
Aktifitas panas itu masih berlangsung mata Adrie masih terus menatap istrinya yang masih memejamkan mata, Lina mati matian menahan suara ******* keluar dari mulutnya.Tapi bagaimanapun bagian intimnya tetap saja menerima kenikmatan itu, hanya hatinya saja yang sakit atas perlakuan suaminya meminta secara paksa.
" Bangg..!
" Iya sayang."
Adrie memang pintar mengerjai istrinya, ia tersenyum menang. 3 jam mereka bergelut sampai menimbulkan suara ******* bersahutan mengisi hening nya ruang kamar tidur dan keduanya sama sama mendapatkan pelepasan terakhirnya.
Setelahnya Adrie langsung menjatuhkan tubuhnya di atas perut Lina hingga beberapa detik mengatur nafasnya Adrie kembali menahan kedua sikunya mengungkung Lina dan kembali menciumi wajah istrinya.
Lina menangis, Adrie tahu perasaan hati istrinya sedang terluka karena ulahnya. Adrie merespond dengan mengusap air mata Lina.
" Maafkan aku!..aku sudah melukaimu, tapi aku juga tidak bisa kamu terus mengabaikan ku"
Lina menghindar dari tatapan Adrie.
" Lihat aku!. Adrie membelai rambut Lina dan mengusap lembut wajah Lina, Lina kembali menatap Adrie sampai diujung hidung mancung mereka bersentuhan.
" Aku bisa memberi maaf untuk mu, tapi tidak bisa lagi memberi kepercayaan ku lagi padamu."
Adrie tertegun.
" Kamu masih menginginkan wanita itu?, aku tau itu."
Adrie membuang nafasnya pelan memindahkan tubuhnya ke sisi Lina, memikirkan kata kata istrinya yang bisa menebak isi pikirannya. Adrie memang belum bisa melepaskan Tiara sampai saat ini.
Lina bergerak memunggungi Adrie, Adrie menoleh menatap punggung Lina yang putih mulus itu.
Saat Adrie ingin memeluk Lina.
" Dengan kamu diam, aku sudah tau jawabannya."
Adrie menciumi punggung Lina, Lina tidak memberi reaksi apapun padanya.
Hening keduanya tidak bicara, sampai akhirnya Lina risih pada bagian bawahnya terasa sangat tidak nyaman ia ingin kekamar mandi untuk membersihkannya, ia beranjak dari tempat tidur namun pada saat Lina ingin berdiri ia merasakan perih dibagian intimnya.
" Ssshh.." Lina meringis pelan.
" Kenapa?"
" Agak perih sedikit di bagian ini." Lina menunjuk bagian bawahnya pada Adrie
Adrie segera bangun menuntun Lina ke kamar mandi, Lina meraih selang selang shower saat bagian intim dibersihkan ia kembali meringis keperihan.
" Kenapa perih sekali..? kamu tadi memasukannya terlalu ganas."
Membuat Adrie menahan tawa.
" Itu akibatnya kamu tidak memberikan juniorku kesempatan selama 6 bulan."
Lina memutarkan bola matanya jengah.
" Biar tanganku saja yang membersihkannya." Pinta Adrie.
" Tidak perlu biar aku sendiri saja!, kau keluarlah!. Lina menolak tetap saja ia merasa malu walau Adrie suaminya sendiri.
__ADS_1
Setelah Lina selesai membersihkannya ia keluar dari kamar mandi dan bergantian dengan Adrie yang juga ingin membersihkan dirinya dari sisa sisa peluh keringat yang sudah mengering ditubuhnya. Saat ia masuk Adrie sempatkan untuk menggoda Lina.
" Ingin lagi?"
" Ahh sudah cukup!, seluruh badanku terasa pegal semua karena ulah mu."
Adrie terkekeh dengan ucapan istrinya.
" Hehehe..aku hanya menggoda mu saja sayang!"
Adrie keluar dari kamar mandi, melihat istrinya hendak berpakaian, Adrie menyuruhnya untuk tetap keadaan polos. Baju ditangan istrinya ia letakan disisi tempat tidur membuat Lina menghela nafas. Adrie menarik tangan Lina untuk berbaring bersama.
" Aku ingin memeluk mu saja..biarkan seperti ini!." Tangan Adrie menarik pinggang Lina untuk lebih menempel ke tubuhnya.
" Kamu masih menyimpan obat salep itu?"
" Sepertinya masih ada." ucap Lina.
Adrie membuka laci nakas, mencari obat salep yang dimaksud, kemudian mengolesi bagian pinggir in**m Lina yang dilihatnya agak bengkak dan kemerahan.
" Sudah..! bagaimana sudah tidak perih lagi?"
Adrie menatap iba.
Lina mengangguk iya, obat salep itu memang tersedia dikamar mereka salep khusus untuk bagian ****.* pada saat Lina melahirkan.
" Tidurlah..! Adrie kembali mengeratkan pelukannya pada Lina. Lina merasa nyaman.
Mereka tertidur hampir 3 jam, Lina mengerjap kan matanya memutari ruangan kamar yang agak gelap, hari sudah petang menjelang malam. Lina bangun membersihkan badannya selesai mandi kemudian ia keluar menuju dapur memasak untuk makan malam mereka.
" Hello mom are you okey?" Lina langsung memutar badan menoleh kebelakang putra sulungnya sedang membuka lemari es.
" Im okey son." Lina tersenyum.
" Mana adek adek kamu?"
" Aileen Aldeen sedang bersama Buk Jum dan Buk Inah ma."
" Apa kamu sudah mandi?" Tangan Lina masih mengaduk masakan yang hampir matang.
" Sedikit lagi aku mandi ma."
Adrie sudah bangun dari tidur siangnya, terlihat ia masih ngantuk dan memaksa untuk bangun karena hari sudah hampir maghrib, ia berjalan sedikit gontai menuju dapur ingin memeluk istrinya.
Adrie melewati putra sulungnya yang sedang menutup pintu lemari es menyapa sambil tangannya mengelus rambut Sakya.
" Bang Sakya.."
Tanpa Adrie sadari Sakya memperhatikan bagian bawahnya kalau papanya keluar dari kamar hanya memakai ****** ***** saja, tidak memakai penutup lainnya.
" Pah..!" Sakya memanggil.
" Hem.. iya bang Sakya." Sahut Adrie memeluk istrinya dari belakang
" Apa papa lupa sesuatu?"
__ADS_1
Adrie tak bergeming dengan pertanyaan Sakya, ia masih memeluk istrinya dengan gemas membuat Sakya geleng kepala.
" Oh ya Tuhan..! papa memang sudah tergila gila dengan mama rupanya." Apa papa sudah waras?"
Sakya bicara pelan namun masih terdengar oleh mama papanya yang sedikit mengejutkan dengan ucapan putra sulung mereka. Membuat Adrie dan Lina saling memandang se saat dan memutar badan menoleh ke Sakya secara bersamaan.
" Kau bicara apa nak?" Adrie mengangkat kedua alisnya sedangkan Lina melipat kedua tangannya di dada.
" Apa papa sudah waras kah?"
" Apa maksud mu bang Sakya?"
Sakya menghela nafas.
" Pa, lihat lah...!" Tangan Sakya menunjuk kebawah Adrie.
" Papa belum memakai celana!"
Spontan Adrie dan Lina sama sama melihat kebawah.
" Ups..!!" Adrie langsung melangkah cepat masuk kamar sambil kedua tangannya menutupi tonjolan dibalik ****** ********. Membuat Lina dan putra sulungnya tertawa terpingkal pingkal.
" Kenapa kau tidak bicara dari tadi Nak!"
Lina masih tertawa geli sampai sakit diperutnya.
" Bang Sakya..segeralah mandi!"
" Baiklah ma!"
Buk Jum dan Buk Inah menatap heran dengan Nyonya mereka yang tertawa geli.
" Nyonya apa yang Nyonya tertawa kan?" Ucap Buk Jum.
" Itu loh...Buk Jum hahahaha..Tuan tadi kedapur lupa memakai celana lagi."
" O..ya Allah.., untung kami berdua belum masuk, pasti Tuan akan malu sekali."
Mereka pun jadi tertawa geli didapur, membuat suasana rumah kembali menghangat.
Saat dimeja makan keluarga kecil itu sedang bersantap makan malam dengan Buk Jum yang ikut makan dimeja bersama Tuan dan Nyonyanya. Ya, Adrie dan Lina sudah mengganggap Buk Jum bagian dari keluarga.
" Mulai malam ini mama tidur dengan papa!"
Adrie memulai membuka pembicaraan dimeja makan, sedari tadi mereka bersantap tidak ada yang bicara sebelum kepala keluarga itu bicara.
" Aku gak mau..!, mama harus bobo dikamar aku." Aileen merajuk.
Lina hanya menatap Adrie dan tersenyum.
" Kan ada Buk Jum yang menemani Nak Aldeen dan Nak Aileen." Buk Jum menyela.
" Aileen tidak kasihan sama papa...papa tidur sendirian di kamar tidak ditemani mama." Timpal Adrie.
Aileen memanyunkan bibirnya cemberut, Lina gemas melihatnya.
__ADS_1
" Mama tidur sama papa biar papa tidak nakal!..iyakan pah?" . Ujar Lina.