
Pagi hari di kediaman keluarga Leander, Freddo nampak sedang duduk termenung di meja makan. Ibu Floren menatap putra nya terlihat sedang memikirkan sesuatu.
" Freddo."
Freddo tersentak dari lamunan nya.
" Euh..pagi Mom."
" Kau nampak tak bersemangat. ada apa? apa ada masalah di perusahaan?'
" Tidak Mom, baik baik saja."
" Apa yang kau pikirkan?" Floren kemudian duduk dan meminum air putih sebelum sarapan.
" Tidak."
" Ceritakan pada Mommy, Mommy tahu bagaimana anak anak Mommy." Floren tersenyum menoleh pada Freddy.
" Aku hampir saja jatuh cinta pada Lina istri Devis, Mom."
" Lalu..kalau kau sudah tahu wanita itu sudah bersuami, apa yang kau pikirkan?"
Freddo tersenyum.
" Iya..Mommy benar, aku hanya patah hati saja."
Floren terkekeh.
__ADS_1
" Nak..kau belum mendapatkan wanita yang belum tepat saja, sukur sukur kau sudah cepat tahu dari pada kau belum tahu sama sekali dan sudah jatuh cinta lebih dalam lagi, dan akhirnya kau kecewa apa kau sanggup melepaskan nya...?, Percaya saja..!,saat nya nanti kau akan mendapatkan bidadari yang datang sendiri nya pada mu, Nak..jodoh sudah ada yang atur hanya waktu nya saja belum di tangan mu."
Freddo hanya mengangguk.
" Yaa..aku sadari Mom umur ku sudah 37 tahun, mungkin aku terlalu sibuk dengan bekerja..baru ini aku memikirkan nya Mom."
" Kau ingin berumah tangga?, memang nya di kantor mu tidak ada wanita yang membuat mu jatuh hati?"
Freddo menggeleng lalu Floren tersenyum.
" Ya sudah sarapan dulu!" pinta Floren.
Tak lama Freddy si macho mantan supir Maria menghampiri Mommy nya dan Kakaknya yang sedang sarapan, Freddy sedang menggendong putri nya, Nayla.
" Pagi Mom." Freddy mendekati Floren.
" Sebentar lagi dia turun, dia sedang mual mual Mom."
" Kau hari ini akan ke dokter kandungan?"
" Iya Mom."
" Fred..sini aku mau gendong Nayla!"
Freddy kemudian meletakan putri nya ditangan Freddo, Om nya itu langsung menciumi pipi chubby Nayla."
" Apa kabar Nayla sayang?, Om merindukan mu?"
__ADS_1
Bayi 3 bulan itu tersenyum ceria di gendongan Freddo.
" Cepat lah!, temukan wanita pendamping seumur hidup mu, Kak!, hidup mu pasti akan jauh lebih baik dan bahagia, percaya!, aku pun kini merasakan nya."
" Iya doakan saja Kakak."
😍😍😍
Devis dan Lina membawa putrinya untuk di imunisasi, Hasya sudah berusia 6 bulan bayi mungil Devis dan Lina sangat montok lipatan lipatan kedua tangan mungil nya sudah seperti roti sobek saja, rambut nya tebal kecoklatan di pakaikan bandana karet di kepalanya senada warna nya dari sepatu kaos kaki dan baju nya, berwarna merah pink. Hasya sangat sehat terlihat dari rona pipinya yang pink. Hasya selalu menggerak gerakan tangan dan kaki nya, dan selalu mengeluarkan suara ocehan nya. Devis semakin gemas pada Hasya. Tak henti hentinya Devis menciumi pipi Hasya.
" Dev sayang..sudah Jangan di ciumi terus kasihan pipinya." rengek Lina.
Devis hanya terkekeh.
Hasya sudah mendapat giliran untuk di panggil oleh suster.
" Baby Hasya Kencana Ayudisha Bakker." panggil perawat itu.
" Hasya sudah di panggil, ayo sayang kita masuk." ucap Lina.
Devis yang menggendong Hasya sangat telaten, Devis membaringkan Hasya pada kasur bayi itu untuk diperiksa kesehatan nya sebelum di suntik imunisasi. Kemudian tangan kekar Devis kembali menggendong Hasya untuk memeluk tubuh mungil nya karena akan di suntik. Devis membelai rambut dan badan belakang Hasya. Saat jarum itu sudah menusuk kulit Hasya, Hasya menangis.
Devis langsung mengusap usap bekas suntikan di lengan Hasya. Anak itu langsung terdiam mendapat belaian dari tangan Devis.
" Tuan dan Nyonya, reaksi setelah Baby Hasya di imunisasi nanti bila akan hangat suhu tubuh nya"
" Iya Dokter." ucap Lina.
__ADS_1