CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Sikap Devis berubah pada Lina


__ADS_3

TING TONG


Pintu itu di buka Lina lebar lebar nampak sosok Devis dan sekertaris Johan sudah berdiri dengan gagahnya. Devis dengan kacamata baca bening yang bertengger di hidung mancung nya sangat pas pada bentuk wajah rectangle di tambah kumis tipis dan bulu bulu di pipi tirus dan dagunya yang terlihat mulai tumbuh menambah kesan pria ini adalah pria sibuk dengan pekerjaan nya.


" Kak Dev?"


" Apa kabar Lina?" sorot matanya tajam dan dingin.


" Ba- baik Kak Dev." Lina melihat Devis ada perubahan pada sikapnya. Membuat Lina seperti asing pada Devis.


Tak lama kemudian Sakya Aileen dan Aldeen keluar menghampiri uncle mereka ketiga anak itu berhamburan menyambut Devis dengan wajah gembira.


" Uncle Dev!" seru Sakya dan Aileen.


Devis lalu merentangkan kedua tangan nya memeluk Sakya dan Aileen.


" How are you guys?"


" Good Uncle."


Devis tersenyum kepada Sakya dan Aileen, Devis kemudian berjongkok untuk memeluk Aldeen yang ingin minta di peluk oleh pamannya yang tampan itu.


" Apa kabar my little Boy?" Devis membelai rambut Aldeen sambil mengecup anak bontot Lina.


" Im good, uncle."


Devis kemudian mengajak tiga anak itu masuk dan duduk di ruang tamu. Lina yang masih memegang daun pintu menatap Devis yang lewat di hadapan nya hanya terdiam. Devis ada perubahan pada sikapnya yang dingin ia hanya tersenyum pada anak anak nya saja.


Lina duduk berhadapan dengan Devis yang mengajak bicara pada Sakya dan Aileen Devis memangku Aldeen.


" Dengarkan uncle baik baik!" ucap nya pada ketiga anak itu.


" Kalian harus membantu mama dalam artian belajar yang rajin dan jangan nakal yaa!, Papa kalian sudah senang di surga, buatlah papa kalian tersenyum di sana, oke!"

__ADS_1


Ketiga anak itu mengangguk mengerti dengan ucapan paman nya itu.


" Baik uncle."


" Good!"


Mata Lina memandangi interaksi ketiga anak nya dengan Devis hatinya pun menghangat.


Devis kini mata nya beralih pada sosok Lina yang duduk terdiam ia masih terlihat kesedihan di raut wajahnya


Devis kemudian meminta ketiga anak itu untuk mendekat kewajah nya, ia ingin mengatakan sesuatu dengan berbisik.


" Guys mendekat!,


Mereka tampak seperti sedang berembuk.


" Apa Mama kalian masih menangis?"


Ketiga anak itu mengangguk


" Kalian tidak menghibur Mama kalian?, Hem?"


Ketiga anak itu bingung.


" Oh aku tahu, berikan saja mama coklat biar Mama tidak lagi bersedih." Ucap Aileen.


" Eem, boleh juga." Devis mengangguk dan tersenyum.


" Apa Uncle boleh memeluk Mama kalian?"


" Emm, boleh Uncle!"


" Oke, kalian pergilah kamar kalian!"

__ADS_1


Ketiga anak yang sangat polos itu, menurut kemudian berdiri dan meninggalkan Devis dan Lina di ruang tamu. Devis kemudian menghampiri Lina yang masih diam dan menunduk. Tanpa Lina sadari Devis sudah berdiri di dekat nya.


" Lina."


" Euh?, iya." Lina mendongak.


" Kemarilah!"


Lina kemudian berdiri dan perlahan mendekat pada Devis. Devis kemudian menatap wajah Lina lekat lekat. Mata Lina meredup Lina tidak tahu apa yang ingin Devis bicarakan.


" Boleh aku memeluk mu?" pinta Devis.


Lina mengangguk lalu tubuh nya ingin menerima pelukan Devis dan menumpahkan segala kesedihan yang membuat sesak di dadanya, Devis langsung memeluk Lina erat. Lina meletakkan kepala di bahu Devis. Tidak bisa di tahan lagi, Lina menangis di pelukan Devis, Lina terisak sesegukan kemeja Devis basah oleh air mata Lina. Devis membiarkan Lina dalam pelukan nya sampai tangisan Lina reda. Ia juga pernah merasakan bagaimana rasanya di tinggal oleh seseorang yang dicintainya saat istrinya meninggal dulu. Devis tahu dengan menangis akan hilang rasa sesak di dada wanita yang masih ia cintai itu.


Lina kemudian melepas pelukan Devis, ia menunduk, rasa nya ia malu juga menangis dipelukan Devis. Devis menatap wajah Lina mata nya terlihat sembab.


" Sudah nangis nya?"


Lina menatap wajah Devis, bibirnya sedikit senyum. ia pun kembali menundukkan kepala menutupi rasa malu di wajahnya yang masih ada air mata di kedua sudut matanya


" Lina lihat aku!"


Wajah Lina pun kembali menatap Devis. Ibu jari Devis mengusap air mata Lina.


" Cukup hari ini kau bersedih dan menangis."


" Iya, Kak!"


" Aku tidak bisa lama lama, ada urusan yang harus aku selesaikan di Amsterdam, dan maaf aku tidak bisa menginap!"


Lina mengangguk, ia mengerti Devis memang orang sibuk karena bisnis nya. Lina sendiri tidak berani mengatakan kapan ia akan kembali ke Jakarta. Karena Lina melihat perubahan sikap Devis bukanlah sikap perlakuannya yang dulu ingin mengejar cintanya. Sikap yang di lakukan nya hari ini hanya sikap yang tidak lebih hanya sebagai seorang Kakak saja.


Devis sendiri pun ingin mencium bibir manis Lina saat ia memeluknya. Dari sejak kedatangan nya ia sangat rindu pada Lina, rasa nya ia ingin menerkam tubuh Lina mencium dan bercinta dengan nya. Tapi Devis tahan ia tutupi dengan sikap dinginnya agar Lina melihat dirinya biasa saja. Devis hanya tidak mau rasanya tidak pantas saja mengambil kesempatan itu, ia takut Lina menolak dan marah pada nya. Tapi Devis akan menarik Lina kembali kedekapan nya dan tidak akan melepaskannya. Lina sudah menyandang status janda, itu akan memudahkannya. Sampai di Amsterdam nanti ia akan memantau Lina. Karena ia takut Lina pasti akan di dekati pria lain. Devis tinggal menunggu waktu yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2