CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Drama Maria


__ADS_3

Devis langsung terdiam, otak nya belum bisa bekerja dengan baik.


Mendengar ucapan Derick untuk meminta Devis segera menikahi Maria, seketika wajah Maria tersenyum senang di balik pelukan Laura.


Tapi Devis tetap lah Devis dengan sifat keras kepalanya ia tetap teguh pada pendiriannya. Devis buru buru menolak permintaan Ayah nya.


" Tidak Ayah!, sampai kapan pun Devis tidak akan menikahi wanita ular itu!'


" DEVIS!" Laura meneriaki Devis.


" Ayah dan Mommy lebih percaya siapa?, aku atau Maria." mata Devis menatap nyalang pada Maria.


Derick dan Laura seketika hatinya jadi bimbang antara percaya Maria atau Devis. Lagi lagi Maria bisa membaca raut wajah Derick dan Laura. Ia kembali berakting supaya orang tua Devis iba pada nya. Maria harus membuat orang tua Devis agar Devis mau menikahinya


" Om Tante, hiks hiks apa yang harus Maria perbuat, Maria sudah ternoda Tante."


Laura mengusap usap punggung Maria.


" Sabar Maria, Om dan Tante akan memaksa Devis menikahi mu."


" Iya Tante, maafkan Maria,Tante. Tapi Maria takut bagaimana nanti Mommy dan Daddy tahu hal ini?, hiks.hiks..hiks." ekspresi wajah Maria ia buat kembali sedih tapi seketika ia menyunggingkan sudut bibir nya.


Maria memang pintar memainkan peran nya di depan orang tua Devis. Rencana licik nya begitu mulus.


Devis melihat Maria menangis di pelukan Mommy nya membuat Devis muak, ia segera memunguti kemeja dan celana nya lalu menuju kamar mandi untuk membasuh wajah nya.


BRAKK


Devis menutup pintu kamar mandi itu dengan keras.


Derick mengelus dadanya, Derick juga harus berfikir panjang dengan masalah ini. Apa memang putra nya itu di jebak? karena kalau di lihat Maria memang sangat menyukai Devis. Tapi Derick juga sudah melihat dengan mata kepala nya sendiri mereka di dalam kamar sudah dalam keadaan polos. Derick pusing memikirkannya.


Devis keluar dari kamar mandi ia sudah memakai baju nya kembali, ia hendak pergi dan akan tinggal di apartemen nya.


" Devis, kau mau kemana?" tanya Laura.


Devis tidak menjawab pertanyaan Mommy nya, Ia segera turun dan menuju mobil nya. Laura ingin mengejar Devis, tapi Derick menahan nya.


" Dev, Devis tunggu, Nak!"


" Biarkan saja Devis pergi, seperti nya ia butuh waktu."


" Tapi Derick, Devis tidak seharusnya mengabaikan Maria."


" Setelah Maria pulang kita berdua bicara." Derick berbisik.

__ADS_1


Maria yang di tinggal sendirian di kamar Devis, mengembangkan senyum nya.


Ia hembuskan nafas lega.


" Haahhh Good job, Maria. tidak sia sia aku pernah bermain drama di sekolah ku dulu, akting ku memang hebat." Maria bergumam.


ia segera memunguti pakaian yang ia lepas tadi dan akan memakai kembali di kamar mandi Devis.


di depan cermin itu ia menatap wajah nya tersenyum sambil memainkan ujung rambut nya.


" Sebentar lagi, aku akan menyandang Nyonya Devis Bakker."


Lalu kemudian tangannya mengusap perutnya yang masih rata.


" Dan ini akan menjadi alasan, janin di rahim ku akan aku jadikan ancaman, Devis harus menikahi ku, Maaf kan Mommy mu sayang!, Mommy tidak sudi yang menjadi Ayah mu hanya seorang supir sialan itu." Wajah Maria berubah ekspresi nya terlihat jijik membayangi pria yang telah menghamilinya.


" Bukan dia yang akan menjadi Ayah mu, Nak. Tapi dari seorang calon Ayah yang tampan dan kaya raya." Maria tersenyum ibils.


TOK TOK


" Maria."


" Maria, kau tidak apa apa kan di dalam?"


Mendengar suara ketukan pintu, Maria kembali memasang ekspresi wajah sedih.


" Jangan kau kunci pintu nya, Tante khawatir."


" Huuhh, lebay." Ucap Maria pelan, bola mata nya memutar kedua sudut bibir nya kebawah.


TOK TOK


" Maria."


" Maria tidak apa apa Tante."


Maria membuka pintu tangan nya masih mengusap air mata buatan yang ia teteskan dari air kran sambil terisak.


" Maria, Tante mencemaskan kamu."


" Maria pulang dulu ya, Tante. Maria baik baik saja kok."


" Biar supir Tante yang antar kamu, Tante tidak mau nanti di jalan kau kenapa napa."


" Baiklah Tante."

__ADS_1


Maria dan Laura turun, Derick yang masih duduk menatap Maria sedikit menaruh curiga pada nya. Tapi Derick pandai menyembunyikan ekspresi curiga pada Maria.


" Om Maria pulang dulu."


" Iya istirahat lah!"


" Iya Om."


Supir Derick sudah mengantar Maria pulang, laura dan Derick langsung membicarakan masalah putranya dan Maria di kamar mereka. Derick sedang mengambil kesimpulan bahwa ada kejanggalan terhadap Maria.


" Derick kita memang harus secepat nya menikahkan Devis dengan Maria, aku tidak mau rekan bisnis mu nanti kecewa pada kita dan tidak mau lagi bekerjasama dengan perusahaan mu, Derick."


" Tunggu dulu, Laura!, sebaiknya kita tanyakan dulu pada Devis, ini masalah yang harus Devis selesaikan sendiri. Kita sudah tahu sifat Devis ia tidak akan mengambil keputusan begitu saja."


" Maksudmu, kau tidak mau Devis bertanggung jawab pada Maria."


" Bukan begitu, putra kita tidak bodoh, sayang. Perkataan Devis tadi kita lebih percaya Maria atau Devis, itu yang membuat Ayah tidak yakin apa Devis benar benar memperkosa Maria?"


" Lalu bagaimana?, kalau Maria terus memaksa kita pada Devis untuk menikah dengan Maria?"


" Kita mainkan drama ini, dulu!, kita juga jangan gegabah."


Selama dua Minggu setelah kejadian itu, Devis memilih pulang ke Apartemen nya. Ia malas bila pulang ke mansion nya akan bertemu dengan Maria. Maria memang pintar mengambil hati Laura. Devis sendiri tidak memusingkan masalah dengan Maria yang mengaku telah memperkosanya, Devis tidak bodoh ia tahu Maria memang masih Single tapi kalaupun Devis dan Maria sampai melakukan penyatuan kenapa tidak ada darah keperawanan.


Satu hari setelah kejadian itu Devis pergi ke dokter memeriksakan dirinya untuk tes urine. Hasilnya positif, sampel urine nya terdapat kandungan zat obat tidur atau obat bius. Bukti yang devis dapat akan ia simpan ia akan mencari bukti lainnya.


Ponsel Devis berdering, Laura menghubungi nya di saat Devis baru akan keluar dari ruangan nya.


" Iya Mom, Devis sibuk! kalau Mommy ingin membahas tentang Maria, Devis tetap tidak akan menikah dengan nya."


" Mommy ingin bertemu dengan kamu, nanti sore Mommy akan datang ke apartemen kamu."


" Mommy sendiri saja."


" Iya Nak."


" Baik lah!'


Baru saja Devis menutup panggilan dari Mommy nya, ponsel nya ada tanda pesan masuk. Di lihat ada sebuah kiriman foto, Devis membuka pesan itu. Ia terkejut pesan yang dikirim dari Laura.


Laura mengirimkan gambar foto janin dan juga hasil tespack menunjukan dua garis biru.


" Apa Maria hamil?"


Devis mendudukan diri nya di sofa, Maria seperti nya sengaja ingin memperlihatkan pada Devis.

__ADS_1


" Kau adalah calon Ayah janin ini."


" Shits, apa mau mu, Maria?, aku tidak akan mengakui janin ini adalah anak ku." Devis menyunggingkan sudut bibir nya.


__ADS_2