
Setelah bersantap Devis mengajak Lina jalan mengelilingi sekitar restoran itu, banyak tempat tempat asik untuk berfoto yang di unggah ke Instagram atau media sosial lainnya.
" Kau pandai memilih tempat untuk restoran mu , Dev lihatlah!, banyak pengunjung di restoran ini dan juga mereka senang mengambil foto di sekitaran restoran mu."
Devis tersenyum senang mendengarnya.
" Tidak mudah awalnya mencari lokasi untuk buka cabang restoran ku, waktu itu aku tidak sengaja bermain di sini bersama Johan ketika Johan ingin mengunjungi Nenek nya. Ketika melihat tempat ini aku meminta Johan mencari tahu tanah disini apakah dijual atau tidak?, Ternyata pemilik nya sedang membutuhkan uang banyak tanpa pikir panjang aku membeli tanah ini."
Lina mengangguk menyimak cerita Devis.
" Memajukan suatu usaha memang tidak mudah tapi kalau kita optimis dan terus berusaha pasti ada saja jalannya. Sukses buat kau, Dev."
" Kau benar, Trimakasih sayang."
Seketika jantung Lina berdegup takala Devis memanggil diri nya sayang.
" Tidak apakan aku memanggil mu sayang?"
" Ah..e e ?" Lina menoleh kearah lain tangan nya sambil menyampirkan rambut ke telinga ia tertunduk tersipu malu sekaligus bingung.
" Oke oke, aku akan memanggil mu sayang saat kita lagi berdua saja seperti ini."
Lina menghela nafas, bagaimana harus menyikapi lelaki dihadapan nya.
" Terserah kau saja."
" Trimakasih sayang." Hati Devis senang.
" Hari sudah hampir sore, aku harus pulang!"
" Baiklah sayang."
Lina merasa hatinya ingin menolak tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya, kalau dia juga suka dengan perlakuan Devis.
Ketika mereka sudah berada dalam mobil, Devis ingin memakaikan Lina seat belt.
" Dev, biar aku saja."
Devis pura pura tidak mendengar tangannya sudah memasang seat belt Lina.
Namun Devis menatap wajah Lina dengan jarak dekat.
" Ada apa?, kenapa kau menatap ku?"
" Tidak, aku hanya ingin menatap mu sebelum kau kembali kerumah mu."
Kemudian tangan Devis membelai rambut dan pipi Lina yang sangat halus.
" Dev, aku mohon kondisikan tangan mu."
Devis sangat tahu hati Lina sebenarnya suka, namun ia harus mempertahankan harga dirinya.
" Aku hanya ingin membelai wajah mu."
Namun tidak sangka, Devis malah mengecup pucuk rambut kepala Lina. Seketika Lina menahan nafasnya, dan jantung nya kembali berdetak kencang.
" Aku berharap kita bertemu kembali, seperti saat ini. Semoga semesta mendengar dan merestui kita bertemu lagi dan lagi." Mata Devis masih menatap Lina dan belum memutuskan pandangannya.
Kedua mata Lina seperti ketarik untuk menatap kedua manik mata Devis, jadi lah saling memandangi. Lelaki ini terlihat sangat yakin dengan permohonannya.
__ADS_1
GLEDERRRR suara petir dengan keras menggema.
" See..!, suara petir itu seperti pertanda merestui kita."
Lina pun memutuskan pandangan nya pada Devis karena suara petir.
" Itu pertanda akan turun hujan, Dev."
" Tapi aku mempercayai nya."
Mobil pun mulai melaju dan meninggalkan area restoran itu.
Masih di hotel G.
Rapat itu pun akhirnya selesai, Adrie bisa bernafas lega dua hari berturut turut membuat lelah pada tubuh dan otaknya. Adrie segara keluar dari ruangan rapat, dan melebarkan langkah nya untuk menemui Tiara yang berada dikamar hotel G.
" Sayang kau sudah selesai meetingnya?"
Tiara menyambut Adrie dan langsung memeluknya. Adrie pun membalas pelukan Tiara.
" Iya sayang."
" Kau sangat lelah istirahatlah dulu sebelum kau kembali kerumah mu."
Adrie mengangguk senyum.
" Aku ingin membersihkan tubuhku, baru kita makan!"
Adrie langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tiara menyiapkan diri nya dengan busana tidur seksi yang baru ia beli di mal terdekat hotel G sebelum ia ke hotel. Ia pun merebahkan tubuhnya kembali menunggu Adrie keluar dari kamar mandi.
Adrie sudah selesai membersihkan dirinya keluar dari kamar mandi melihat Tiara sudah memakai busana tidur yang sangat seksi. Namun entah kenapa Adrie sedang tidak bergairah. Ia pun langsung memakai baju bersih yang masih tersedia di dalam kopernya. Membuat Tiara bertanya?
Adrie tahu keinginan Tiara.
" Aku sangat lelah sayang, aku hanya ingin makan dan tidur sebentar lalu kita pulang."
" Hemm, baiklah kita makan dan segera pulang!" Tampak wajah Tiara terlihat kecewa.
Setelah berdua selesai makan, Adrie langsung merebahkan tubuh nya di ranjang hanya satu jam beristirahat. Setelah nya Adrie dan Tiara keluar dari kamar tidak ada adegan panas atau pun ciuman pada mereka berdua karena masing masing sedang dalam mood yang tidak berselera.
Pukul 6 sore Adrie sudah tiba dirumah.
TINN
Adrie membunyikan klakson, Buk Jum segera membuka pintu Garasi mobil untuk Tuannya itu.
" Selamat sore Tuan!"
" Sore Buk Jum, gimana kabarnya?"
" Baik Tuan!"
Adrie tidak melihat istrinya, biasa nya Ia sudah disambut oleh Lina berdiri didepan pintu.
" Istri saya sedang apa Buk Jum?"
" Eh..anu Tuan, Nyonya belum pulang, tadi siang sebelum keluar rumah pamit pada saya mau bertemu dengan teman nya, Tuan!"
" Dari tadi siang dan sampai sekarang belum tiba dirumah tidak seperti biasanya." Adrie bicara pada dirinya sendiri dalam hati, wajahnya seketika terlihat kecewa.
__ADS_1
" Baiklah Buk Jum, tolong bawakan koper saya dan sediakan air minum taruh saja dimeja ruang tv. Saya mau istirahat!"
" Baik Tuan."
Sakya dan Aileen nampak sedang belajar di kamarnya masing masing. Adrie hanya menengoknya sebentar kemudian ia duduk di sofa. Ponselnya baru dicas langsung ia aktifkan untuk menelpon Lina. Adrie segera menelpon Lina ingin menanyakan keberadaan nya, namun tidak tersambung. Ia juga mengirim pesan tapi pesan itu hanya centang satu.
" Kemana dia?, kenapa tidak mengabari ku?, satu harian ini dia tidak menanyakan keadaanku, bahkan tidak bisa dihubungi."
Membuat Adrie kesal, hingga waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Lina masih tidak bisa dihubungi. Anak anak Adrie sudah tidur setelah belajar. 30 menit kemudian Adrie yang masih belum bisa tidur menunggu Lina, mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah dan kemudian mobil itu langsung cepat melaju pergi, nampak Lina buru buru berjalan masuk kedalam rumah yang lampu ruangan tengah sudah padam.
Adrie yang sedang duduk menunggu bersiap menegur istrinya baru pulang.
CEKLEK
Suara pintu yang dibuka oleh Lina. Ia merasa takut pasti Adrie marah padanya. sebelum nya Lina sudah melihat mobil suaminya didalam garasi, namun ia tidak tahu jam berapa Adrie tiba dirumah. Lina yang tidak melihat kalau Adrie sedang duduk di sofa karena dalam keadaan gelap.
Sebelum masuk kamar, Lina meletakan makanan dari restoran Devis didapur.Dan saat Lina hendak masuk kamar, tiba tiba
CETEK
lampu ruangan itu menyala Lina kaget nampak Adrie sudah berdiri dekat sofa.
" Ahh, Bang kamu buat aku kaget."
Adrie diam saja, wajah nya sedang marah. Lina tahu suami nya akan memarahi nya.
" Abang belum tidur?, maaf kan aku baru pulang jam segini.
Adrie tetap dalam mode diam menatap Lina dengan nyalang. Dan mulai mendekati Lina.
" Dari mana saja kamu, Hahhh?"
" Maaf aku habis bertemu dengan teman Bang, kamu terjebak macet."
Adrie melihat Lina ada kebohongan diraut wajah nya.
" Kamu sedang tidak membohongi ku kan?, memang nya kamu bertemu teman dimana?, macet dimana?"
" Eh..di di, maaf aku tadi jalan ke daerah puncak memang tadi kamu terjebak macet sampai 3 jam."
" Puncak?, ada acara apa disana kenapa tidak mengabari ku, ponsel kamu tidak aktif."
" Kami hanya jalan dan makan saja, Bang ponsel ku habis batere. Maaf juga kalau tidak memberitahu mu."
Wajah Adrie masih terus menatap Lina dan menelisik setiap alasan jawaban Lina.
" Baiklah, aku pastikan alasan mu itu benar, jangan sampai kau membohongi ku, cuma saja aku kecewa pada mu kau tidak ada dirumah saat aku tiba. Apalagi sangat tidak pantas kau pulang terlalu malam."
" Baik lah maaf!, lain kali tidak akan terulang lagi. Aku janji."
Adrie mengangguk.
" Kemarilah!, aku ingin memeluk mu." Raut wajah Adrie masih belum berubah, masih tetap dingin.
Lina agak ragu mendekatkan tubuh nya tapi kemudian ia memeluk suaminya. Namun dibalik tubuh Lina wajah Adrie nampak menyiratkan bahwa, istrinya sedikit agak berbeda.
" Sebaiknya kita pergi tidur."
" Baiklah."
__ADS_1
Adrie mengeraikan pelukan nya. dan keduanya langsung memasuki kamar mereka.