CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Mengikuti adrie


__ADS_3

Lina masih penasaran dengan pembicaraan suaminya ditelpon siang tadi, didalam kamar ia gelisah merasa ingin mempertanyakan kepada suaminya.


Apakah suaminya ada wanita lain? apa selama ini Adrie telah berselingkuh?


" Ahhh..kenapa harus seperti ini perasaanku? kenapa firasatku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres?. Lina yang terbaring diranjang membalikkan badannya miring menghadap ke kanan ke kiri kemudian wajahnya menatap langit kamar


" Aku harus mempertanyakan?, Bagaimanapun aku berhak tahu!.Tidak mungkin kalau bicara kepada teman ditelpon seperti orang yang sedang kasmaran."


Kemudian Lina bangun dari ranjangnya dan masuk ke walk in closet untuk membasuh wajahnya. Setelah itu Lina sudah bersiap untuk menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang tv. Namun pikirannya berubah kembali dan menghentikan langkahnya.


" Tapi aku harus darimana untuk memulainya? pasti Adrie akan berbohong dan tersinggung nantinya.." Lina berfikir kembali.


Lina semakin bimbang, tiba tiba diotaknya muncul sebuah ide.


" Apa aku harus mengikutinya?....yaa! sebaiknya aku harus cari tahu sendiri..sepulang bang Adrie dari kantor."


" Aku rasa Adrie sering pulang larut malam bukan alasan karena ada pekerjaan, pasti dia berbohong."


Di kantor Devis.


Tok Tok


" Masuk !


" Pak Devis, Bapak Yudo ingin menemui anda"


" Baik! Tolong bilang Bu Hilda untuk membuatkan minum dan bawa keruangan saya."


" Baik Pak Devis"


" Pak Yudo silahkan! Pak Devis sedang menunggu anda."


" Baik Pak Johan Trimakasih."


Johan membukakan pintu untuk Yudo mereka berdua masuk keruangan Devis.


"Selamat sore Pak Devis..kenalkan saya yudo"


Devis dan Yudo berjabatan tangan, mereka bercakap cakap di sofa


" Silahkan duduk Pak!"


" Baik Trimakasih Pak Devis."


Mereka membicarakan bisnis mereka dan mengadakan kesepakatan tentunya.


" Baik Pak Yudo saya dengan sekretaris saya akan mensurvey restoran Bapak, semoga saya bisa membantu."


" Besok saya tunggu di restoran saya."


" Baik Pak Yudo."


Esok harinya Lina sudah menyiapkan keperluan untuk anak anaknya dan menitip pada pengasuh dan ARTnya, beralasan ia akan menemui teman arisannya dan masalah toko Lina menyerahkan kepada Surya dan Lesti yang sudah dipercayakan, ia bertekad untuk mengikuti suaminya hari ini juga.


Lina sudah menghidupkan mesin mobil, tapi sebelumnya Lina menelpon Adrie sekedar basa basi.


" Halo bang.."


" Ya sayang.."


" Abang hari ini langsung pulang?"


" Iya sayang harusnya begitu..tapi abang ada urusan pekerjaan mungkin pulang larut malam."


" Baiklah bang!"


Telpon ditutup Lina mulai mengemudikan mobil dia berusaha tenang dan berharap semoga ini jalan yang terbaik.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa tindakan ku ini bodoh atau tidak?. Sampai sejauh itu aku harus mengikuti suamiku?"


" Tuhan aku memohon semoga tindakan aku ini bukanlah tindakan yang bodoh yang aku ambil."


" Semoga jalanan tidak macet."


Lina pun membulatkan niatnya itu, perjalanan menuju bandara cukup longgar, ia berharap dia lebih dulu sampai sebelum Adrie keluar dari bandara.Sekitar 30 menit Lina menunggu, namun belum nampak sama sekali kemunculan Adrie.


" Haaahhh.." Lina menarik nafas hatinya merasa tidak tenang.


Menit ke menit akhirnya yang Lina tunggu tiba, yaa..! suaminya sudah muncul keluar dari area bandara Adrie melenggang agak cepat langkahnya, dan menghentikan mobil taxi dengan tergesa gesa Adrie masuk kedalam taxi itu.


" Itu bang Adrie, alasan katanya masih ada pekerjaan tapi dia sudah keluar?"


tapi kenapa ia naik Taxi..? kalau menuju arah pulang harusnya naik bis saja."


Lina terus memantau suaminya dari dalam mobil.Buru buru ia mengemudikan mobil dan mengikuti taxi yang di tumpangi Adrie agar Lina tidak kehilangan jejak.


Mobil sudah menjauh dari area bandara Lina mengambil jarak agar tidak ketahuan bahwa taxi itu sedang diikuti olehnya.


Taxi yang membawa Adrie sudah masuk daerah Jakarta Barat, ia mulai bertanya dalam hatinya?.


" Kenapa taxi itu tujuannya ke wilayah sini?"


apa mungkin Adrie menemui temannya disekitar wilayah sini?"


Mobil yang ditumpangi Adrie berhenti karena lampu merah, namun mobil Lina terhalang dengan mobil sedan didepannya.Lina melihat jam yang melingkar di tangannya.


" Ini sudah jam 1.30 siang..ahh ck mobil sedan itu kenapa main salip saja sihh." Lina berdecak kesal.


Lina menunggu lampu hijau, tapi begitu lampu merah itu sudah berganti hijau mobil sedan didepan mobil Lina sedikit lambat untuk maju.


Lina mengklakson mobil sedan itu, agar segera jalan.


Tinn Tinn.


Lina semakin kesal, hatinya tidak sabar untuk cepat cepat mengemudikan. Mobil sedan itu akhirnya melaju, untung saja taxi itu belum terlalu jauh dari pantauan Lina.


" Itu taxinya.'


Lina mulai jaga jarak dari taxi itu, setelah melaju beberapa meter di liatnya taxi itu menyalakan lampu sein kiri.


Mobil taxi itu mau arah belok kiri, bang Adrie mau kemana yaa..?. Lina penasaran


Lina terus mengikuti mobil taxi itu, dan memasuki kawasan apartemen.


dan akhirnya mobil taxi itu jalan melambat dan masuk ke sebuah apartemen.


Lina jadi ingat dengan percakapan suaminya di telpon dua hari lalu.


" Taxi itu masuk ke apartemen..? apa ini yang kemarin aku dengar pembicaraan suamiku dengan seseorang?"


Lina seperti berdialog dengan dirinya sendiri.


Mobil dikemudikan Lina masuk ke area apartemen namun dia juga khawatir Adrie akan melihat mobil yang di kemudikan Lina.


Lina buru buru memarkirkan mobil diluar apartemen dengan asal, karena ia tidak mau kehilangan jejak suaminya.Tidak lupa mengunci mobil dahulu seperti detektif Lina jalan sambil sembunyi di balik mobil mobil diparkiran.


Adrie sudah turun dari taxi dan berjalan menuju lift Lina cepat cepat melangkah dan bersembunyi di pilar tiang pondasi yang tidak jauh dari Adrie berdiri.


Adrie menekan tombol lift, pintu lift terbuka Adrie kemudian masuk, namun Lina tidak tahu Adrie hendak berhenti dilantai berapa? pikirannya seperti menemukan jalan buntu.


Namun ia mendengar petugas itu menanyakan hendak mau kelantai berapa kepada Adrie.


" Bapak mau ke lantai berapa?"


" Ahh saya ke lantai 115 Pak, trimakasih!"

__ADS_1


Lift pintu pun menutup. Lina buru buru masuk di lift sebelah, dan didalam ada petugas.


" Selamat siang Buk, mau kelantai berapa?"


" lantai 115 Pak!"


" Baik..!"


Lina berdiri dan melihat angka angka yang menyala warna merah berjalan, ia tidak sabar untuk mengejar jejak Adrie, begitu nomor angka sudah di 115.


Ting ! pintu lift terbuka.


" Silahkan buk!'


" Trimakasih pak!"


Lina mempercepat langkahnya ditengoknya ke kanan dan ke kiri tapi dia tidak melihat adrie ia sudah kehilangan jejak. Tidak mau putus asa Lina terus menyusuri lorong melewati kamar kamar berharap ada tanda keberadaan Adrie.


" Tuhan bagaimana ini? aku kehilangan jejaknya."


Saat Lina menyusuri lorong ke arah kiri, langkahnya terhenti pendengarannya menangkap suara Adrie sedang berbicara dengan seorang wanita.


" Itu suara bang Adrie..!"


Ia memajukan kepalanya setengah mengintip dibalik tembok. Dan benar saja, penglihatan Lina tidak salah dengan sangat jelas Adrie berada didepan kamar wanita itu dan wanita itu memeluk suaminya, dan suaminya membalas pelukan dengan erat.


" Sayang aku merindukan kamu.." cepatlah masuk!


Lina yang melihat suaminya beradegan mesra dengan perempuan lain merasa tidak percaya dan menggelengkan kepalanya tubuhnya yang mulai terkulai lemas bersandar pada dinding kemudian merosot duduk sambil menangis dengan mulut ditutup oleh tangannya.


" Hikkss..hiiksss...ya Tuhan..rupanya benar firasat ku suamiku telah membohongiku selama ini..hiiiks hiikss."


Lina menangis namun suara tangisannya ia tutup masih dengan tangannya.


" Hiikkss...hikkss...hikkksss...hikssss." Tangis Lina tersedu sedu ia berusaha menghentikan tangisnya.


10 menit Lina menangis, ia sadar bukan seperti ini menangis berlama lama. Lina bangkit berdiri dengan dada yang naik turun karena nafasnya. Ia segera mengusap air matanya dan mulai merencanakan sesuatu bagaimanapun Lina harus membuktikan dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang diperbuat suaminya dikamar apartemen dengan seorang wanita.


Ia mulai melangkahkan kaki dan mendekati pintu kamar dimana Adrie masuk tadi.Tangannya merogoh kedalam tas dan mengambil ponselnya sambil matanya menatap pintu kamar itu.


Ibu jarinya membuat pola S membuka kunci layar ponsel dan menyentuh kontak panggilan nama 'suamiku'.


Nada ponsel pun tersambung, Lina berhenti dekat pintu itu dan terdengar jelas suara nada ponsel Adrie dari dalam kamar apartemen itu.


Dari dalam kamar Adrie yang sudah polos dengan Tiara di atas ranjang melihat layar ponsel ada panggilan dari istrinya itu, ia ragu untuk menjawab namun dering ponsel itu berkali kali meminta agar Adrie segera mengangkatnya.


Lina berusaha mati matian untuk bersikap tenang, ia tidak mau gegabah dengan tindakannya, di dalam kamar apartemen Adrie menjawab teleponnya.


" Halo bang !..kenapa lama sekali angkat telpon dariku?"


" Iya sayang abang tadi habis dari toilet!


Tiara yang berada disisi Adrie hanya diam termenung. Adrie yang melirik sebentar sambil menjawab telepon tangannya langsung menarik pinggang Tiara.


" Ada apa sayang..?"


Dari luar depan pintu kamar apartemen.


" Abang bisa pulang cepat?, Aku sih tidak memaksa kalau memang abang masih ada urusan pekerjaan."


" Sepertinya abang tidak bisa pulang cepat sayang, karena pekerjaan abang kemungkinan bisa selesai sampai jam 9 nanti."


Lina tersenyum getir mendengar alasan Adrie padahal ia hanya memancing saja.


" Oke baiklah bang!, Kalau memang tidak bisa pulang cepat."


Telpon pun ditutup oleh Lina, Lina mulai beraksi dan bersiap untuk melabrak suaminya yang berada didalam kamar apartemen, ia mengumpulkan segala kekuatannya untuk menghadapi apa yang terjadi didalam nanti

__ADS_1


Lina menarik nafas dalam dalam dan jari tengahnya siap untuk mengetuk pintu itu.


__ADS_2