
Selesai mengerjakan laporan sembakonya Lina tersadar ruangan dalam rumah sangat sepi. Ia melihat jam di dinding pukul 9 malam, Lina menutup buku besar dan meletakan kalkulator dan pena nya dan akan di letakan di meja kamar tidur nya. Saat melewati ruang tv, Lina melihat Aileen dan Aldeen tertidur di sisi Devis. Lina buru buru ingin memindahkan Aldeen di kamar Ia meletakan buku besar nya di kamar nya.
Kemudian Lina mendekati Aldeen dan menggendong Aldeen sampai di ranjang kamar anak anak Lina, dan setelah nya Lina akan menggendong Aileen. Tubuh Aileen berat Lina masih sanggup walau harus mikir dua kali menggendong Aileen. Tapi tiba tiba tangan nya di tahan oleh Devis.
" Biar aku saja sayang."
Lina mengangguk.
Devis terbangun ketika mendengar suara pintu kamar yang di buka oleh Lina saat memindahkan Aldeen. Devis lalu menggendong Aldeen dan meletakan di ranjang kamar anak anak. Bagi Devis menggendong Aileen sama saja menggendong bantal terlihat Lina Devis membawa Aldeen ringan ringan saja. Padahal bobot berat Aileen 40 kilo.
Lina menyelimuti kedua anak itu, ia tidak mau anak anak nya kedinginan karena AC di kamar mereka. Lina dan Devis keluar dan menutup pintu kamar Aileen dan Aldeen.
" Terimakasih, Dev."
" Iya sayang."
" Maaf ya!, kau menunggu ku sampai kau tertidur."
" Tidak apa."
" Kau ingin menginap disini?"
" Kau yakin, aku menginap?, heum?" Devis tersenyum.
" Kau tidur di kamar biasa kau menginap."
" Sayang..besok kita ke makam Adrie."
" Iya."
" Kita berbincang bincang dulu saja, ini malam Minggu sayang."
" Baiklah!"
Lina dan Devis memilih tempat untuk berbincang di teras.
" Aku akan stay di Jakarta mempersiapkan pernikahan kita."
" Baik, kita bicarakan pada Kak Abrey dan Kak Michel, dan..kedua orang tua ku."
__ADS_1
" Kapan?"
" Mulai besok saja."
" Lalu orang tua mu?"
" Orang tua ku dan adik ku di Manado."
" Manado?"
" Iya, semenjak Papa ku sudah pensiun, Papa dan Mama ku memilih tinggal di Manado, Dev."
" Baik aku akan hubungi Johan untuk menyiapkan tiket ke Manado."
" Kau sudah siap untuk bertemu dengan kedua orang tua ku?"
" Im already One hundred percent."
" Kau belum pernah berkunjung ke Manado Kan?"
" Belum?"
Mereka terdiam sesaat.
" Kau ingin jalan?"
" Jalan?, kemana?"
" Ini malam Minggu sayang."
" Oke, aku ganti baju dulu."
Malam itu juga Devis mengajak Lina jalan menuju tempat kuliner malam hari di bilangan Jakarta pusat. Tempat pusat nya kuliner yang dipasang dengan tenda tenda berjejer di emperan pinggir jalan. Walau tempat nya di pinggir jalan namun banyak mobil mobil mewah yang berkunjung di tempat itu, Banyak pembeli yang berdasi atau eksklusif yang menikmati jajanan di tempat itu. Sangat ramai penikmat kuliner pinggir jalan.
" Kau suka tempat ini?"
" Tentu Dev."
Aneka ragam makanan yang murah meriah namun rasa nya tak kalah dengan di resto resto mewah. Banyak pilihan nya bubur Ayam, soto, sate, ketoprak, pecel Ayam dan roti pisang bakar dan makanan lain nya berjejeran di tempat itu.
__ADS_1
Devis menggandeng tangan Lina mereka memilih makanan ringan saja.
" Kau mau apa?"
" Bubur Ayam saja."
" Aku soto."
Sambil menunggu pesanan makanan mata mereka mengedar tempat yang mereka pilih.
" Sudah lama rasa nya tidak makan di tempat seperti ini, Dev. Dulu waktu masih kuliah aku dan teman teman suka nongkrong di tempat seperti ini."
" Kau sudah mengenal Adrie waktu masih kuliah?"
" Sudah, cuma waktu itu Adrie belum menyatakan suka pada ku. Adrie memendam rasa suka pada ku sudah lama. Begitu dia sudah bekerja Adrie baru menyatakan suka pada ku."
Obrolan mereka terhenti ketika pesanan makanan mereka datang.
" Silahkan boss." ucap laki laki yang membawa soto untuk Devis.
" Iya terimakasih."
" Mau minum apa nih, boss.?"
" Teh hangat saja."
Begitu juga pesanan bubur ayam untuk Lina sudah datang.
" Bubur Ayam komplit nya. Mpo."
" Iya terimakasih."
" Mpo mau minum ape?"
" Teh hangat saja."
" Oke bentar ye Mpo."
" Iya."
__ADS_1