
Maria masih penasaran dengan Devis, hampir dua kali dalam seminggu Maria berkunjung ke mansion Devis. Walau hanya sekedar berbincang dengan Laura dan Derick orang tua Devis. Derick tidak keberatan dengan seringnya Maria berkunjung kerumah, Laura pun senang semenjak ada Maria ia tidak kesepian karena ada yang menemani nya jalan dan minum kopi atau teh bersama di sore hari.
Maria sangat sabar menghadapi keras kepala Devis. Ia yakin suatu saat Devis akan jatuh kepelukannya walau dengan cara liciknya, ya, Maria merencanakan akan menjebak Devis.
Hari ini hari libur, Devis akan mengunjungi ke tempat mess kedua putranya. Bastian dan Sander tidak bisa pulang karena dua hari lagi mereka akan menghadapi ujian semester.
Pukul 9 pagi Devis keluar dari kamarnya Ia nampak sudah rapih. Ia menuruni tangga untuk menemui Mommy nya yang sedang berada di dapur, namun ia terkejut melihat sudah ada Maria bersama Mommy nya sedang membantu memasak.
" Pagi Mom."
" Pagi, kau ingin pergi?"
" Pagi Maria."
" Pagi Dev."
" Iya Mom, aku ingin mengunjungi Bastian dan Sander."
Laura langsung mendekati Devis, ia ingin bicara pada putranya.
" Dev, kau tunda saja dulu, Mommy merasa tidak enak pada Maria ada disini, dia sudah memasak makanan kesukaan kamu."
" Devis hanya pergi sebentar saja."
" Tidak!, Mommy mohon pada mu, sekali ini saja temani Maria."
Devis mendengus kesal, ia tidak bisa berbuat apa apa bila Mommy nya sudah memohon.
" Baiklah, Mom."
" Trimakasih, sayang."
" Kalau begitu Devis keruang kerja Devis dulu!, ada pekerjaan yang Devis tunda."
" Nanti kalau sudah selesai masak. Mommy akan memanggil mu untuk makan siang bersama."
Devis mengangguk dan berlalu pergi dari dapur.
" Maria."
" Iya Tante."
" Kau buatkan kopi untuk Devis jangan pakai gula, antarkan keruangan kerja nya ya!, biar Tante yang akan menjaga masakan ini supaya tidak gosong."
" Baik Tante."
Maria tersenyum hatinya senang bagi nya ini adalah kesempatan untuk bisa bicara berdua dengan Devis.
Sambil menaruh cangkir untuk di isi serbuk kopi Maria bergumam tatapannya menyeringai.
" Sebentar lagi kau akan jatuh kepelukan ku sayang."
Setelah kopi itu jadi, ia siap membawa cangkir kopi itu ke atas menuju ruang kerja Devis.
TOK TOK
Nampak Devis sedang fokus pada layar laptopnya, Maria terpukau dengan wajah Devis yang tampan. Maria melangkah membawa cangkir kopi itu dan di letakan di meja.
Maria berdehem.
" Ehem, ini aku buatkan kopi untuk mu."
Devis langsung mendongak ia kaget Maria yang membawakan kopi untuknya.
" Eugh, kau?"
__ADS_1
" Maaf mengganggu. Tante menyuruhku untuk mengantarkan kopi untuk mu."
" Tidak usah repot repot, trimakasih!, maaf aku sedang sibuk."
" Maaf kalau begitu."
Devis lalu menatap layar laptop itu kembali. Ia sengaja mengabaikan Maria. Namun sepertinya Maria tidak peka, kalau kehadiran nya di rumah Devis tidak di inginkan.
Maria lalu melihat lihat ruangan kerja Devis cukup luas, yang menurut Maria ruangan kerja Devis sangat nyaman. Ia melangkah mengelilingi setiap sudut ruangan. Ia melihat foto foto Devis dari masa masa sekolah SMP SMA dan kuliah. Banyak medali dan penghargaan yang Devis pajang. Maria tertarik ingin menanyakan prestasi Devis.
" Rupanya kau sangat berprestasi di sekolah. Dev."
Devis menoleh rupanya Maria belum keluar dari ruang kerjanya.
" Iya."
Maria tangan nya menyentuh foto Devis dimana gambar foto itu Devis tersenyum lebar dengan tangan kanan nya memegang medali kejuaraan softball.
" Aku kagum." ucap Maria.
Devis masih mendengar ucapan Maria walau mata nya masih menatap pada layar laptop.
Maria masih melihat foto foto Devis, hingga matanya beralih tepat pada foto seorang wanita cantik yang sedang tersenyum ia menduga foto itu adalah foto almarhum istri Devis. Mata Maria menatap tidak suka pada foto almarhum istri Devis dalam hati nya bicara.
" Mengapa masih saja di pajang foto ini, hemm."
Tangan Maria bergerak jari nya ingin menyentuh foto yang berbingkai emas itu, Namun tiba tiba.
" Jangan kau sentuh foto itu!" ucap Devis tegas.
Membuat Maria kaget dan menoleh pada Devis, rupanya Devis memperhatikannya.
" Eugh?, oh maaf!, aku hanya kagum pada foto itu wanita yang sangat cantik, dia almarhum istri mu?"
Devis tidak menjawab ia hanya diam, Devis merasa tidak senang bila orang yang belum begitu di kenal nya lancang menyentuh barang barangnya.
" Maaf kalau aku sudah lancang, Dev."
" Kalau sudah tidak ada urusan lagi, aku mohon tinggalkan ruangan ini, aku sedang sibuk."
" Baiklah!, aku sebaiknya kembali membantu ibu mu di dapur saja."
" Hem." Devis mengangguk kepala satu kali.
Maria kemudian pergi dari ruangan kerja Devis dengan perasaan kesal, rasanya ia ingin menutup pintu ruangan itu dengan keras.
" Sombong sekali, lihat saja kau akan ku buat bertekuk lutut di hadapan ku, Dev." ucap Maria pelan.
Sampai di lantai bawah, Maria menuju dapur rupanya Laura dan juga pelayan sedang mengatur makanan di meja.
" Maria bagaimana?, apa Devis dan kamu bicara banyak?" Tangan Laura sedikit menata piring piring itu agar terlihat rapih.
" Sangat menyenangkan Tante, bicara dengan Devis." ucap nya bohong.
" Sukurlah!"
Tidak lama Derick ayah Devis datang menghampiri meja untuk duduk di meja makan. Laura mengernyitkan kedua alisnya melihat suami nya sudah berpakaian rapih.
" Derick kau akan pergi?"
" Iya sayang, kau harus menemani ku setelah makan siang ini."
" Euh kemana?, kok mendadak mengajak ku."
" Iya aku baru saja menerima telepon rekan bisnis ku ingin meminta kita berdua untuk bertemu dengan nya."
__ADS_1
" Untuk urusan apa?, pekerjaan?, Derick sayang ini kan hari libur."
" Ya aku tahu, seperti nya ia ingin mengajak bekerjasama ia berdua bersama istri nya, istrinya bilang aku harus mengajak kamu agar dia ada teman untuk berbincang."
" Baiklah!, selesai makan siang aku akan bersiap siap ganti baju."
" Maria."
" Iya Tante."
" Kau tidak apa kan Om dan Tante tinggal, karena ada urusan mendadak?"
" Tidak apa Tante, biar Devis yang akan menemani aku di sini."
" Ya sudah anggap saja rumah sendiri, Tante malah senang dengan begini Kamu dan Devis bisa lebih akrab."
" Iya Tante." Maria tersenyum.
Ini adalah kesempatan Maria yang di tunggu tunggu nya untuk mengerjai Devis. Setelah makan siang Maria akan memulai aksi nya untuk menjebak Devis. Maria sudah membawa obat tidur di dalam tas nya. Dia yakin setelah aksi nya berjalan lancar. Devis akan bertanggung jawab untuk menikahi nya. Maria rasa nya tidak sabar menunggu Derick dan Laura pergi menemui rekan bisnis nya siang ini.
Devis pun keluar dari ruangan kerja nya untuk makan siang karena ia pun sudah lapar.
" Dev."
" Iya Mom."
" Kau temani Maria ya!, Mommy dan Ayah mu akan pergi setelah makan siang."
" Kemana Mom?"
" Ada urusan bisnis. Rupanya rekan bisnis Ayah tertarik untuk bekerjasama, makanya dia mendadak ingin bertemu dengan Ayah dan Mommy kamu." balas Derick.
" Mom, sebentar!" Devis memanggil Laura ke dapur untuk bicara.
" Baiklah." Laura kemudian menyusul Devis.
" Mommy, apa Mommy dan Ayah sengaja ingin meninggalkan Maria berdua dengan Devis di rumah ini?"
" Tentu tidak, Nak!. Ini Mendadak. Mommy baru saja diberitahu oleh Ayah mu."
" Oh shits!, Mom aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku."
" Ini kan hari libur, kenapa kau masih bekerja?, walau kau mengerjakannya di rumah."
Devis menghembuskan nafas nya ke udara.
" Iya tapi Mom, ini sangat merepotkan."
" Dev, ajaklah Maria jalan atau ajak minum kopi atau teh saja!, kalau kau tidak ingin kemana mana. Maria itu gadis yang baik, coba lah kau untuk menerima dia."
" Baik lah, Mom. Devis akan mengantarnya pulang setelah makan siang."
" Jangan begitu, hargailah perasaan nya, Dev. Mommy yakin setelah kamu sudah berbincang bincang dengan Maria, kau pasti akan menyukai nya."
" Oke Mom, tapi sampai kapan pun Devis tidak akan bisa menyukai nya."
Devis dan Laura kembali kemeja. Maria melihat Devis dan Laura seperti habis membicarakannya. Maria memasang wajah tidak tahu apa apa. Hati nya merasakan bahwa Devis tidak suka untuk menemani nya setelah Derick dan Laura pergi.
" Bagaimana rasa sup iga nya Om?"
" Ini sangat enak, kau pintar membuat sup iga."
" Mommy mengajarkan aku Om."
" Om sudah tahu, masakan Mommy kamu sangat enak."
__ADS_1
" Trimakasih, Om."
Devis menikmati hidangan makanan itu tidak begitu selera, hatinya sedang kesal karena Ayah dan Mommy akan pergi, mau tidak mau ia harus menemani Maria.