
Adrie kemudian masuk kamar dan mencari surat surat dokumen yang tersimpan di laci lemari. Adrie seperti mencari sesuatu yang Lina sembunyikan, namun nampak Adrie tidak menemukan. Karena menurut orang suruhan nya Lina telah membeli sebuah ruko yang dibantu oleh Devis.
Adrie duduk terdiam di pinggir ranjang tempat tidur. Namun Adrie teringat dengan ponsel Lina. Adrie mencari ponsel itu untuk memeriksa percakapan Lina dan Devis selama ini. Setelah mendapat ponsel Lina, Adrie memeriksa ponsel itu namun Adrie tidak juga menemukan bukti perselingkuhan Lina dengan Devis. Lina sudah menghapus semua nomor panggilan Devis, dan juga chat antara Lina dan Devis.
Hingga sore hari, Adrie membawakan makanan untuk Lina. Adrie teringat bahwa Lina memang sejak pagi belum terisi apapun.
Tapi sebelum nya Adrie sudah meyiapkan tali, untuk mengikat Lina.
Dari dalam gudang Lina tertidur dengan posisi duduk Lina terbangun ketika mendengar suara kunci yang di masukan kedalam lubang pintu. Adrie membuka pintu gudang dengan membawa seutas tali.
Lina buru buru berdiri dan merasa bergidik dengan sikap suami nya itu Adrie membawa seutas tali di tangan nya. Lina kemudian memundurkan langkah nya.
" A- apa yang ingin Abang lakukan?" Lina kembali menangis.
Adrie langsung menarik tangan Lina, dan dengan cepat Adrie membalikan tubuh Lina menghadap ke dinding dan menarik kedua tangan Lina kebelakang tubuh nya.
" Abang !"
" Diam kau, pe**cur.'
Lina semakin tidak bisa bergerak karena tubuh Adrie menghimpit nya dan mengikat tangan Lina hingga Lina merasa kesakitan. Dengan gerakan cepat Adrie mengikat kedua tangan Lina dengan kencang. Dan kemudian membalikan tubuh Lina untuk menghadap Adrie. Dada Lina naik turun Lina ingin berontak tapi takut, kalau suami nya akan bertindak kasar kembali. Lina hanya menurut apa yang Adrie lakukan pada nya.
Adrie kemudian mendudukkan Lina dan menarik kedua kaki Lina, dan mengikat nya dengan kencang. Setelah tangan dan kaki Lina terikat, Adrie membawakan sepiring makanan dan juga sebotol air mineral.
" Makan ini, Pela**r.!
Lina tidak mau membuka mulut nya, ia hanya terisak air mata nya sudah membasahi kedua pipi nya. Adrie menghapus air mata Lina dan menyuapi makan pada istri nya itu, namun Lina tetap tidak membuka mulutnya.
" Buka mulut mu, pe**cur!"
Lina dengan terpaksa membuka mulut nya untuk di suapi makan oleh Adrie.
Adrie juga tidak ingin istri nya sakit, karena kelaparan.
Adrie menyuapi Lina sampai tersisa sedikit di piring itu. Adrie menyunggingkan sudut di bibir nya, ternyata Lina memang benar benar sudah lapar. Kemudian Adrie memberi minum Lina yang di teguk nya sampai habis. Adrie masih menatap Lina dingin, tanpa bicara Adrie melepaskan tali itu di kedua tangan Lina. Adrie kemudian keluar dan menutup pintu gudang itu dan pergi.
Adrie kembali masuk ke kamar nya. ia meraih ponsel nya dan menelpon orang suruhan nya.
" Saya butuh orang, kirimkan pada saya."
Rupanya Adrie meminta orang suruhan untuk di tugaskan menjaga Lina di pintu gudang selama Adrie bekerja.
__ADS_1
Abrey, Michel sedang membicarakan Adrie dan Lina.
" Truss jadi bagaimana, Kak?" kasihan, kan?, masa harus di kurung di gudang. Abang Adrie tega terhadap istri nya."
" Kakak juga kasihan sih...tapi sedikit aja."
" Ck, Kakak gimana?" Kakak boleh tidak suka pada Lina. Tapi kan, kasihan sama anak anak nya, Apa Bang Adrie tidak memikirkan perasaan anak anak nya?"
" Gue bodo amat, ahh!, pusing gue mikirin nya."
" Ya sudah, biar gue buka pintu gudang itu."
Abrey buru buru mencegah Michel, yang nekat ingin buka kan pintu gudang.
" E e e...Chel, jangan!, nanti Abang elu bisa marah." Biar mereka berdua yang menyelesai kan masalah mereka saja!, kita tidak usah ikut campur!!, elu gak tahu sihh,, Abang elu marah nya udah kayak kesetanan, Kakak aja takut."
" Trus, masa kita harus diam saja!"
" Iya sihh....ah, lagian pake ribut segala."
" Nama nya juga rumah tangga, Kak?" wajarlah!, ada ribut ribut. Tapi ini sudah tidak wajar, Kak?"
" Kita kan juga belum tahu permasalahannya, chel...lebih baik kita diam saja, dulu!, kita jangan ikut campur!"
👉👉
Devis nampak gelisah, sudah tiga hari ini Lina tidak bisa di hubungi. Nomor Devis pun di blokir.
" Apa yang sedang terjadi pada mu, Lina?"
Devis pun tidak fokus bekerja, karena memikirkan Lina. Devis yakin pasti ada sesuatu yang buruk pada Lina, Devis pun menghubungi Johan.
" Jo, kemari!"
" Baik, Pak Devis."
TOK TOK
" Masuk!"
" Ada yang bisa saya bantu, Pak Devis?" Johan melihat boss nya nampak sedang menguatirkan sesuatu.
__ADS_1
" Begini, Jo....." Devis diam sejenak sedang memikirkan sesuatu sebelum ia bicara pada Johan.
" Heufft,..Saya sedang tidak fokus hari ini, saya sedang memikirkan Lina. Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres pada nya."
Johan serius mendengar keluhan boss nya itu.
" Lalu apa yang harus saya lakukan., Pak Devis?'
" Tolong cari tahu!, karena sudah tiga hari ini saya belum mendengar kabar nya, nomor saya pun di blokir...saya khawatir pada nya."
" Baik, Pak Devis!'
" Kau sudah tahu, kan?, apa yang harus kamu lakukan?"
" Iya, siap Pak Devis!, saya permisi."
Devis mengangguk.
Adrie sudah siap akan berangkat ke kantor, namun sebelum nya Adrie membawa makanan untuk Lina yang sudah di siapkan oleh Buk Jum. Adrie dan orang penjaga gudang, segera menuju gudang yang berada di belakang rumah Abrey dan Michel.
Lina sudah seperti seorang tahanan yang terkurung di hukum dan di ikat kedua tangan nya. Adrie membuka pintu gudang itu dan menyuruh penjaga pintu untuk tetap mengawasi Lina. Adrie membawakan sarapan untuk Lina dan juga sebotol air mineral.
" Makan lah dulu!, sebelum aku ke kantor!, jangan kuatir kan anak anak!, mereka baik baik saja."
Lina menangis, Adrie mengatakan tentang anak anak nya.
" Hukuman ini belum berakhir, sampai kau mengakui hubungan mu dengan Devis."
Lina merasa tidak terima dengan perlakuan Adrie terhadap nya. Lina pun memberanikan diri untuk bertanya balik tentang hubungan Adrie dengan Tiara.
" Lalu apa kabar nya dengan, Tiara?, kau pun juga masih berhubungan dengan nya?, kau selama ini sering tidak pulang, karena kau tinggal dengan nya, kan?" Ucap Lina tatapan nya lurus kedepan.
" Aku sibuk bekerja, aku tidur di kantor."
" Kantor?, Kantor mana?, kok betah ya!, tidur di kantor.. sedang kan orang orang selesai bekerja tidak betah berlama lama dan ingin segera pulang. Lucu yaa!, Abang wakil direktur nampak nya pekerjaan abang lebih sibuk dari pada bawahan Abang yang lebih santai di bandingkan Abang...percuma dong punya bawahan dan anak buah Abang."
" Diam, kamu!"
" Cihh, pergilah!, aku muak melihat mu di sini.'
Adrie ingin marah, namun ia tahan. Adrie malah mencengkram rahang Lina dan ******* bibir Lina.
__ADS_1
" Aku pergi dulu!"