CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Diam diam suka


__ADS_3

Pesawat yang membawa Davis dari Bandara International Schiphol selama 14 Jam Siap Landing, Adrie segera menjemput Davis. Kebetulan ini Jam pulang Kantor, Adrie sedikit santai karna jarak dari kantor Gudang Cargo ke Terminal sangat dekat. Ia sudah hapal betul area Bandara Kartu Pass yang dia miliki memudahkan Adrie memasuki Area terminal manapun.


Dari kejauhan nampak tubuh tegap Davis berjalan membawa Tas Koper ,dan Kacamata hitam bertengger di hidung mancung nya menambah ketampanan pada wajah Devis, hingga banyak pasang mata melirik ke arah nya terutama kaum hawa.


Adrie langsung melambaikan tangan memberi tanda agar Davis melihat kearah Adrie.


" Kak Devis !


" Hai Dek Adrie..!


Berdua toss tangan seperti ala ala anak geng gerakan Hi Five nya mereka masih ingat dan di akhiri dengan berpelukan.


" Wow! kau nampak sedikit gemuk rupanya dari sebelum aku liat terakhir enam tahun lalu."


" Hahaha iya kak! banyak yang mengatakan itu pada ku, aku sedikit berisi."


Kakak nampak sehat dan bugar?"


" Yup! olah raga melatih otot masih sering kakak lakukan Drie."


" Ayo kak! taxi yang ku pesan sudah menunggu."


Sampai di kediaman rumah Adrie, Abrey dan Michel langsung menyambut Devis.


mereka cipika cipiki berbincang bincang di ruang keluarga.


" Tidak ada yang berubah dirumah ini? kakak senang bisa bertemu kalian."


" Kak Davis akan tinggal selama dua hari disini?"


" Iya Drie, setelahnya kakak akan menempati rumah kakak di Jakarta selama satu bulan.


Tak lama Lina bersama Sakya dan Aileen datang. Adrie mengirim pesan pada istrinya untuk menemui Davis, karena Adrie ingin memperkenal kan pada sepupunya itu.


" Nah! itu mereka datang, kak kenalkan ini istriku namanya Lina."


Davis berdiri dan memberi tangan untuk salaman pada Lina


" Hai kak Devis aku Lina."


" Devis."


Saat mata Devis tertuju pada Lina, ia kagum dengan kecantikannya.


" Cantik!. Devis bicara dalam hati.


" Dan ini anak anak ku.. Sakya, Aileen salaman dulu sama Uncle Devis!"


"Anak anak mu sangat menggemaskan Drie."


Saat Lina mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Adrie, mata Devis masih terus menatap ke Lina.


" Mari kak! kita makan siang, kakak pasti sudah lapar' kan?"


" Buk Jum makan siang sudah siap kah?" Ucap Lina ke ART nya.


" Sudah Nyah!..saya juga sudah menyiapkan kamar untuk Tuan Devis."


" Trimakasih! ya buk Jum."


" Mari Tuan Devis biar kopernya saya bawa ke kamar Tuan." ucap buk Jumiah sopan.


" Trimakasih Bu!"


Dalam Toko Lina sedang duduk di meja kasir. Devis menghampiri Lina.


" Wah! hebat toko kamu ramai juga."


Lina sedikit kaget dan menoleh ke Devis sudah berada di sampingnya.


" Eh..! kak Devis, Puji Tuhan kak."


Lina kemudian berdiri disamping Devis, saat Lina disamping Devis ia merasa hatinya bergetar merasa ada kenyamanan saat Lina bicara padanya.


" Kami juga buka toko cabang kak! letak nya tidak jauh didepan jalan raya perumahan ini."


Devis mengangguk anggukkan kepala. Tak cuma kagum usaha Lina yang di kelola, tapi ia juga terpana saat Lina bicara. Bibirnya yang manis membuat Devis ingin mengecupnya. Namun ia menggelengkan kepala untuk menepis buaiannya, ia sadar wanita ini adalah istri dari sepupunya.

__ADS_1


" Adrie dimana?...aku belum melihatnya dari tadi."


" Bang Adrie lagi di toko cabang kak, ia sedang membantu pegawai di sana."


" Oh...pantas saja!"


Lesti yang sibuk menata barang barang di rak, matanya tidak sengaja melihat ke Devis.


" Wow! siapa yaa laki laki itu? ganteng banget, keren lagi orangnya, kok aku baru liat ya?"


" Sst..! liatin siapa lu Les?"


" Sur siapa laki laki itu sedang bicara dengan Bu Lina?"


" Hhm..itu Tuan Devis, sepupunya Pak Adrie dari Belanda baru datang kemarin."


" Waduhh..! dari Belanda Sur? jauh yaa datang kesini ke Indonesia."


Lesti yang masih melihat ke arah Devis, kaki nya tersandung Dus berisi Mie instan saat jalan.


Brukkk ! Lesti jatuh tersungkur dengan posisi wajah ke lantai.


Sontak menjadi perhatian pembeli dan juga Surya, mereka menertawakan Lesti yang sudah berada dibawah. Devis dan Lina pun buru buru menghampiri Lesti.


" Aduh Pinggang ku sakit!!!


" Yaa ampun Lesti kamu kenapa? bisa jatuh..Sur tolong bantuin Lesti !"


Surya yang masih menahan ketawa tidak tega juga pada Lesti.


Lina, Devis dan Surya membantu Lesti berdiri.


" Lain kali hati hati dong les!"


" I i yaa Buu..!" Ucap Lesti yang kesakitan.


" Kamu tidak apa apa kan?"


Devis menanyakan kondisi Lesti, wajah Lesti langsung merona melihat Devis bicara jarak dekat dengan wajah Lesti, Ia membalas ucapan Devis dengan manja seperti anak kecil.


" Angghhh! Tuan Devis pinggang ku sakit huuu."


" Iya Tuan...Awww sakit hiiiiiks Tuan, huuuu kaki sayaahh sakit."


" Sini pegang tangan saya! saya bantu berdiri."


Devis memapah Lesti sampai di meja Kasir.


" Trimakasih Tuan Devis!"


Senyum Lesti mengembang sengaja bibirnya dibuat manis ke Devis.


" Beuuhhh..! lebay lu." Surya melirik ke Lesti.


" Biarin Napahh!"


" Emang enak jatoh, makanya pake kacamata kuda, Dus segitu besar kagak liat?"


Hahaha..Lesti Lesti, ada ada aja lu! bikin gua ngakak."


" Awas! lu Sur..belum aja kena bogem sama gua, bisa bisa hidung elu pindah ke jidat."


Alhasil membuat Lina dan Devis serta pembeli dalam toko itu tertawa mendengar banyolan mereka, bak seperti menonton drama Betawi.


Malam hari Devis dan keluarga Adrie baru selesai bersantap makan malam, mereka pindah menuju ke ruang keluarga.


Sakya dan Aileen duduk disamping kanan kiri Devis di Sofa sambil bercanda ria, Devis terlihat sayang pada ketiga anak anaknya Adrie. Mereka sangat menggemaskan. Lina menggendong Aldeen merengek minta turun, anak usia 3 tahun itu berlari menyusul kedua kakaknya Sakya dan Aileen. Kemudian Lina ikut bergabung menemani Devis dan ketiga anak nya, saat Lina berjalan untuk duduk di sofa sedikit mencuri perhatian Devis.


Devis menatap Lina dari samping, namun saat bokongnya mulai didudukkan mata Lina tak sengaja melihat Devis yang sedang menatap nya. Devis buru buru mengalihkan pandangan nya pada Sakya dan Aileen. Merasa ketangkap basah oleh Lina, Devis menjadi gugup.


" Ehemm ! Devis berdehem menghilangkan rasa gugupnya.


" Lina...suami kamu kemana?"


Lina menoleh kesamping matanya mencari Adrie.


" Ohh! bang Adrie sedang di kamar, lagi di kamar mandi Kak Dev."

__ADS_1


" Ohh..!"


Lina merasa aneh dan gugup, rupanya tadi Devis sedang menatapnya.


lalu pandangan Lina ke arah ketiga anak anaknya.


" Sakya Aileen jangan nakal sama Uncle Devis dong..!


" Biar saja Lina..aku senang sama mereka, anak anak mu pintar pintar."


Lina tersenyum.


" Maaf, anak anak ku membuat mu repot..kakak jadi kewalahan dengan tingkah mereka."


"Tidak sama sekali."


Tak lama Adrie keluar dari kamar kemudian ikut bergabung dengan mereka.


" Kak Dev usaha bakery kakak yang di Jakarta apa ada masalah?" Tanya Adrie


Obrolan Adrie membuka suasana yang tadi kaku terhadap Devis dan Lina.


" Sejauh ini baik baik saja Drie..cuma hasil dari laporan sekretaris ku ada masalah sedikit, makanya kakak besok harus mengecek kesana."


Adrie menganggukkan kepala. Lina yang memperhatikan perbincangan mereka hanya diam. Pikirannya masih tertuju pada Devis kalau Devis diam diam suka menatap dirinya.


" Hoaaammm..! mulut Sakya menguap lebar rupanya mulai mengantuk.


" Sakya kamu sudah ngantuk Nak?"


" Buk Jum tolong! antar anak anak ke kamar nya. mereka sudah mengantuk."


" Baik Nyonya!"


" Kalian tidak apa kan? mama disini dulu sama papa dan Uncle Devis."


" Iya mama."


" Pamit dulu sama Uncle Devis." Pinta Adrie.


" Selamat malam uncle Devis."


" Malam! bobo dulu sudah malam."


Sakya dan Aileen mengangguk iya, sedangkan Bu Jumiah menggendong Aldeen yang sudah tidur.


Dikamar tamu Devis terbaring di atas kasur kedua tangannya diletakan dibawah kepala, pandangannya menatap langit langit kamar,


ia tak bisa tidur. Pikirannya berkelana campur campur memikirkan tentang usaha bakerynya dan yang lebih ia tak dapat tidur memikirkan Lina. Sepertinya ia tertarik pada istri sepupunya.


" Ahhh Sial!" Ucap Devis pelan.


" Kenapa aku jadi memikirkannya?"


Devis kemudian bangun merasa haus di tenggorokannya Ia keluar menuju dapur.


ia buka pintu lemari es mengambil sebotol air mineral yang masih di segel untuk dia bawa ke kamarnya, karena hanya mengambil sebotol air mineral dia tidak perlu menyalakan lampu dapur. Begitu pun juga Lina ia keluar kamar hendak ke dapur untuk mengisi air di gelas buat suaminya.


Cetek ! suara tombol saklar lampu.


Aakh hemmmpp ! Lina teriak, namun tangan kiri Devis buru buru menahan bahu Lina sedangkan tangan kanannya menutup mulut Lina agar jangan teriak, ia khawatir teriakannya bisa membangunkan orang tidur.


Lina kaget saat lampu ia nyalakan tiba tiba Devis sudah berada dihadapan wajahnya.


tanpa disadari wajah Lina dan Devis hanya jarak 5 Senti.


Mata Lina seperti terkunci oleh mata Devis.


lalu perlahan tatapan Devis turun ke bibir Lina


namun buru buru Devis memundurkan kepala dan menarik tangan dari bahu Lina.


Lina menarik napas dalam dalam lalu dihembusnya pelan.


" Ma ma maafkan aku Lina!...sudah membuat mu kaget."


" Aku mau mengambil seotol air minum." Devis menunjukan botol air mineral.

__ADS_1


" I i ya kak Devis!, aku juga minta maaf?"


Berdua tersenyum kaku, Devis buru buru kembali kekamar meninggalkan Lina.


__ADS_2