
" Maria."
" Iya Om."
" Om dan Tante pergi dulu, kau santai saja di rumah ini bersama Devis."
" Baik Om, hati hati di jalan semoga sukses kerjasama bisnis Om."
" Trimakasih."
" Dev, kami pergi dulu ya!"
" Iya Mom."
" Jaga Laura baik baik!"
Devis hanya mengangguk.
Devis juga Maria mengantar Derick dan Laura sampai pintu. Setelah orang tua Devis masuk mobil. Devis ingin meninggalkan Maria namun Maria menahan nya.
" Kau mau kemana?"
" Aku ingin ke ruangan kerja ku, aku masih sibuk."
" Apa aku boleh menemani mu?"
" Terserah kau saja."
Maria tersenyum senang, ia mengekor Devis menaiki tangga untuk keruangan kerja Devis.
Devis duduk, tangan nya mulai membuka layar laptop itu. Maria hanya diam memperhatikan Devis yang mulai fokus pada pekerjaan nya. Maria duduk disofa ia tidak bosan menatap wajah Devis. Apalagi saat Devis memakai kacamata terlihat semakin tampan.
Maria masih menunggu waktu yang pas, hingga 30 menit kemudian Maria menawarkan kopi pada Devis.
" Dev, aku akan membuat kopi. Apa kau mau?"
Devis menatap Maria, ia mengangguk.
" Iya."
" Oke, sebentar aku buat kan."
Maria bergegas menuju dapur, sebelum nya ia merogoh tas nya untuk mengambil serbuk obat tidur yang akan ia masukan kedalam kopi untuk Devis.
" Sebentar lagi." Maria menyeringai.
Tangan Maria mulai mengaduk kopi yang sudah di campur obat tidur itu. Ia mulai membawa dua cangkir kopi untuknya dan juga untuk Devis.
Maria meletakan kopi itu di sisi meja kerja Devis. Tidak lupa ia membawa cangkir kopi yang sudah kosong sebelum nya Ia buat tadi pagi.
" Ini kopi nya, di minum dulu!, nanti keburu dingin."
__ADS_1
" Trimakasih."
Devis mulai meminum kopi itu, sambil mata nya menatap layar laptop. Ia tidak sadar kalau Maria menatap nya.
" Bagus, ia meminum nya."
Maria menyeruput kopi itu dengan santai duduk di sofa, tangan nya meraih sebuah majalah yang ada di bawah meja. Ia berpura pura melihat majalah itu, mata nya sebentar sebentar melirik pada Devis. Devis lagi lagi meminum kopi itu sampai tersisa setengah gelas.
Hingga 15 menit Devis mulai menguap, mata nya mulai mengantuk ia menggeleng gelengkan kepala kedua kelopak mata nya ia kedipkan berusaha untuk tidak tertidur.
" Kenapa aku sangat mengantuk?" Devis bergumam.
Maria menghitung dalam hati nya, dalam hitungan mundur 3 2 1. Devis langsung menjatuhkan kepalanya pada sandaran kursi. Rupanya reaksi obat tidur itu bekerja dengan cepat. Maria menyunggingkan sudut bibir nya. Ia berhasil mengerjai Devis tinggal langkah selanjut nya. Maria akan membopong Devis ke kamar Devis.
Ruang kerja Devis, ada satu pintu lagi yang terhubung dengan kamar Devis. Maria tidak terlalu susah membopong berat tubuh Devis yang tinggi besar. Sampai di ranjang Maria membaringkan Devis. Ia mengunci kamar langkah nya kembali mendekati sisi ranjang, ia berdiri menatap lekat lekat wajah Devis yang sangat pulas. Maria mulai membuka kancing kemeja Devis mata nya menatap kagum pada dada bidang Devis. Telapak nya menyentuh dada itu bukan saja menyentuh tapi juga mengelus dada Devis yang berbulu itu dengan lembut. Saat Maria mengelus dada Devis, Devis bereaksi sepertinya Devis merasakan usapan lembut Maria.
Namun Maria terkejut ketika bibir Devis bergumam pelan seperti mengigau, Devis menyebut nama Lina.
" Ahhhh..linah." ucap Devis lembut Devis menggeliatkan tubuh nya walau mata nya terpejam.
" Siapa?, Lina?." Membuat Maria bertanya tanya.
Namun Maria tidak menghiraukan lagi dengan sebutan nama Lina di bibir Devis. Maria sudah melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuh Devis. Usapan tangan Maria memberikan ereksi pada junior Devis yang mulai memberontak.
Tanpa berlama lama Ia segera melepaskan seluruh pakaian nya sampai ia benar benar polos tanpa sehelai benang ditubuhnya. Maria memang mempunyai tubuh yang indah hanya saja buah dada nya tidak begitu besar namun padat. Maria mulai baringkan tubuh nya di sebelah tubuh Devis, perlahan mulai mengecupi wajah Devis sambil ter senyum penuh kemenangan.
Devis mendes*h, tidak di sangka oleh Maria dalam tidur pun tubuh Devis menggeliat merespon kenikmatan yang Maria berikan. Setelah puas menciumi wajah Devis yang terpejam, Maria menciumi dada Devis sampai perut Devis yang sixpack. Matanya berbinar seperti mendapatkan sebuah mainan baru ia memainkan junior Devis tapi tidak untuk penyatuan pada bagian intim nya Ia harus menahan hasrat, selama 3 jam. Puas mengerjai Devis, Maria siap siap berakting memainkan perannya menangis.
Sebentar lagi Devis akan sadar, dan akan bangun ia tinggal menunggu Devis benar benar membuka mata nya. Maria memperhatikan kedua kelopak mata Devis yang mulai mengerjap. Drama Maria akan segera di mulai.
" Maria apa yang kau lakukan?"
Maria pura pura menangis, dalam hati nya ia girang Devis telah masuk ke dalam perangkap nya. Ia berdiri menghadap Devis yang sudah beranjak dari ranjang tidur. Sambil menutupi tubuh nya dengan selimut.
" Harus nya aku yang bertanya apa yang sudah kau lakukan pada ku, Dev?"
Ekspresi Devis bingung masih ada sisa sedikit rasa kantuk nya tapi ia berusaha menegaskan mata nya menatap Maria sedang menangis.
" Apa maksud mu, Maria?"
Devis memijit kening nya mulai mengingat ingat bahwa tadi ia masih di ruang kerja nya namun tiba tiba saja mata nya mulai diserang rasa kantuk yang hebat tak tertahankan.
Maria semakin sengaja meningkatkan suara tangisan nya, ia berbicara keras pada Devis.
" K- KAU SUDAH MEMPERKOSAKU, DEV!"
Serasa disambar petir, mendengar ucapan Maria yang sangat lantang.
" APA?, tidak!, ini tidak benar."
Devis mencerna ucapan Maria, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak mungkin melakukan hal itu.
__ADS_1
" Kau memperkosa ku, kau sudah memperkosa ku!, hiks hiks."
Devis mulai sadar penuh, iya meyakini diri nya telah di jebak oleh permainan Maria.
" Tidak mungkin, aku tahu kau menjebak ku, Mariaa!" Devis mengeram, lalu kedua tangan Devis menarik kasar bahu Maria. Ia menatap dalam dalam kedua bola mata Maria, ia bisa melihat ada kebohongan pada Maria.
Tiba tiba pintu kamar terbuka Derick dan Laura kaget pada Devis dan Maria kedua nya sedang menutupi tubuh nya dengan selimut. Devis langsung mendorong Maria untuk menjauh dari jarak dekat Devis.
Melihat orang tua Devis sudah datang, Maria berakting seperti kesakitan ketika Devis mendorong tubuh nya.
" Akhh." Maria pura pura meringis tangisannya ia buat seolah olah agar orang tua Devis kasihan padanya.
" Devis, apa yang kau lakukan?, kenapa kau kasar pada Maria?'
Maria dengan akting nya berlari menghampiri Laura, kepala nya ia sandarkan pada bahu Laura sambil menangis.
" Apa yang terjadi Maria?, kenapa kau menangis?"
" Devis Tante, Devis...hiks hiks telah memperkosa ku."
" APA?" Laura terkejut.
" Devis, apa itu benar ?"
" Tidak Mommy, itu tidak benar!"
Derick pun ikut geram pada Devis, ia malu kalau putra nya sudah melakukan pelecehan pada Maria. Derick melangkah cepat mendekati Devis dan melayangkan kepalan tangan nya meninju putra nya sendiri.
BUGHH
" Kurang ajar kau, Devis!, Ayah tidak pernah mengajari kamu melakukan senonoh itu, Ayah sungguh kecewa pada mu!"
Devis kaget ia tidak menyangka Ayah nya sampai memberi bogeman telak tepat pada wajahnya, seumur umur ia tidak pernah mendapat pukulan dari Ayahnya, Devis shok baru hari ini dan kali ini, Ayah nya memukul nya.
" Ayah percaya pada Devis!, Devis tidak melakukan serendah itu."
" Omong kosong, lihat!, tubuh mu sudah telanjang. kau masih menyuruh Ayah untuk percaya!,
Devis tidak bisa berpikir, ia belum bisa berbuat apa apa ia hanya menginginkan kedua orang tua nya percaya. Namun rasa nya itu sudah terlanjur orang tua Devis tetap percaya pada Maria.
" Maria, kita akan membuat perhitungan kau jangan bermain main dengan ku!"
Maria semakin menekan akting nya, supaya Laura lebih percaya pada nya dari pada putra nya sendiri.
" Tante, Devis jahat Tante, hiks hiks."
Laura mencoba membujuk Maria, agar ia sabar menghadapi masalah ini.
" Tenang kan diri mu. Maria!"
Tiba bisa berkata kata lagi, Derick tiba tiba langsung bicara lantang meminta Devis untuk segera menikahi Maria.
__ADS_1
" Devis segera kau menikahi Maria!"
DEG