
" Tundalah kepulangan mu!"
" Euh?"
" Please!"
" Okey, tapi berjanjilah!, kita ke dokter untuk memeriksa luka di perut mu, aku khawatir."
" Iya sayang aku janji."
Tanpa membuang waktu lagi, Devis langsung memagut bibir Lina tapi terhenti oleh ucapan Lina.
" Dev."
" Heum?"
" Apaaa.."
" Kenapa sayang?" nafas Devis sudah berat nafsu sudah mulai tinggi.
" Apa..eumm..ma-maksud ku..sebaik nya kita pake pengaman."
" Eugh?" Devis malah tersenyum.
" Ka- kalau aku hamil trus kau di Amsterdam, apa...jadi nya?"
Devis ingin tertawa.
" Masa..aku pulang dari Bali terusss..melendung gitu, iya kan?"
Devis tertawa sudah tidak bisa di tahan lagi. Namun saat tertawa Devis merasa sakit.
" Aduh..sshht." Devis meringis.
Lina melihat Devis meringis karena sakit di perut nya. Membuat Lina jadi tidak tega.
" Tuh kan sakit perutnya, udah deh gak usah!, gak tega liat kamu, Dev."
Lina sukses membuat Devis tertawa, walau ia harus menahan sakit di perut nya.
Devis kembali mengungkung Lina, posisi nya berubah karena tertawa tadi.
__ADS_1
" Sayang..ada sisi yang baru aku tahu, kalau kau ini sangat lucu. Di mana aku sedang serius tapi kau yang tidak ku duga kau serius tapi malah membuat ku ketawa."
" Baiklah!, kau mengkhawatirkan diri mu hamil, lalu..kalau aku memang menghamili mu, trus kenapa?
" Adrie bisa bangkit dari kubur, Dev!"
Sontak Devis mendengar celetukan Lina kembali tertawa.
" Ya Tuhan..kau memang." Devis tertawa sambil menggaruk kening nya.
Kedua nya jadi tertunda untuk melakukan aktifitas panas mereka, hingga 30 menit.
" Aku haus sayang."
" Sebentar biar aku ambilkan." Lina beranjak dan meraih minuman botol yang masih di segel itu di dalam lemari es, kemudian di berikan pada Devis. Setelah Devis minum air mineral itu, Lina mengambil botol itu.
" Aku juga haus, Dev." Lina meneguk sisa air minum itu sampai habis.
Devis dan Lina akhirnya duduk di sisi ranjang, Devis merangkul Lina dan menarik tubuh nya.
" Baiklah aku bicara serius!, dengarkan aku!, kau tidak usah khawatir, kau hamil anak ku itu justru yang aku mau. Aku menginginkan anak dari mu, Lina."
Lina diam tertegun.
Bicara Devis sudah berubah, ia terlihat serius dan tidak main main.
" Aku pastikan aku akan kembali menemui mu, jangan kau menemui nya apalagi sampai Diego menyentuh mu."
Devis bicara menatap Lina dengan ekspresi dingin.
" Kau mengerti!"
" Iya."
Devis mengangguk, rangkulan tangan nya ia eratkan untuk mencium pucuk kepala Lina, dan kening Lina di tatap nya wajah Lina dan mulai memajukan wajah nya dan kembali mencium bibir Lina yang tertunda tadi. Devis melepas bathrobe Lina, terpampang kini tubuh Lina yang sudah tidak memakai bra dan dan cd. Devis kemudian merebahkan Lina ia kembali mengungkung Lina dan mulai memainkan lidah nya di bagian dalam mulut Lina.
Devis melepaskan celana nya, dan tangan nya bergerilya di bagian dada Lina dan menjilati pucuk Lina yang sudah mencuat.
" Eeuhhh.." Lina melenguh saat mulut Devis bermain main di dada Lina.
Nafas kedua nya mulai memburu, Devis menatap wajah Lina kedua mata nya sayu. Tubuh Lina kembali menerima rangsangan yang hebat dari mulut Devis,.bibir nya mengecupi bagian perut Lina dan.
__ADS_1
" Akhhh..Dev."
Devis rupanya sudah memainkan lidah nya di bagian lembah Lina yang sudah terlihat basah.
" Devis." Lina menyebut nama Devis karena merasakan nikmat yang tidak bisa dibendung nya sampai tangan kanannya menjambak rambut Devis tangan kiri nya meremas ujung bantal di kepalanya.
Lina mendapat pelepasan, hingga nafas nya terengah engah. Setelah nya Devis menarik kepala Lina posisi Devis setengah berdiri dengan kedua lutut nya ia mau Lina memainkan bagian bawah nya hingga beberapa menit Devis mendapatkan pelepasan.
" Telan sayang."
Devis meminta Lina menelan hasil pelepasan nya ke dalam mulut nya sampai kedua tangan Devis menahan kepala Lina.
Kedua nya sama sama mendapat pelepasan pertama.
Permainan itu di mulai kembali setelah Devis kembali berada di atas tubuh Lina. Dan siap membenamkan bagian bawah Lina. Di rasa sudah pas Devis memaju mundurkan pinggul nya.
Permainan panas mereka berakhir sampai pukul 5 pagi Devis tertidur sambil memeluk tubuh Lina.
Dokter selesai memeriksakan perut Devis yang terlihat lebam dan biru keunguan.
" Apakah luka nya parah, dokter?" tanya Lina
Devis sedang mengancingkan baju kemana nya.
" Tidak terlalu parah, biru lebam hanya pembuluh darah nya pecah tapi tidak merusak bagian pankreas suami anda."
Lina mengangguk.
" Saya akan buatkan resep obat luka dalam agar cepat hilang lebam nya."
Devis dan Lina menunggu hasil resep dari dokter. Setelah dari rumah sakit Devis mengajak Lina berjalan di sisi pantai sekitar pantai Kuta, dari semalam ia sudah ingin memberikan kejutan yang sudah ia siapkan untuk Lina. Karena tertunda oleh pertikaian adu jontos dengan Diego, ia urungkan kembali.
Devis menghentikan mobil nya.
" Sayang kita bicara dulu!, sebelum kau kembali ke kamar mu."
" Ada apa, Dev?"
Devis langsung memegang tangan Lina, keduanya melangkah tanpa alas kaki dan berdiri di tepian pantai mereka menikmati gulungan ombak yang hingga airnya menepi dan sampai mata kaki.
Bersambung👍
__ADS_1
Author ngantuk.