CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Pertemuan yang terakhir.


__ADS_3

Di hotel G Tiara yang mengunjungi Adrie siang hari tidak jadi sore yang Adrie pintakan Tiara sehabis menemani klien nya yang berlokasi tidak jauh dari hotel Adrie tempat menginap, sebelumnya ia sudah mengirim pesan pada Adrie akan datang siang hari di saat Adrie sedang rapat. Adrie dengan senang hati bisa kembali bercengkrama dengan Tiara di jam istirahat dan makan siang.


Adrie meminta Tiara untuk dipuaskan siang itu. Selesai aktifitas panas mereka Adrie memohon pada Tiara untuk menunggu nya sampai selesai dengan urusan pekerjaannya, mengingat tugasnya akan selesai hari ini dan Adrie akan kembali kerumahnya. *** after lunch membuat tubuhnya sangat segar. 10 menit lagi rapat akan dimulai Adrie masuk keruangan rapat dan duduk di sisi sang CEO. Namun Tidak disangka oleh Adrie Bapak Harri telah mengetahui Adrie punya hubungan dengan wanita lain.


" Siapa wanita cantik itu?" Suara Pak Harri pelan.


" Ehh? Iya Om?" Adrie tergelak dengan pertanyaan Om Harri.


Pak Harri tersenyum dengan wajah Adrie yang merah menahan malu.


" Om akui kamu memang tampan Drie, jadi memang pantas digilai oleh wanita." Pak Harri memuji Adrie membuat Adrie tersanjung namun sejurus kemudian Pak Harry memberikan kata bijak yang membuat Adrie sedikit tersadar.


" Cuma Om mau bilang jangan terlalu berlebihan memberi perhatian pada seseorang, kalau kamu tidak mau mendapat kan sakit yang lebih sakit dari apa yang sudah kamu lakukan."


Adrie menunduk tertegun.


" Karir mu sedang cemerlang itu semua tidak luput dari doa doa istri mu, jangan sakiti ibu dari anak anakmu." Kemudian Pak Harry menepuk pelan bahu Adrie menandakan agar Adrie paham dengan nasihatnya.


Adrie terhenyak dengan nasihat Pak Harri yang dia panggil Om itu. Nasihat secara lisan dari Om Harri, membuat Adrie teringat istrinya seketika ada perasaan bersalah pada istrinya. Adrie kemudian menganggukkan kepala.


" Baik Om..Trimakasih atas nasihat Om."


" Oke semua sudah berkumpul Drie, Kamu langsung saja buka suara untuk memulai rapat!"


" Baik Om!"


Rapat siang itu dimulai, Adrie memimpin rapat atas perintah Pak Harri. Pak Harri melihat Adrie cara memimpin rapat sangat kompeten. Dari cara bicaranya sangat lugas dan jelas. Membuat orang orang yang menghadiri rapat menganggukkan kepala mengerti apa yang disampaikan oleh wakil direktur itu.


Tengah perjalanan Lina dan Devis masih saling terdiam Devis yang masih fokus menyetir sudah beberapakali menoleh pada Lina yang hanya melihat lihat sisi jalan dari balik kaca mobil.


" Apa yang sedang kau pikirkan?" Devis mulai membuka pembicaraan.


" Hem, ya?" Ah tidak ada." Lina menoleh sebentar pada Devis kemudian pandangannya ke depan.


Devis kemudian tangan kirinya memutar musik agar memecah suasana keheningan dan sekaligus kekakuan agar keduanya merasa rileks. Sebuah lagu yang dibawakan oleh Kenny Rogers melantun indah ditelinga.


" Kau suka?"


" Iya aku suka lagu yang kau putar ini."


Devis mengangguk senyum.


Mobil mulai memasuki daerah dataran tinggi pemandangan pohon pohon dan udara yang dingin sejuk.


" Kau kedinginan?"


" sedikit, kenapa kau tidak mengatakan sebelumnya kalau kita akan ke daerah puncak?" jadi aku akan memakai sweater."


" Tenanglah!, Aku sudah menyiapkannya ada di kursi belakang, didalam paper bag."


Mobil yang dikemudikan Devis sudah sampai, tempat yang sudah Devis reservasi adalah restoran dengan pemandangan bukit dan hamparan kebun teh. Mereka berdua keluar dari mobil, Lina nampak kagum melihat sekeliling pemandangan hijau kebun teh yang sangat luas dan pada kaki gunung nampak bukit bukit kecil, Lina melangkah kan kakinya menjauh dari mobil ia berdiri ditepian pagar pembatas kemudian tersenyum betapa terpesonanya ia dengan keindahan ciptaan Tuhan. Tidak mau sia siakan ia menghirup udara pegunungan yang sejuk itu dalam dalam sambil memejamkan matanya merasakan betapa tenang nya berada di alam terbuka ini.


Devis yang baru saja mengambil paperbag untuk memberikan sweater untuk Lina. Ia mengulas senyum dengan apa yang Lina lakukan, wanita yang ia ajak kencan itu tak kalah indahnya dengan pemandangan yang berada didepan mata Devis, semilir angin pegunungan membelai lembut rambut Lina menambah keanggunan wajah Lina.


" Kau suka?"


" Yaa, aku suka sekali pemandangan nya sangat indah..sudah sangat lama sekali aku tidak ketempat seperti ini, tempat ini begitu mengesankan."

__ADS_1


Lina menjawab masih dengan tatapan pemandangan hijau itu, seolah olah ia tak mau menoleh dengan pertanyaan Devis yang berada disampingnya.


" Ini, pakai lah sweater ini!"


" Ahh iya, trimakasih." Lina akhirnya menoleh pada Devis.


" Udaranya dingin tapi sangat sejuk."


" Iya kau benar Dev."


" Sebaik nya kita jangan berlama lama berdiri memandangi pemandangan disini."


" Lho kenapa?" Lina mengernyitkan kedua alisnya.


" Pemandangan disini sangat indah, tak kalah indahnya dengan kamu, jadi jangan sampai membuat alam disini iri pada mu jika kamu berlama lama berdiri disini."


" Ahh, kau ini..aku malah berfikir dengan ucapan mu akan ada badai disini hahhaha, rupanya kamu bisa menggombal juga ya."


" Kita pesan makanan dulu."


" Baik lah."


Devis dan Lina kemudian masuk dan duduk pada meja kosong yang ada papan tulisan reservasi. Seorang pelayan wanita dengan sigap menghampiri meja.


" Selamat siang Tuan Devis apa kabar?" pelayan itu dengan ramah menyambut Devis.


" Selamat siang Mira kabar ku baik bagaimana bekerja disini, betah?"


" Sangat betah Tuan, kami semua bekerja di sini sangat menyenangkan, trimakasih Tuan Devis."


" Maaf Tuan Devis dan Nyonya ingin memesan makanan dan minum apa?"


" Buatkan saja makanan kesukaan saya."


" Baik, Tuan."


" Lina kau ingin makan apa?"


" Steak dan jus saja kalau untuk aku, Dev."


" Baik Nyonya."


" Trimakasih ya mba Mira."


Pelayan itu membungkuk.


" Sepertinya kau sudah berlangganan di restoran ini sampai pelayan itu sudah mengenal mu."


Devis tersenyum.


" Ini salah satu cabang resto yang aku miliki."


" Oh..ehm pantas saja, maaf aku jadi merasa tidak enak."


" Tidak enak kenapa, kau keberatan?"


" Bukan, maksudku pasti dikasih gratis buat aku."

__ADS_1


" Hemm..iya memang, tapi lain kali kau juga harus traktir aku, bagaimana?"


" Iya pasti." Lina tersenyum, Devis sangat menyukai senyuman Lina yang manis.


Setelah makanan sudah dihidangkan mereka berdua bersantap dengan tenang


" Steak ini sangat enak, Dev."


" Kau ingin mencoba menu makanan yang lain."


" Hem..boleh, tapi tidak mungkin aku memakannya karena aku sudah merasa kenyang. Mungkin lain kali waktu saja, Dev."


" Kalau begitu aku pesan biar dibuatkan oleh pelayan ku untuk kau bawa pulang."


" Ah..tidak usah Dev, Trimakasih."


Tidak mungkin aku bawa pulang aku takut Bang Adrie akan menanyakan karena dia pasti sudah tahu makanan ini asal restoran dari sepupunya. Dalam hati Lina.


" Kau tidak perlu kuatir, Adrie tidak akan tahu."


" Ah..ehm, mana mungkin Adrie tidak mengenal restoran mu, Dev."


" Adrie tidak akan tahu kalau aku punya restoran disini, Bagaimana kau mau?"


"Iya baiklah."


" Aku pastikan kau pasti akan suka dengan menu makanan di restoran ku ini, karena aku mempekerjakan chef chef yang kompeten untuk restoran ini."


" Trimakasih banyak, Dev..Trimakasih sudah mengajak ku kesini, tapi aku mohon ini adalah ajakan kamu yang terakhir untuk aku bertemu dengan kamu."


" Kenapa kau keberatan?"


" Iya kau benar, disisi lain aku adalah wanita yang sudah bersuami terus terang aku tidak mau mengambil resiko yang besar untuk rumah tangga ku. Aku harap kau mengerti."


" Baik lah, tenang saja." Devis berucap dengan menatap manik mata Lina dalam dalam seolah menyiratkan wanita yang dihadapan nya kini pasti akan menginginkan nya.


 Di hotel G.


Adrie yang mengikuti rapat, pikirannya separuh fokus dengan pembahasan perusahaan dan separuh di otaknya memikirkan perkataan Om Harry hingga dirinya tidak sabar untuk segera pulang menemui istrinya. Namun ia juga memikirkan bagaimana dengan Tiara yang masih berada dikamar hotel menunggunya selesai rapat.


" Masih dua materi lagi Drie untuk dibahas nampak nya kamu gelisah,kenapa?" kau ingin cepat pulang."


Adrie kembali tersentak dengan ucapan Om Harry seperti mengetahui isi pikirannya.


" Ahh iya om, tiba tiba saja Adrie kangen rumah."


" Sabarlah, Om mengerti." Selesai ini telpon lah istrimu!"


" Trimakasih Om."


Adrie tiba tiba saja sadar bahwa seharian ini istrinya belum menelpon nya, walaupun Adrie sedang sibuk belum sempat menelpon Lina, tapi kini Adrie hati nya merasa istrinya justru tidak menanyakan kabar nya?.


Adrie pun melihat layar ponsel nya penasaran barangkali Lina mengirimkan pesan, disaat dia sedang sibuk. Dan ternyata layar itu tidak ada pesan masuk.


" Ah, kenapa aku merasa ingin istriku yang menelpon ku." Merasa diabaikan dalam benak Adrie, ia pun kembali fokus pada rapat.


Maaf baru up, sibuk nge cat tembok rumah

__ADS_1


__ADS_2