
" Dev, apa yang ingin kau bicara kan?"
Devis kemudian menghadapkan tubuh dan wajah Lina pada Devis, rambut Lina ia sampir kan yang menutup kening karena hembusan angin laut.
Lalu Devis menggenggam kedua tangan Lina
" Mau kah kau menjadi istri ku?"
" Euh?, Lina menatap kedua mata Devis, sorot mata Devis ada kesungguhan.
Lina tersenyum pada Devis, tapi kemudian wajah nya nampak ada yang mengganggu dalam pikiran nya.
" Kau mau?" Devis belum memutuskan pandangan nya.
" Katakan?"
" Tapi..apa tidak terlalu cepat, Adrie meninggalkan aku baru beberapa bulan, Dev?
Devis tersenyum, ia mengerti perasaan wanita nya.
" Aku bertanya dulu? bukan langsung untuk menikahi mu."
" Ahh Ya ampun, kau jahat ihh." Lina jadi malu terjebak dengan pertanyaan Devis.
Keduanya tertawa lebar, Devis ingin tahu dulu hati Lina seberapa dalam cinta nya untuk nya.
" Tentu sayang, kita butuh waktu yang tepat bagaimana menurut mu?"
" Tahun depan apa bisa kita menikah, Dev?"
" Tahun depan?, kalau tiba tiba kau sudah hamil, kau mau menunggu sampai tahun depan?"
" Hah?,
" Aku tidak mau menunggu terlalu lama, sayang."
__ADS_1
Devis kemudian merogoh kantong celana nya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah maroon. Lina memperhatikan kotak kecil itu, dan hatinya bertanya tanya?.
Lalu Devis membuka kotak itu terlihat sebuah cincin berlian Devis melepaskan himpitan dari kotak nya, lalu meraih jari jari Lina kemudian ia sematkan di jari manis kanan Lina.
" Ini sebagai tanda aku serius pada mu, tidak apa kan aku mengikat mu dengan cincin ini?, kalau kau adalah milik ku, agar kau tahu tidak ada lagi yang boleh mendekati mu selama aku jauh dari mu."
Lina tersenyum bola mata nya menatap dalam manik Devis
" Iya Dev, aku senang menerima nya asal kau jangan melupakan ku, aku selalu mengingat mu..jagalah cinta mu untuk ku sampai kau datang kembali dan memintaku untuk menjadi istri mu."
" Pasti aku janji!, terima kasih sayang..semoga tidak ada halangan apa pun."
Devis meraih pinggang Lina dan mendekap nya erat, lalu kedua bibir mereka menyatu. Devis menarik leher belakang Lina agar memperdalam pagutan nya, karena ciuman ini sebagai tanda perpisahan mereka karena kedua nya akan kembali pulang.
😍😍😍
Jakarta.
Lina sudah kembali ke rutinitas nya, pagi pagi ia sudah membuat sarapan dan bekal makanan yang akan di bawa untuk anak anak nya. Setalah Sakya di jemput oleh mobil jemputan sekolah nya, Lina mengantar sekolah Aileen dan Aldeen. Selesai mengantar Aileen dan Aldeen, mobil nya menuju ke pemakaman umum Lina ingin melihat tempat peristirahatan terakhir suami nya. Dengan membawa serangkaian bunga juga bunga untuk menabur.
Makam Adrie terlihat sangat rapih dengan rumput yang sudah di pangkas rapih, Lina kemudian berjongkok tangan nya membelai batu nisan itu dengan lembut lalu meletakan rangkaian bunga pada sisi batu nisan.
Walau Adrie dulu pernah menyakitinya, dan mengecewakan nya tapi Adrie masih menyayangi sampai akhir hayat nya. Rasa kecewa dari pengkhianatan Adrie hilang begitu saja pada diri Lina. Justru perih yang dia rasakan karena di tinggalkan Adrie selamanya. Rasa benci terpendam oleh rasa rindu nya yang amat sangat pada almarhum Adrie.
" Bang, maaf aku kesini tidak membawa anak anak, mereka mulai tumbuh besar tanpa ada nya kau lagi."
" Aku mau bilang Devis kini yang akan menjaga ku dan anak anak, dia sangat mencintai ku. Haaahh..andai kita bisa bertemu walau dalam mimpi saja aku ingin meminta kau memeluk ku."
Tanpa di tahan air mata Lina sudah jatuh tangan nya buru buru mengusap air matanya. Lina berdiri ia menaburkan bunga itu sampai habis di dalam kantong itu.
Lina meninggalkan makam suaminya, ia tak sanggup berlama lama karena pasti akan terus bersedih dan menangis.
Lina kini berada di rukonya, ia ingin mengecek laporan salon dan butiknya selama satu Minggu ia tinggal kan untuk berlibur. Selesai mengecek hasil laporan Lina turun melihat salon nya, sudah ada orang pelanggan untuk potong rambut nya ada juga yang meminta di creambath dan ada juga minta di warnai rambut nya.
Setelah nya ia masuk ke ruko sebelah nya ia akan melihat pakaian pakaian yang model trend masa kini.
__ADS_1
Saat Lina sedang berbincang pada dua pegawai nya sebuah mobil sedan Mercedes Benz berhenti tepat di ruko butik Lina.
" Permisi." ucap pria pemilik mobil Mercedes Benz yang sudah masuk melihat melihat pakaian untuk pria tersebut.
Mendengar suara seorang pembeli Lina menghampiri orang itu, seorang pria tampan dengan tubuh tegap.
" Ada yang bisa saya bantu?'
Pria itu melepaskan kacamata hitamnya dan mulai menatap Lina.
" Maaf tolong Carikan kemeja yang cocok untuk saya, saya ada rapat penting hari ini karena mendadak saya baru pulang dan tidak sempat lagi untuk kembali ke rumah untuk ganti pakaian saya jadi..saya hanya melihat butik ini saja kebetulan saya lewat sini saya tidak ada waktu lagi untuk mencari tempat lain."
" Oh begitu..baik mari saya bantu carikan kemeja yang cocok untuk anda meeting hari ini."
Lina dengan cepat tangan nya mencari kemeja yang pas dengan tinggi badan tubuh pria itu. Ia ingat ukuran baju nya tidak jauh dengan ukuran badan Devis atau almarhum Adrie.
Lina kemudian mendapatkan kemeja dan warna yang cocok untuk pria itu. Kemeja model slim fit berwarna abu abu gelap.
Pria itu langsung setuju dengan kemeja pilihan Lina
" Ini bagus saya suka, o iya tolong sekalian dengan celana nya saya tidak mungkin rapat dengan celana jeans ini."
Lina tersenyum ramah pada pria itu.
" Ok baik lah, sebentar Tuan!"
Pria itu hanya mengangguk dan mulai menunggu Lina yang sedang memilih celana untuk nya. Hanya beberapa detik Lina sudah mendapat celana dan warna nya yang pas di padukan dengan kemeja tadi.
" Ini Tuan, warna nya sangat pas di padupadan kan dengan kemeja nya."
" Iya terimakasih, boleh saya ganti di sini saja."
" Tentu boleh Tuan, mari saya tunjukan ke kamar ganti."
Pria itu sudah berganti pakaian, ia sangat puas dengan pilihan Lina
__ADS_1
" Terima kasih ya!, sudah bantu saya."
" Sama sama dengan senang hati, kami membantu Tuan."