
" Kita makan dulu, setelah ini kau kerumah ku" Devis tersenyum mesum.
" Iya baiklah." Namun Lina mulai terasa mual mulai menyerangnya, Lina merogoh dalam tas nya mencari minyak kayu putih untuk di hirup nya. Lina tidak terasa matanya terpejam ia pun tertidur. Devis membiarkan nya.
" Sayang kita sudah sampai."
" Euh?, iya."
Lina bangun namun tubuh nya terasa agak lemas, Lina menguatkan diri nya untuk melangkah masuk ke sebuah restoran, Devis menggandeng Lina.
Saat Lina dan Devis masuk ke dalam restoran tidak sengaja mata Lina melihat seorang laki laki bertubuh liat namun sangat bersih kulit nya, duduk bersama seorang laki laki juga di samping nya sedang memperhatikan Lina dan Devis. Namun mata laki laki itu sepertinya hanya tertuju ke arah Devis saja. Lina bertanya tanya apakah laki laki itu mengenal Devis.
Devis dan Lina menuju meja yang kosong, saat kedua nya melangkah melewati meja yang di tempati oleh laki laki dengan bersama teman nya tatapan nya makin lekat menatap ke arah Devis. Lina dan Devis duduk pada kursi yang Devis pilih, sebelum memesan makanan Lina masih memperhatikan laki laki itu sampai membalikan tubuh nya entah rasa nya laki laki itu apakah ingin menghampiri meja Devis dan Lina dan ingin menyapa Devis?. Lina kemudian bertanya pada Devis.
" Dev sayang, aku perhatikan laki laki itu menatap mu terus..apakah kau mengenalnya?"
" Iya sayang biarkan saja, aku sudah berusaha mata ku tidak melihat nya sedikit pun."
" Kau ingin makan apa sayang?" lanjut Devis.
Lina kemudian melihat lihat daftar menu, lalu mata nya tanpa sengaja melihat laki laki itu tersenyum pada Devis, lalu Lina melirik pada Devis namun ekspresi wajah Devis langsung berubah dingin menatap pria itu.
Dan Lina heran melihat laki laki bertubuh atletis itu tersenyum pada Devis, dan yang mengejutkan Lina..laki laki itu mengerlingkan mata sebelah nya pada Devis.
" Sayang..kita pindah dari sini!" ajak Devis tiba tiba dan langsung berdiri.
" Iya sayang..hayuu!"
__ADS_1
Devis lalu mencari jalan pintu keluar yang lain untuk menghindar dari laki laki homo itu Devis tidak mau melewati meja laki laki itu. Sampai di luar Lina ingin tertawa, wajah Devis masih terlihat kesal buru buru mereka masuk mobil. Saat Devis duduk di kemudi, Devis langsung menggidikan kedua bahunya.
" Hiiiiiiiihiiiiihiiiii." Devis seperti orang yang menggigil.
Lina semakin tidak bisa menahan ketawanya
" Owh..ya Tuhan!, kenapa hari ini sial sekali."
Lina semakin ketawa.
" Sepertinya kamu harus mengendutkan perut kamu, Devis sayang."
Devis akhirnya memilih tempat makan yang lain. Lina sebelum nya meminta Devis ingin makan karedok dan nasi rames, Devis dan Lina menuju restoran makanan khas Sunda.
Devis sedikit heran, melihat Lina makan nya banyak.
" Tumben kau makan banyak?"
" Apa kau sakit?"
" Tidak,.tadi aku memang terasa lemas namun dengan makan ini,.seperti nya tubuhku merasa baikan."
Menu yang Lina pilih adalah karedok dan nasi rames komplit dengan semangkuk sayur asam sambal dan lalapan. Lina melahap makanan itu tanpa nasi. Selesai bersantap Lina melihat gerobak rujak dan asinan yang tak jauh dari resto itu.
" Bang rujak satu bungkus ya."
" Baik Neng."
__ADS_1
Devis masih menunggu Lina dalam mobil, setelahnya Lina masuk dengan membawa rujak itu. Di perjalanan menuju rumah Devis Lina menyantap rujak mangga yang asam sekali, saat Lina menyantap mangga asam Devis mengernyitkan dahinya.
" Apa tidak asam mangga itu."
Devis melihat Lina mengunyah mangga itu, nampak biasa saja.
" Tidak kau mau coba?"
" Tidak asam?"
Devis mencicipi mangga muda yang di suapi ke mulut Devis oleh Lina.
" Asam sayang..bagaiman bisa kau bilang tidak asam." namun Devis berusaha menelan nya.
" Kau mau lagi?"
" Tidak sayang, asem."
Lina terkekeh, Devis mulai memperhatikan Lina atas kejanggalan diri Lina saat fokus menyetir. Lina tadi mengeluh agak mual lalu dan lemas tubuh nya, lalu ingin makan yang segar segar sekarang ini Lina sedang menikmati rujak mangga muda.
" Apa jangan jangan Lina hamil?" Batin Devis.
" Sayang."
" Iya." Lina masih mengunyah mangga asam itu.
" Apa kau tidak menyadari pada tubuh mu?"
__ADS_1
" Tidak aku biasa biasa saja."
Devis kemudian diam diam melewati jalan menuju rumah nya, Ia meneruskan mobilnya ke rumah sakit.