
Hujan deras dan angin kencang telah melanda di kota D. Setelah acara launching restoran baru Devis, Lina memutuskan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore. Devis mengantar Lina pulang, namun Jalur yang Devis tempuh mengalami kemacetan yang panjang. Padahal jalur tersebut bukan lah jalur yang setiap hari mengalami kemacetan. Ternyata penyebab kemacetan adanya sebuah pohon tumbang yang di sebabkan angin kencang.
" Tidak biasa nya jalur di sini mengalami kemacetan panjang."
" Mungkin karena hujan deras, kendaraan jalan melambat, Dev."
" Tapi...kendaraan di depan sedikit pun tidak bergerak, sayang."
Lima belas menit kemudian. Mobil Devis dan kendaraan lain nya mulai jalan, namun hanya satu menit tersendat kembali. Mobil Devis dan kendaraan lain berhenti. Rupanya penglihatan Devis dari dalam mobil ada sebuah pohon yang tumbang.
" Pantas saja!, penyebab macet ada pohon tumbang di depan sana." Ucap Devis.
" O...iya ya?,
Nampak para supir truk yang dan supir lain turun untuk menyingkir kan pohon tersebut.
" Lihat, Dev!, orang orang di sana ingin menyingkirkan pohon itu."
" Kau tunggu di sini!, aku akan membantu mereka."
" Kau yakin?"
" Iya sayang."
Devis langsung meraih jaket hoodie untuk melindungi tubuh dan kepala dari curah hujan yang mulai ringan, dan bergegas keluar dari dalam mobil. Lina nampak memperhatikan Devis mengatur orang orang itu dengan tehnik cara Devis menyingkirkan pohon tumbang itu. Terdengar suara Devis yang memberi aba aba.
" Siap ya, Bapak Bapak!, 1 2 3."
Delapan orang pria mengerahkan tenaga nya mengangkat pohon itu di sisi jalan. Setelah pohon itu berhasil di singkirkan nampak mereka mengembangkan senyum dan saling berjabat tangan, saling berucap terima kasih. Devis kembali menuju mobil. lima menit kendaraan kembali lancar.
" Kalau pohon itu tidak segera di singkirkan. entah berapa jam?, kita stuck di sini ." Devis berucap sambil menghidupkan mobil.
Lina memperhatikan wajah Devis yang bercucuran keringat, ia mengambil selembar tisu dan mengelap ke wajah Devis.
" Terimakasih sayang."
Mobil Devis telah berhenti di jalan aspal tepat depan rumah Lina.
" Terimakasih ya, Dev!, sudah mengantar ku pulang."
Tangan kanan Lina sudah siap buka pintu mobil, namun Devis menahan Lina.
" Lina, sebentar!"
" Euh? iya , Dev?"
Devis nampak ingin bicara pada Lina sebelum Lina turun dan masuk kerumah nya.
Devis menggenggam kedua tangan Lina.
" Seandainya..nanti terjadi sesuatu pada mu, beritahu pada ku!. Aku akan melindungi mu dan menjaga mu."
Lina menatap Devis, seakan ada kekuatiran di diri Devis untuk nya.
" Berjanjilah pada ku!". ucap Devis yang belum memutuskan tatapan nya pada Lina, seraya tangan nya membelai rambut Lina. lembut.
" Baik lah, Dev." Lina lalu menurunkan tatapan mata nya dari Devis, dan mengangguk senyum.
" Aku masuk dulu!"
__ADS_1
Lina kembali buka pintu mobil yang sempat tertunda tadi. Dan melangkah masuk kedalam rumah nya.
Setelah menghilang dari pandangan Devis, Devis segera melajukan mobil nya.
Tanpa di sadari seseorang dari dalam mobil memperhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dan orang itu mengenal pemilik mobil mewah yang baru saja menurunkan seorang perempuan tepat di rumah perempuan itu.
Lina sudah membersihkan tubuh nya, ia pun menuju ke kamar anak anak nya. Lina membuka pintu kamar Sakya di lihat nya Sakya sedang serius belajar di meja nya, Lina tidak ingin mengganggu dan menutup kembali pintu kamar Sakya.
Lalu Lina mengecek kamar Aileen yang juga sama sedang belajar.
" Mama sudah pulang?" Ucap Aileen sambil menutup buku yang baru di tulis nya.
" Iya, sayang" Tangan Lina membelai rambut Aileen.
" Kau sedang belajar apa?"
" Pr matematika, mam. Tapi sudah selesai."
Lina hanya mengangguk dan tatapan beralih pada anak bungsu nya yang sudah terlelap. Lina membelai rambut Aldeen di lihat buku pelajaran nya terbuka Lina membereskan buku buku Aldeen dan menyimpan nya di meja.
" Kalau sudah selesai belajar, tidur lah! ini sudah pukul 9 malam."
" Iya Mam."
Lina keluar dari kamar Aileen dan mengambil buku besar untuk mengecek pembukuan sebelum ia tidur. Tapi tidak lama suara deru mobil dan membunyikan klakson.
TiiN
Buk Jum sudah mengira itu mobil Tuannya. Dengan segera Buk Jum membuka kan pintu garasi untuk Tuannya itu.
" Malam Tuan."
Lina segera berdiri di ambang pintu, tidak menduga kalau suami nya pulang. Adrie turun dari mobil namun wajah Adrie nampak sedang tidak ramah.
" Bang, kau sudah pulang?"
" Hem."
Hanya itu jawaban dari Adrie dan langsung masuk mengabaikan istri nya yang masih berdiri di depan pintu. Lina kemudian menyusul Adrie yang sedang melepaskan ikatan dasi di leher nya.
" Abang ingin makan?"
" Tidak usah!, Abang sudah makan di luar."
Adrie berlalu begitu saja dan masuk kamar untuk segera mandi. Lina melihat Adrie, heran. Apa terjadi sesuatu pada suami nya?. Lina ikut masuk kamar dan menyiapkan pakaian ganti untuk suami nya.
Lina duduk di sisi ranjang menunggu suami nya sedang membersihkan tubuh nya di kamar mandi.
CEKLEK
Suara pintu kamar mandi.
Adrie sudah selesai membersih kan tubuh nya dan keluar. Lina berdiri untuk memberikan baju ganti untuk Adrie.
" Ini baju nya, Bang!"
Adrie menerima baju itu dan memakai nya, Adrie segera menuju ranjang merebahkan tubuh nya. Tanpa melihat Lina yang masih berdiri.
" Aku lelah mau tidur."
__ADS_1
Lina hanya diam, melihat Adrie yang tidur nya menyamping. Lina merasa gelisah apa yang sedang terjadi pada suami nya kini?"
" Baik lah!". Lina memadamkan lampu kamar dan ikut merebahkan tubuh nya
Pagi hari Lina bangun, dan melihat jam sudah pukul 6. Di lihat di sisi nya Adrie sudah tidak ada. Lina beranjak dan menyegarkan tubuh nya, kemudian Ia mencari Adrie. Lina mengira Adrie sudah mandi dan sedang sarapan. Namun Lina keluar Adrie tidak ada di meja makan.
Lina pun bertanya pada Bik Jum.
" Buk Jum, Bapak sudah sarapan?"
" Euh..iya Nyonya, Tuan sudah berangkat ke kantor."
" Bapak sudah berangkat?"
" Iya, Nyonya. Permisi Nyonya mau kebelakang dulu."
" Iya, Buk Jum."
Lina duduk terdiam memikirkan suami nya. Adrie tidak membangunkan nya dari tidur, dan aneh tidak biasa nya Adrie tidak pamit pada Lina saat berangkat ke kantor.
" Heuhhh.." Lina menghela nafas nya.
Sampai di kantor Adrie duduk di meja kebesarannya, dan mengeluarkan ponsel nya untuk menelpon seseorang.
" Halo, saya butuh bantuan anda!"
" Baik Pak."
" Temui saya, Sesudah jam makan siang!"
" Siap, Pak!"
Adrie kemudian mengangkat gagang telepon disisi meja kerja nya. Meminta sekretaris nya untuk masuk keruangan Adrie.
" Pagi Pak."
" Saya mau bicara!"
Adrie meletakan kembali gagang telepon itu.
TOK TOK
" Masuk!"
" Duduk dulu, Indah!"
" Baik Pak."
" Hari ini, apa jadwal ku?"
" Hari ini ada klien Pak Harry, sudah janji temu pada Bapak."
" Baik, lalu?"
" Ada rapat selesai makan siang, Pak."
" Tolong di undur jam rapat sesudah makan siang!"
" Baik, Pak!. Dan ada beberapa dokumen yang harus Bapak Tanda tangani."
__ADS_1
" Iya, taruh saja di meja!"