
Devis masih menggenggam tangan Lina, mereka meninggalkan Diego begitu saja namun langkah Devis berjalan agak cepat membuat Lina agak kesusahan mensejajarkan nya kedua nya masih membungkam Devis terlihat masih kesal dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Lina sendiri merasa was was dan dada nya mulai berdegup kencang, apa Devis akan marah lagi pada nya seperti waktu dua malam lalu di kamar resort itu. Devis membawa Lina sampai di dalam kamar hotel nya.
Kemudian Devis menghempaskan bokong nya duduk di sisi ranjang berukuran besar dan masih menggenggam tangan Lina.
" Haaaahhh." Devis menghela nafasnya.
Ia masih terdiam seperti sedang menenangkan diri nya. Lina masih membeku menatap Devis yang masih menunduk dan belum menatap nya.
Lina menatap wajah Devis, ia menghawatirkan sudut bibir nya yang berdarah. Lina melepaskan tangan dari Devis pelan. Lina melangkah ingin mencari obat yang mungkin saja tersedia di kamar hotel itu.
" Kau mau kemana?"
Lina terhenti langkah nya.
" Aku harus mengobati luka mu."
Devis mengangguk. Lina memeriksa ruangan dalam kamar tapi seperti nya tidak tersedia obat di kamar itu, Lina membuka lemari es dan mengambil ice tube dan handuk kecil lalu mulai mengompres sudut bibir Devis pelan.
" Ssshhht..." Devis meringis.
Tangan Lina masih mengompres hingga beberapa menit Devis memegang perut nya menahan nyeri karena tendangan dari Diego yang cukup keras, Lina ingin memeriksa bagian perut Devis Ia melepas kancing kemeja Devis lalu menarik kemeja itu. Betapa terkejut nya Lina melihat perut Devis yang mulai membiru.
Lina kembali menambahkan es batu dan mulai mengompres perut Devis.
" Kau berbaring lah!"
Devis menurut perintah Lina, ia membaringkan tubuhnya. Lalu Lina menelpon petugas hotel untuk dikirimkan obat pengurang rasa nyeri.
__ADS_1
" Halo Mba, saya minta tolong bawakan. obat Paracetamol dan kirimkan ke kamar nomor xxx."
" Baik Nyonya."
Tidak sampai 10 menit obat itu sudah di bawakan. Lina menerima obat yang di butuhkan nya.
" Ini minumlah!, biar berkurang sakit nya."
Lina memberikan air putih dan obat nyeri pada Devis, dan Devis mulai meminum nya.
Lina kembali mengompres perut Devis yang sudah lebam itu. Luka lebam itu membentuk pola alas sepatu. Hingga beberapa menit Devis mulai memejamkan matanya ia tertidur karena pengaruh obat penghilang rasa nyeri itu.
Lina melepaskan sepatu dan kaos kaki Devis agar terasa nyaman dan menyelimuti tubuh Devis. Lina menatap wajah Devis lekat lekat saat terpejam Devis terlhat sangat lelah, Ia merasa kasihan dalam pikiran Lina laki laki ini sangat bekerja keras dan sangat melindungi diri nya. Ia menyadari apa yang Devis lakukan terhadap nya dari awal perkenalannya Devis selalu ingin membuat dirinya bahagia dan tersenyum. Devis benar benar sangat mencintai diri nya. Cintanya Devis sepupu almarhum suami nya tidak main main. Lina masih ingat dengan kata kata Devis sewaktu ia dan Devis bertemu di cafe manca negara Ia berucap " Aku tidak main main dengan hubungan ini, Lina".
Lina menarik kedua sudut bibir nya tangan nya membelai rambut Devis dan mengusap pipi Devis Dengan lembut. Devis masih tertidur tidak terganggu sama sekali dengan belaian tangan Lina, Lina mematikan lampu ia memilih tidur di sofa karena ia tidak mau menggangu tidurnya.
Hingga pukul 12 malam Lina mengerjapkan mata nya ia tertidur satu jam, kemudian ia bangun ingin melihat kondisi tubuh Devis. Lina mendekati Devis, di lihat nya Devis masih memejamkan matanya, Devis seperti nya tidak lagi merasakan sakit di perut nya karena dari tidur nya sangat tenang dan lelap.
Sambil mengeringkan rambut nya mata nya melirik pada Devis, Devis masih tertidur ia pun lega selesai mengeringkan rambutnya ia merebahkan tubuh nya di sofa dan kembali tidur. Pukul 2 pagi Lina mengerjapkan mata karena merasa ada sosok yang mendekati nya.
" Dev, kau sudah baikan?"
" Kenapa kau tidur di sini?"
Lina sambil sedikit mengerjapkan mata yang masih terasa lengket di kelopak kedua matanya
" Euummh..aku hanya tidak ingin mengganggu tidur mu , Deevv-."
Ucapan Lina terputus, Devis tiba tiba menggendong Lina ala bridal, membuat Lina takut karena luka lebam di perut Devis.
__ADS_1
" Is.. e e Dev Dev, kau masih sakit di perut mu!"
Devis langsung merebahkan tubuh Lina di ranjang dan langsung menindih nya.
" Dev, apa tidak sakit di perut mu itu dengan posisi seperti ini!"
Lina masih mengkhawatirkan nya.
" Kau mandi tidak membangunkan ku, hem?"
" Mana mungkin Dev, kau terlihat sangat lelap."
" Euumm?,..berarti kalau aku tidak tidur kau mau mandi bersama ku?, sekarang aku sudah bangun."
" Euh? oh ahh, ti- tidak seperti itu juga, Dev!, hehehe ." Lina tersenyum nyengir.
Devis masih mengungkung Lina, dan menatap kedua manik mata Lina lekat lekat. Lina terdiam.
" Trimakasih!, kau sudah mengobati luka ku."
" Sekarang bagaimana?, apa masih sakit?"
" Tidak lagi sayang."
" Besok cek ke dokter aku kuatir dalam perut mu."
Devis tersenyum, ia senang Lina mencemaskan nya.
" Tundalah kepulangan mu!"
__ADS_1
" Euh?"