
Author mau lanjut nih..tapi vote dong tinggalin jejak ok! biar Author cemungut ga apah deh mata melek begadang asal jangan Ampe juling😀 nahan ngantuk demi para penikmat baca novel teman tidur kalian😘😘 siiip lahh
❤️❤️❤️❤️❤️
Lina dan Devis kembali ke ruangan tamu, suara pintu kamar terbuka. Sakya baru bangun tidur siang sambil mengucek mata nya.
" Uncle Dev!!" .
Betapa senang nya Sakya melihat Devis datang. Devis langsung berdiri dan merentangkan kedua tangan nya untuk memeluk anak berkulit sawo matang itu.
" Hai Boy!, Uncle sangat merindukan kamu, bagaimana dengan sekolah mu, anak tampan?"
" Baik Uncle."
" Lihat lah diri mu sudah semakin besar tubuh mu juga tinggi."
" Iya Uncle aku makan sangat banyak."
" Bagus."
" Uncle, kapan datang?"
" Baru saja Uncle tiba."
Tidak lama kemudian Aileen dan Aldeen datang mereka terbangun karena mereka mendengar suara orang yang sudah di kenali oleh mereka.
" Uncle Devis!" Aileen dan Aldeen langsung memeluk Devis.
" Wohoho..kalian sudah bangun rupanya."
Devis langsung memberi kecupan pada anak anak yang manis dan lucu itu.
" Kalian tidak pernah nakal kan, pada mama kalian?"
" Never Uncle."
" Good."
" Uncle apa kah menginap?"
" Iya! Uncle akan menginap 3 hari saja."
Melihat kedekatan anak anak Lina dengan Devis, ia merasa bahagia sekali. Devis memang sangat sayang kepada mereka dan juga lemah lembut terhadap anak anak.
Anak anak Lina senang dengan Devis mereka berinteraksi, Aldeen yang di pangku Devis Aileen tangan nya mengusap kumis dan jambang Devis sedangkan Sakya yang sedang bermain gitar di sisi Devis. hingga petikan lantunan nada nada membuat Devis ikut bersenandung.
Hingga sore menjelang magrib Adrie tiba di rumah.
" Hai kak, jam berapa kakak tiba?"
" Siang tadi."
Lina sedang sibuk memasak di dapur Adrie berbincang bincang dengan Devis. Setelah selesai memasak Lina memanggil Adrie dan Devis juga anak anak mereka untuk makan malam.
" Kak aku bersih kan badan dulu."
__ADS_1
" Baik kami menunggu mu."
Makan malam mereka sambil berbincang bincang tentang perusahaan Devis dan juga pekerjaan Adrie.
" O' iya kakak ucapkan selamat kamu telah naik jabatan Drie di perusahaan Om Harry."
" Trimakasih Kak, iya Kak Adrie mau tanya apakah restoran Kakak di puncak Bogor milik Kakak?"
" Iya Drie itu benar, kau sudah tahu."
" Yaa, awal bulan puasa Adrie dan Om Harry adakan pertemuan dengan klien di sana. Adrie baru tahu Kak, dan juga Kakak memiliki restoran cabang di beberapa kota rupa nya. Apa itu benar?"
" Baru berjalan hampir 7 bulan itu pun kerjasama dengan investor Kakak nama nya Bapak Yudo."
" Lina sudah berkunjung ke restoran Kakak juga di puncak Bogor, benar kan sayang?"
Lina gugup namun ia berusaha sikap tenang.
" Euhmm..i iya Kak aku 3 Minggu lalu ke tempat restoran Kak Dev. Tempat nya sangat bagus."
" Bukan kah kau datang pada hari yang sama saat kamu ke restoran Kak Devis?"
" Iya kah? tapi kami tidak bertemu." Jawab Devis pura pura.
" Iya benar Bang, kami tidak bertemu dan aku juga tidak tahu resto itu milik Kak Dev, kalau aku tahu pasti di beri gratis."
" Iya pasti Kakak akan beri gratis."
" Kak, kalau boleh tahu apa Kakak sekarang sudah memiliki kekasih?, Karena Adrie sempat bertanya pada pelayan kalau Kakak datang bersama dengan wanita."
Lina mendengar nya semakin panik, Lina berharap Devis memberi jawaban yang masuk akal.
" Oh kenapa begitu?"
Devis sebelum menjawab mata nya melirik ke arah Lina.
" Karena wanita itu masih memiliki suami, Kakak ingin memiliki nya."
Adrie hanya mengangguk.
" Sayang kenapa dengan wajah mu, kau terlihat gugup."
" Ahh tidak apa apa Bang..aku bawa piring piring kotor dulu ke dapur."
Lina pun buru buru berdiri dan membawa piring kotor ke tempat cucian. Sampai di dapur ia menarik nafas dalam dalam untuk mengusir ke panikan nya. kerena pertanyaan suami nya yang di lontar kan ke Devis seperti ada kecurigaan
" Maafin aku Bang, aku sudah berbohong dan mulai mengkhianati mu." Lina bergumam.
Malam semakin larut, Devis yang sedang menonton tv sambil menyelesaikan pekerjaan di laptop di dalam kamar namun Devis mengingat ciuman nya pada Lina tadi siang, membuat hati nya membuncah ia memejamkan matanya membayang kan kembali sentuhan sentuhan dan kecupan kecupan pada Lina. Tubuh nya jadi meremang aliran darah nya mengalir cepat. Devis selalu ingin dekat pada Lina karena setiap berdekatan ia merasa sangat bergairah.
" Andai saja aku yang lebih dulu bertemu dengan mu, sebelum kau dengan Adrie." Devis bicara pada diri nya.
Devis kemudian keluar kamar dan membawa ponsel nya dan sebungkus rokok di tangan nya. Ia ingin mencari angin segar di teras, semua sudah tidur ruangan tengah sudah padam. Namun saat Devis melewati kamar suami istri itu, tiba tiba ia menghentikan langkah nya karena menangkap suara suara ******* dan suara erangan dari mulut Lina. Devis seketika dada nya bergemuruh ia tahu Lina dan Adrie sedang bercinta, muka nya merah menahan marah tangan nya mengepal ingin rasa nya Devis mendobrak pintu kamar itu. Devis cemburu.
Devis segera pergi dan duduk di teras sambil menyalakan sebatang rokok asap nya ia hisap dalam dalam dan di hembusnya kasar. Devis terdiam membayangkan Lina sedang bercinta dengan Adrie cukup membuat ia emosi. Darah nya berdesir sampai ke ubun ubun.
__ADS_1
Devis duduk membungkuk kedua sikut nya di letakkan pada kedua lutut nya.
" Sialll,." Devis bergumam kesal.
" Lihat saja kau Lina, Arghhh Bang*at."
Kemarahan dan kekesalan Devis karena cemburu membuat ia tidak sadar sampai sampai ia mematikan rokok itu bukan pada tempat abu rokok tapi dengan jari nya puntung rokok yang masih menyala itu ia hancurkan tanpa ia rasakan sakit dari panas bara api rokok itu.
Pagi hari nya Devis terbangun mendengar ketukan suara pintu. Devis baru bisa terlelap jam 3 pagi. Ia menggulat meregangkan otot ototnya dan melihat jam pada nakas pukul 10.
TOK TOK
" Uncle Dev Uncle Dev."
Suara Sakya memanggil dari balik pintu Devis segera memakai kaos dan segera membuka kan pintu. Ia tersenyum melihat anak tampan itu
" Pagi Uncle Dev."
" Hei morning Boy..you wanna see in my room?"
" May i?"
" Sure."
Sakya pun masuk melihat laptop dan berkas berkas di tempat tidur.
" Uncle sedang bekerja sampai larut malam rupa nya."
" Yup, Uncle masih harus mengerjakan pekerjaan sebelum Uncle berangkat ke Amsterdam."
" Amsterdam?, Uncle akan pulang?, kapan kembali lagi ke Jakarta?"
" Belum tahu, tapi pasti Uncle akan berkunjung ke sini."
" Uncle mau mandi dulu."
" Ok, mama sudah membuat sarapan di meja. Sakya pergi dulu."
" Ok Thanks."
Devis sudah berpakaian ia keluar dari kamar melihat di ruang makan tidak ada siapapun.
" Kemana mereka?"
Devis sarapan hanya sendirian selesai sarapan ia membawa piring kosong itu ke dapur. Tak lama Buk Inah muncul.
" Selamat siang Tuan Devis."
" Selamat siang Buk Inah, kemana mereka Buk Inah?"
" Oh Tuan Adrie sudah berangkat ke kantor Nyonya sedang berada di toko cabang Tuan."
" Oh, ya sudah."
" Permisi Tuan saya mau bersih bersih rumah."
__ADS_1
" Baik Buk Inah."
Devis pun segera menyusul Lina ke toko sembako cabang. dengan mobil mewah nya.