
Freddy dan Maria melintasi jalan yang sepi disepanjang jalan di setiap sisi kiri kanan jalan terdapat pohon pohon besar yang meneduhkan jalan, cuaca saat itu nampak cerah. Freddy melajukan motor nya dengan kecepatan sedang, daun daun kering berterbangan di kala motor itu melintas.
Maria tersenyum terpesona melihat pemandangan yang indah ketika motor yang mereka tunggangi kini melintasi danau biru dari sebrang danau terdapat sebuah bukit dengan gumpalan awan putih menutup separuh bukit itu.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan dari mansion Freddy, Freddy berhenti motor gedenya di parkir pada sisi danau. Airnya sangat tenang. Freddy dan Maria kemudian turun.
" Wow..tempat ini indah sekali Freddy."
Freddy melepaskan helm dan kacamata nya lalu membantu melepaskan helm Maria.
" Iya..dulu Kakek ku sering mengajak ku ketempat ini, memancing ikan."
Kemudian Freddy menggandeng tangan Maria, mereka melangkah dan berdiri di pinggir danau itu.
" Tempat ini sangat tenang, ketika Kakek ku meninggal aku masih suka berkunjung di tempat ini..bila aku bertengkar dengan Ayah ku."
" Oh..lalu?"
" Aku menghabiskan waktu ku disini kadang di temani oleh Simon teman Kakek ku, Ayah ku suka memarahi Kakek ku bila kami suka menghabiskan waktu di tempat ini, saat itu aku memang masih kuliah..Ayah ku marah pada Kakek ku karena mengabaikan tugas tugas kuliah ku." Freddy tersenyum karena ingatan nya kembali mengenang masa masa itu.
" Freddy apakah kau dan Ayah mu masih bertengkar?"
" Terakhir pertengkaran hebat kami terjadi dua tahun lalu, aku pergi meninggalkan rumah."
" Kenapa?"
" Ayah ku masih saja menuduh Kakek yang menyebabkan aku jadi lelaki yang melawan Ayah nya, sering nya bertengkar dengan Ayah ku, aku menjadi pria yang tidak terkendali sering mabuk dan menghabiskan uang dan.. parah nya lagi aku terjerumus obat terlarang."
" Ayah menghukum ku membiarkan aku menghidupi diri ku sendiri."
" Bagaimana cara nya kau membiayai kehidupan kamu?"
" Sering nya Kami menghabiskan waktu bersama Kakek ku, Kakek mengajari ku mereparasi mobil tua nya. Kakek ku ahli membuat meja, kursi dan lemari. Aku sering menemani Kakek sedang membuat meja dan kursi di situ aku jadi pandai membuat macam meja dan kursi."
" Ya..jadi selama aku meninggalkan rumah aku mengandalkan keahlian ku untuk membiayai hidup ku, aku membuka usaha bengkel, termasuk membetulkan mobil Ayah mu. Aku butuh modal untuk mengembangkan usaha ku dengan bekerja separuh waktu menjadi supir Ayah mu."
Maria tersenyum, kini Maria mengerti Freddy bekerja di rumah nya menjadi supir Ayah nya.
" Freddy justru laki laki seperti mu tidak akan membuat istri mu nanti kesusahan."
__ADS_1
" Benarkah?, Aku akan bekerja apapun untuk membahagiakan kamu, sayang. Dan nanti bila anak kita lahir aku yang akan membuat ranjang bayi kita, kau setuju?"
" Iya freddy aku setuju."
Tiba tiba suara seorang lelaki memanggil Freddy.
" Tuan Freddy."
" Hai Pak Simon, kemarilah!" teriak Freddy melihat Simon masih jarak agak jauh.
" Dia yang kau katakan teman Kakek mu?'
" Iya Maria."
Lelaki tua itu mendekati Freddy dan Maria.
" Apa kabar Pak Simon?"
" Baik Tuan, sudah lama sekali Tuan tidak berkunjung kesini?"
" Iya Pak Simon, o iya kenalkan ini calon istri ku, Maria."
" Sama sama Nyonya."
" Bagaimana dengan rumah kayu Kakek ku, Pak Simon?"
" Aku masih merawat nya Tuan, Tuan ingin melihatnya?"
" Tentu Pak Simon!, Maria kita lihat rumah kayu Kakek ku."
Mereka lalu menuju rumah kayu itu. Nampak dari luar rumah itu masih di rawat dengan baik. Sampai mereka masuk didalamnya terlihat sangat nyaman.
" Sudah lama aku tidak kesini, terimakasih Pak Simon kau masih menjaga dan merawat rumah Kakek ku ini."
" Sama sama Tuan Freddy."
Simon kemudian meninggalkan Freddy dan Maria. Maria melangkah melihat lihat isi ruangan rumah kayu itu.
" Aku dan Kakek dulu suka bermalam di sini, rumah ini juga aku bersama Kakek dan juga Pak Simon yang membuat nya."
__ADS_1
" Oh ya?, Rumah ini sangat nyaman freddy."
Maria melangkah dan berdiri di sisi jendela, rumah kayu itu berada di pinggir danau. Maria menatap danau itu dari jendela dalam kamar.
Freddy kemudian menggandeng Maria mengajak untuk melihat pemandangan danau dari beranda. Pada sisi beranda ada tempat untuk barbeque dan juga kursi panjang dan kursi goyang.
" Waow..aku bisa betah berlama lama di sini Freddy."
" Iya sayang, semua isi dalam rumah ini kami yang membuat nya."
Maria mengangguk anggukan kepala.
" Lihat Freddy! ada angsa di sana, sedang mandi."
" Kau berdiri lah di sana, aku akan memfoto mu."
" Baiklah."
Maria kemudian berdiri membelakangi angsa angsa sedang berbaris untuk di foto. Kemudian Freddy pun ikut mengambil foto berdua dengan Maria, tangan kanan Freddy melingkar di pinggang Maria. Foto itu Freddy jadikan wallpaper pada ponsel nya.
" Lain waktu kita bermalam di sini, kau mau kan?"
" Tentu saja Freddy."
Freddy kemudian mengajak Maria duduk di kursi beranda rumah kayu. Tapi pada saat Maria ingin duduk di samping Freddy, Freddy menarik pinggang Maria untuk duduk di paha Freddy. Maria di pangku nya, membuat Maria kembali gugup.
" Kau wanita pertama dan satu satu nya yang ku ajak ke tempat ini."
" Benarkah?"
Freddy mengangguk, lalu tangan kanan Freddy mulai mengusap usap perut Maria. Tangan kiri nya menarik leher Maria untuk mengecup bibir Maria. Kedua nya mulai memainkan lidah nya dan saling mengait. Freddy memasukan tangan dari dalam baju Maria. Sambil memagut bibir Maria tangan Freddy meremas pelan dada kanan Maria.
" Euhhh.." Maria melenguh menggeliat kan tubuh nya merasakan remasan yang kini kedua dada Maria di mainkan tangan Freddy memainkan pucuk dada Maria dan meremas nya.
Dari tangan satu kini kedua tangan Freddy bersamaan meremas lembut dada Maria dan memainkan kedua pucuk nya. Maria kembali melenguh kedua tangan Maria di letakan pada bahu kanan kiri Freddy, Maria ingin mendapatkan pelepasan wajah nya sampai menengadah ke atas.
" Euughh Freddy."
Wajah Maria di letakan pada bahu nya. Ketika sudah mendapat pelepasan. Hanya dari remasan tangan Freddy di kedua dada nya.
__ADS_1
Freddy tersenyum kemudian menggendong Maria ala bridal ke dalam rumah kayu sampai kesebuah ranjang.