
Pria itu melakukan pembayaran di kasir, Lina memperhatikan pakaian ganti sebelum nya yang hanya di lipat asal saja.
" Maaf Tuan, biar baju ganti nya saya masukan ke paperbag."
" O iya boleh." Pria itu memberikan pakaian ganti sebelum nya.
Lina dengan cekatan melipat baju dan celana pria itu. Sedangkan pria itu menunggu sambil memperhatikan Lina melipat baju ganti dengan rapih. Selesai melipat baju dan celana itu Lina masukan kedalam paperbag yang berlogo toko butik Lina.
" Ini Tuan, saya simpan di paperbag."
" Terimakasih."
Pria itu menerima dan menenteng paperbag dan di tenteng nya sampai di dalam mobil pria itu masih memperhatikan Lina yang sudah membalikan badan nya kembali berbincang pada pegawai butik nya, sebelum ia nyalakan mesin mobil nya.
" Cantik." pria itu bergumam pelan.
Kemudian pria itu mengklakson memberi tanda bahwa ia pamit.
TINN
Lina menoleh pada mobil itu, ia tersenyum dan membungkuk pada pria yang membuka kaca mobil nya dan pria itu pun tersenyum pada Lina.
Sore hari nya pukul 5 tepat Lina sudah memarkirkan mobil nya, seperti biasa ia akan membantu Buk Jum di dapur untuk masak makan malam. Sampai di rumah ia meletakan kunci mobil dan tas di meja. Sebelum ke dapur Lina mengecek kamar Sakya sedang bermain gitar Lina membuka kamar Sakya rupanya ada teman sekolah nya sedang bermain gitar.
" Sore Bang Sakya." Ia tersenyum pada Sakya sambil tangan nya memegang handel pintu.
" Sore Mam."
" Oh..kau sedang bersama teman."
" Iya Mam, ini teman sekolah Sakya."
" Siapa nama teman kamu."
" Nama nya Aldo Mam, Do ini mama aku."
Aldo yang sedang bermain gitar terhenti ia ingin Salim pada Lina.
" Selamat sore Tante."
" Sore Aldo, ya sudah Mama masak ke dapur dulu ya, Bang Sakya. Tante Tinggal dulu ya Do."
" Iya Tante."
Hingga selesai memasak Teman Sakya belum juga pulang ia masih berada di kamar sedang bermain gitar dengan putranya.
Ini sudah hampir jam 7 malam teman Sakya belum pulang Lina pun bertanya?.
" Do rumah kamu dimana?"
" Rumah ku di perumahan Pesona estate Tante."
" Oh.." Lina sedang berfikir jauh sekali rumah nya.
" Sakya ajak Aldo makan malam bersama kita ya!"
" Iya Mam."
" Aldo makan malam dulu ya?"
" Iya Tante, terimakasih."
" Sakya."
" Iya Mam."
" Tolong berikan kaos ganti yang kau punya kasihan teman kamu masih memakai seragam ajak lah mandi biar segar tubuh nya."
" Iya Mam, pasti."
Lina pun tersenyum pada dua anak tampan itu. Lina kemudian kembali kedapur ia akan menyiapkan makam malam di meja. Tak lama dua anak tampan sudah bersih dan segar Aldo memakai kaos Sakya mereka berdua makan malam bersama.
__ADS_1
Selesai makan malam hingga pukul 9 malam Aldo belum pulang, Lina mengkhawatirkan teman Sakya. Lina kemudian mengecek kamar putra nya itu. Dilihat nya Sakya Dan Aldo sedang belajar bersama.
" Aldo."
" Iya Tante."
" Apa Aldo ingin menginap di sini bersama Sakya?"
" Tidak Tante, Aldo sedang menunggu Papa akan menjemput Aldo, dan Aldo sudah memberi alamat sini Tante pada Papa."
" Ya sudah teruskan lagi belajar nya, sebelum Papa kamu menjemput mu."
Setengah jam berlalu suara deru mobil berhenti di jalan aspal tepat rumah Lina.
TING TUNG
Lina membuka pintu rumah nya di benak nya ini pasti orang tua Aldo yang akan menjemput teman Sakya.
Setelah membuka pintu, di lihat oleh Lina seorang pria yang membelakangi pintu sepertinya pandangannya sedang mengedari teras dan halaman rumah Lina. Setelah mendengar suara pintu di buka pria itu membalikan tubuh nya.
" Selamat malam."
" Malam."
" Lho kamu yang tadi di ruko itu, kan?"
Lina teringat pria itu yang tadi minta di carikan kemeja dan celana.
" Euh?,..o iya betul, Pak."
Dilihat pria itu Lina sedang memakai kaos kebesaran dan celana jeans pendek. Pria itu memperhatikan kedua kaki Lina yang jenjang, namun mata nya buru buru ia alihkan ke arah lain.
" Maaf saya ingin menjemput putra saya, Aldo."
" O iya sebentar ya Pak!"
Setelah Lina masuk ingin memanggil putranya, pria itu jadi tahu rumah Lina.
Lina masuk kedalam sebelum nya ia berganti baju dan rok panjangnya dan segera memanggil teman Sakya di kamar, tapi rupanya Sakya dan anak itu tertidur di tempat tidur Sakya. Lina ingin membangunkan teman Sakya, namun ia urungkan.
" Aduh..maaf Pak !,putra anda sudah tidur rupanya."
Pria itu langsung berdiri dan menatap Lina.
" Oh..maaf jadi merepotkan Ibu, memang ini sebenarnya sudah jam waktu nya dia tidur."
" Apa sebaiknya saya bangun saja, putra Bapak."
" Bagaimana di tunggu dulu, saya kasihan dengan putra saya."
" Oh..ya sudah Bapak silahkan duduk saja dulu, saya ambilkan minum, Bapak mau minum apa?"
" Teh saja, saya sudah seharian minum kopi di kantor."
" Baiklah, sebentar!"
Lina sudah membawakan teh manis itu dan di letakan di meja teras.
" Ini silahkan di minum!"
" Terimakasih."
Pria itu langsung meminum teh yang di sediakan oleh Lina. Setelah itu cangkir teh di letakan di meja. Lina yang duduk agak berjauhan semakin tidak enak berbincang dengan pria yang baru di kenal nya.
" Maaf mengganggu Ibu, lain kali saya tidak seperti ini lagi."
" Eumm..tidak apa, Pak."
" O iya, dari sejak kita ketemu siang tadi saya belum memperkenalkan diri saya, nama saya Bimo Anggara panggil saja Bimo." Bimo langsung berdiri memberikan tangan pada Lina, Lina pun berdiri memberikan tangan pada Bimo.
" Saya Lina, Pak."
__ADS_1
Saat kedua nya salaman Bimo menatap wajah Lina, merasa yang di tatap tidak mau lama lama di pandangnya Lina langsung menunduk. Bimo pun buru buru memutuskan pandangan nya.
Mereka duduk kembali.
" Jadi putra ku satu sekolah dengan putra mu."
" Iya Pak."
" Saya tidak menduga kalau tadi siang kita bertemu rupanya putra saya masih satu sekolah dengan putra mu."
" Bapak bekerja di mana?"
" Saya bekerja di perusahaan batu bara, kantor saya letak nya di jl Flamboyan Jakarta.
" Oh..." Lina mangangguk anggukan kepala.
" Sudah hampir jam 11 malam, apa sebaik nya saya bangun kan putra saya. Maaf saya tidak enak sama kamu." Bimo sambil melirik arloji nya
" Iya sebaik nya seperti itu, Pak."
Lina kemudian berdiri dan masuk kedalam kamar Sakya tapi saat ingin membangun kan Aldo, Aldo rupanya susah di bangunkan malah membalikan tubuh nya memeluk bantal. Membuat Lina jadi tidak enak pada Ayah nya Aldo.
" Duhh..gimana ini?, Aldo..do..Aldo Papa mu sudah menjemput." Lina sudah mengguncangkan bahu anak itu tetap saja tidak terganggu.
" Haaahh..susah juga anak ini bangunin." Lina sedikit panik sambil menggarukkan kepala.
Terpaksa Lina harus memberitahukan pada Bimo.
" Maaf putra Bapak susah juga di bangunin, rupanya dia sangat lelah."
" Oh..baik biar saya saja yang bangunin."
Bimo langsung masuk dan ingin menuju kamar Sakya.
" Dimana kamar nya?"
Lina melangkah Bimo mengikuti Lina dari belakang.
" Maaf saya masuk ya!"
" Iya."
Bimo memperhatikan Aldo yang sangat lelap tidur nya. Matanya sempat mengedar kamar Sakya, ada sebuah gitar Aldo rupanya anak ini bermain gitar bersama putra Lina.
" Do Aldo..ini Papa Nak."
Bimo mengguncang bahu Aldo tapi tetap saja tidak bangun. Lina sudah kasihan dengan Bimo sudah seharian bekerja namun sudah jam segini masih harus menjemput putra nya.
" Begini saja Pak, biar Aldo menginap saja."
Bimo mempertimbangkan ucapan Lina, dia pun juga sudah lelah tubuh nya karena sudah seharian bekerja dan juga baru tiba dari luar kota langsung ke kantor.
Bimo dan Lina akhirnya keluar dan kembali ke teras.
" Maaf Lina..Aldo jadi merepotkan kamu."
" Tidak apa apa Pak lagian biar Aldo berangkat sekolah dari sini saja."
" Iya kau benar, Saya memang sering meninggalkan Aldo bekerja saya sering keluar kota. Mungkin dia kesepian tidak ada teman padahal di rumah sudah ada pengasuh dan ART. Dan Mama nya Aldo tidak tinggal lagi bersama kami, dia sudah menikah lagi.
maaf saya harus jelaskan ini biar kamu tahu bagaimana putra saya Aldo rupanya kesepian dan butuh teman, bukan saya mau curhat."
" Iya iya tidak apa, Pak."
" Ya sudah saya pulang dulu!, saya titip putra saya. Dan kalau bisa biar saya jemput putra saya pagi pagi biar Sakya bareng dengan mobil saya, sekalian saya bawakan seragam dan buku putra saya."
" Eumm.. iya Pak tidak apa."
" Permisi dulu."
Lina kemudian menutup pintu sampai Bimo melajukan mobil nya.
__ADS_1
" Ahh..Aldo Aldo ada ada saja kau, Nak." Bimo bergumam sambil fokus menyetir.