saya anggap Ibu saya sendiri."
" Oh.."
" Dia itu maid Tante Laura." lanjut Abrey. tatap Abrey pada Jum tidak suka.
" Lina dia yang akan ikut kamu kan menetap di Amsterdam nanti?"
" Iya Mom."
" Syukurlah, kau sangat baik pada nya."
" Dev."
" Iya Ayah."
" Bagaimana persiapan pernikahan kalian?"
" Tinggal menunggu hari itu saja, Ayah."
Derick mengangguk.
" Lina apa kau sudah siap menetap di sana?"
" Siap Mom."
" Kau mau menikah dengan Devis?, tukang Roti?"
Derick dan Devis tertawa dengan ucapan Laura.
" Mau kok Mom."
" Mommy bercanda Lina, Devis tukang roti tapi menghasilkan ratusan dolar, kau tidak akan hidup susah nantinya."
__ADS_1
" Tukang roti tapi tampan kok Mom."
" Ya, tapi kau juga cantik sayang pantas Devis ngebet pada mu."