
" Menikah?" ucap Devis.
" Kau akan segera menikah bukan?, apa kau tidak malu berada di kamar dengan ku?"
apa kau tidak malu seorang Devis Bakker yang akan segera menikah masih mencari j****g, seperti ku ini, Devis?"
Kini giliran Lina yang ingin merendahkan Devis. Devis tahu pemberitaan hoax itu memang sudah tersebar di internet.
" Hem!" Devis menyunggingkan sudut bibirnya.
" Seharusnya nya kau menghargai calon mu, Devis!"
" Dan kau cemburu?"
" Cihh!, amiit amiit!"
Lina geram, di katakan diri nya cemburu
Devis ingin tertawa, namun sekuat tenaga Devis tahan.
" Ya, aku akan menikah pada wanita yang aku cintai."
Lina kemudian melepaskan tangan Devis yang masih mendekapnya. Lina sudah tidak tahan berada di dalam kamar bersama Devis. Lina sudah risih dengan Devis.
__ADS_1
" Kau ingin pergi?, kau tidak bisa pergi dengan pakaian mu seperti ini, Lina."
Lina langsung melihat diri nya, pakaian nya sudah tidak berbentuk karena ulah Devis.
Devis menahan Lina kembali.
" Kau mau apa lagi, Devis ?"
Devis menarik Lina dan mendekap Lina erat, tiba tiba Devis perlakukan Lina lembut, emosi Devis sudah mereda. Ia tahu Lina cemburu dengan pemberitaan yang tidak benar itu. Devis kini membelai pipi Lina lembut.
" Kau kesini dengan siapa?" ucap Devis lembut.
Lina semakin bingung di buat nya, Devis tadi seperti iblis yang melecehkan Lina habis habisan, kini sudah berubah kembali menjadi Devis yang Lina kenal.
" Aku sedang liburan dengan anak anak, Kak Dev." Lina sengaja menekan memanggil Devis kembali dengan menggunakan kata Kak.
Lina kemudian diam, ia sudah malas berdebat lagi dengan Devis.
" Lina."
" Iya."
" Maafkan aku."
__ADS_1
Lina mengangguk.
" Lihat aku sayang!"
Devis menatap wajah Lina lekat lekat, kedua tangan nya menangkup kedua pipi Lina.
" Apa yang di beritakan aku akan menikah, itu tidak benar ada nya."
" Eugh?, kenapa?, seandainya pemberitaan itu benar, aku juga tidak bisa menahan mu, Dev. itu bukan urusan ku, Dev."
" Dan kalau Itu pemberitaan yang tidak benar pun, tak perlu kau meyakin kan aku, untuk percaya pada mu."
" Lina, aku sudah sangat sayang pada mu, aku berhak meyakinkan kamu."
" Tidak Devis, kau kasar. Tidak seharusnya kau perlakukan aku seperti tadi."
" Aku tahu, itu semata mata karena aku cemburu, karena aku sayang pada mu."
" Kau marah karena aku berdansa dengan pria itu, pria itu tadi sepertinya dia lebih baik dari kamu, Dev."
" Lina cukup!, jangan kau banding bandingkan."
" Aku tidak lagi mau bertemu dengan ka-"
__ADS_1
Devis langsung membungkam mulut Lina dengan bibir Devis. Devis memagut bibir Lina kembali dengan penuh kelembutan, Lina akhir akhir nya luluh. Dari lubuk hati Lina, Lina memang sangat merindukan ciuman lembut Devis. Kedua nya memang sudah lama menginginkan cumbuan ini. Lina dan Devis kini saling memagut saling merespon lidah mereka saling mengait dengan memejamkan mata. Pagutan kedua nya berlangsung cukup lama, hingga menimbulkan suara decapan yang menggema dalam ruangan kamar
Devis melepaskan pagutan bibir nya, ia sudah tidak tahan menahan hasrat beberapa bulan harus di pendam pada Lina, sepertinya impian Devis sudah terwujud mendapatkan Lina kembali kedalam pelukan nya. Devis segera mematikan lampu ia ingin mengajak wanita yang sangat dia cintai ini kembali bercinta seperti yang dulu pernah mereka lakukan.