CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Terjalin kembali


__ADS_3

Namun baru saja Lina meminta berhenti dari perkelahian mereka, tiba tiba Lina pingsan.


Hingga akhir nya Devis dan Adrie sama sama khawatir karena Lina sudah tergeletak.


Lina tidak sadar kan diri, Devis dan Adrie panik kedua nya langsung melihat keadaan Lina dengan posisi lututnya seperti sujud . Telapak tangan Adrie menepuk nepukkan kedua pipi Lina.


" Lina..Lina, bangun sayang!"


" Sebaiknya cepat kita bawa ke dokter!"


Adrie mengangguk, kedua tangan nya langsung menggendong Lina seperti ala bridal. Devis melangkahkan kaki nya cepat untuk membukakan pintu untuk Adrie. Mobil segera di nyalakan, Devis langsung mengegas, mata nya sambil melihat arah ke jalan kiri dan kanan mencari rumah sakit terdekat. Tepat di area pintu keluar perumahan ada sebuah tempat Dokter praktek 24 jam. Devis langsung memarkirkan mobil nya. Adrie sambil menggendong Lina masuk dengan tergesa gesa.


" Dokter Dokter!"


Seorang perawat jaga menghampiri.


" Tolong istri saya, cepat!"


" Baik.


Devis mengikuti Adrie dan perawat masuk ke ruangan periksa.


" Tolong!, baringkan istri Bapak, kami akan memeriksanya."


Tidak lama kemudian seorang dokter datang, sambil mengalungkan stetoskop.


Adrie dan Devis berdiri yang tidak jauh dari ranjang periksa. Keduanya hanya diam memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Lina


Setelah selesai dokter memeriksanya. Adrie langsung menanyakan kondisi istri nya itu.


" Istri saya kenapa, dokter?"


" Dia hanya kelelahan, stres, dan mungkin sebelum nya istri bapak mengalami hal yang membuat dia takut dan cemas sehingga peredaran darah tidak teratur kurang nya asupan oksigen pada otak, tekanan darah nya menurun.


" Saya akan memasukan selang oksigen pada pasien."


Perawat di sisi dokter ingin membuka bra Lina agar terasa nyaman pada pernafasan.


" Maaf, saya mohon Bapak tunggu di luar!"


Adrie dan Devis menuruti perintah perawat itu untuk keluar dari ruangan. Mereka duduk di kursi tunggu pasien yang tidak jauh dari ruangan kamar periksa, Adrie dan Devis masih saling diam. Mereka berdua merenungi yang telah terjadi atas perkelahian mereka. Devis menoleh pada Adrie yang menunduk kan kepala. Devis pun beranjak meninggalkan Adrie, lima menit kemudian Devis membawakan dua botol air mineral kemudian Devis sodorkan satu botol itu untuk Adrie.


" Ini, minumlah!, biar kau tenang."

__ADS_1


Adrie kemudian menoleh pada Devis, kedua mata Adrie menatap Devis se saat dan menghela menghela nafas. Tangan nya menerima botol air mineral itu dan mengangguk satu kali sebagai ungkapan terima kasih.


" Terimakasih, Kak!"


Devis pun tersenyum, Adrie sambil buka botol air itu bertanya.


" Kenapa Kakak tersenyum?, Kakak senang melihat ku menderita?"


Devis malah mengembangkan kedua sudut bibir nya. Tangan nya menepuk bahu Adrie dua kali.


" Kita ini saudara sepupu, tidak seharusnya adu jontos, Drie."


" Yaa, kau menonjok sudut bibir ku, sial!"


Devis masih tertawa namun pelan.


" Dan kau meninju tepat di pelipis mata ku, adil kan?"


Adrie ingin tertawa namun sudut bibir nya terasa sakit


" Hehe..aww." Tangan Adrie langsung menyentuh sudut bibir nya yang timbul kebiruan.


Kemudian Adrie dan Devis kembali terdiam, sejenak. Giliran Adrie yang memulai percakapan.


" Lancar saja, trimaksih Drie."


Kemudian perawat membuka pintu kamar periksa.


" Keluarga dari pasien Ibu Lina!"


Sontak Adrie dan Devis menoleh pada perawat.


Dan kedua nya menghampiri.


" Bagaimana dengan istri saya, suster?"


" Istri anda sudah sadar, silahkan boleh masuk!"


Adrie yang lebih dulu masuk menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur, Devis berdiri di belakang Adrie.


" Sayang, kau sudah sadar?"


Lina yang masih lemah, menatap Adrie lalu pindah menatap Devis. Dua pria gagah dan tampan itu sedang menatap nya, dalam pikiran Lina, Lina menyimpulkan dua saudara sepupu kini sudah terlihat baik tidak ada lagi aura permusuhan.

__ADS_1


" Apa yang terjadi padaku?, kenapa aku ada di sini?"


" Kau tadi tidak sadarkan diri."


" Maksud mu, aku pingsan?"


Adrie memegang punggung tangan Lina dan mengecup nya, lalu membelai pipi Lina dengan lembut. Hingga kedua mata Lina menatap kedua netra Adrie. Devis yang masih berdiri belum mengeluarkan sepatah kata pun, melihat Lina dan Adrie bersentuhan ia menjadi tidak berdaya sekaligus empati. Hingga ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan membiarkan Adrie dan Lina bicara.


" Sayang!" ucap Adrie lembut. " Maaf kan. aku!"


aku memang suami yang egois, brengsek dan kasar pada mu, entahlah?, apakah aku masih pantas di maaf kan oleh mu atau tidak?"


Lina terdiam menatap lekat lekat mata Adrie.


" Aku kesepian, aku sungguh tidak sanggup!. Aku sadar, aku butuh kalian!. Maukah kau kembali pada ku?, demi anak anak kita?, aku berjanji tidak akan lagi menyakiti mu."


seketika mata Adrie berkaca kaca.


Lina yang belum memutuskan tatapan nya, mencari kesungguhan pada kedua mata suami nya. Mendengar ucapan Adrie, pria yang sudah di nikahi nya hampir 13 tahun ini, apakah sungguh sungguh sudah menyesal?.


" Kembali lah pulang!, sayang aku merindukan kalian semua" ucapan Adrie terjeda ia menarik nafas dan di hembusnya pelan.


" Selama ini aku sudah bodoh, sudah membiarkan kalian begitu saja. Aku tidak mau kehilangan mu lagi, Lina..sungguh!, dan aku tidak akan membiarkan Devis menyentuh mu lagi. Aku sadar aku cemburu, aku tidak sanggup kau dekat dengan nya!, aku masih menyayangi mu. Percayalah!"


Tangan Lina terulur jari nya menghapus air mata Adrie yang sudah disudut matanya.


Kini Lina yakin akan kesungguhan Adrie, Lina kini memaafkan Adrie. Dengan syarat.


" Aku akan memaafkan mu, Bang! tapi dengan syarat."


" Apa itu?"


" Kau harus melepaskan, Tiara!. Tidak ada lagi bayang bayang Tiara di pikiran mu, di kehidupan mu, dari sekarang dan seterusnya!. Dan kau harus berjanji!"


Adrie terkesiap dengan ucapan Lina, itu artinya Lina benar benar mau memaafkan nya. Adrie tidak akan menyia nyiakan kan nya lagi, bagi nya ini adalah kesempatan Adrie untuk membenahinya. Dan tidak mau jatuh kedua kali nya, selagi masih ada nafas.


" Baik lah, aku berjanji!, demi kamu dan anak anak kita. Aku akan melepaskan Tiara demi apapun itu. Secepat nya, aku akan bicara pada nya!. Abang sadar!, tidak wanita yang lebih baik dari kamu, Lina!. Tidak ada wanita yang lebih baik dari istri ku, sendiri. Ibu dari anak anak ku."


Lina tersenyum kemudian kedua tangan Lina ingin memeluk Adrie. Adrie mengangkat bokong nya dari duduknya dan memeluk istri nya erat erat. Wajah kedua nya semakin dekat, Adrie memajukan bibir nya mencium bibir Lina dan **********.


Sedangkan Devis yang masih berdiri sedari tadi mendengarkan pembicaraan hati ke hati suami istri itu, ia diam termenung. Kemudian ia melangkah dengan gontai ingin duduk. Devis lalu tersenyum, tersenyum merutuki kebodohan nya. Devis tersenyum dengan kebahagiaan mereka yang kembali terjalin. Ia merasa sia sia dengan apa yang sudah di buat nya untuk membahagiakan Lina, tapi dari dalam lubuk nya ia masih mencintai, Lina.


Ia hanya berharap akan ada masa nya. Bila memang Tuhan mengijinkan Lina menjadi milik nya, ia yakin!, ia akan datang dengan sendiri nya. Who Knows!.

__ADS_1


__ADS_2