
Sampai di kamar hotel Via baru tersadar ponselnya tertinggal di meja, karena Via ingin menelpon Lina. Via harus kembali mengambil ponsel berlogo apel di gigit itu. Via mulai panik karena kalau Ponsel nya tidak di temukan bagaimana ia bisa menghubungi Lina atau menghubungi teman lainnya. Via langsung melangkah cepat dan setengah lari sampai di bawah Via menuju meja yang ia tempati semula.
Tapi di meja itu masih ada pria yang menggangu nya sedang duduk sambil memegang ponsel nya. Pria itu tersenyum pada Via saat Via datang kembali dan mulai mendekati meja itu.
" Kau melupakan ponsel mu." ucap Freddo langsung berdiri dan menyodorkan ponsel ke tangan Via, sambil menatapi Via dari rambut yang sudah di ikat ke atas sampai kaki.
" Iya." Via mengangguk, tangan nya langsung mengambil ponsel nya.
Freddo masih tersenyum pada pria.
" Thank you sir." Via memperhatikan sekilas penampilan pria itu berdasi dan memakai jas blazer suit long Coat sampai di bawah lutut terlihat jas blazer yang fantastik harganya.
Tanpa lama lama Via ingin kembali ke kamar hotel nya namun Freddo meminta nomor ponsel Via.
" Can i have you number?"
" Eugh? Via menggeleng, pura pura tidak mengerti bahasa Inggris.
Freddo tersenyum memasukan kedua tangan nya pada saku blazer nya.
" I know you what i ask?, don't pretend." Freddo meminta nomor ponsel Via.
Tanpa menunggu ijin dari Via, Freddo kembali lancang tangan nya mengambil ponsel Via lalu ia mengetik nomor nya sendiri dan di sambung kan ke ponsel milik nya. Ponsel Freddo berdering lalu ia melihat nomor Via muncul, Freddo langsung menyimpan nomor Via.
" Ini aku kembalikan ponsel mu, thanks."
Via ingin marah tapi..ia menyadari pria di hadapan nya bukan orang sembarangan dan wajah nya tampan, Via akui itu.
__ADS_1
Freddo kemudian melangkah dan meninggalkan Via yang masih berdiri terpaku menatap punggung pria itu, sampai pria itu masuk ke mobil Rolls Royce nya. Mobil itu melaju ketika sang supir sudah di perintahkan oleh Tuan nya.
Via kembali masuk ke kamar hotel nya.
Esok hari nya, Via sudah melupakan pria itu, Via habis menemui Lina mereka habis jalan bersama.Via sudah harus menyiapkan kepulangan nya kembali ke Jakarta yang tersisa 5 hari lagi. Via baru selesai mandi sambil mengeringkan rambutnya ponsel Via berdering ia langsung merogoh ponsenya di dalam tas lalu melihat nomor yang muncul. Via masih mendiamkan ponsel itu berdering. Ia memperhatikan foto profil yang muncul.
" Siapa ya?" gumam Via.
Namun ponsel berhenti berdering, Via langsung menegaskan foto profil yang baru saja menelponnya. Foto profil seorang pria yang wajah nya Via kenal nampak foto pria duduk di belakang meja dalam ruangan kantor.
" Freddo?" ucapnya pelan.
Namun ponsel Via kembali berdering, Via ragu untuk menerima panggilan dari Freddo. Sampai ke tiga panggilan Via baru menerima telepon dar Freddo.
" Halo."
Via langsung gugup pria itu memanggil nya dear.
" Y-yes."
" Aku menunggu mu di bawah, turunlah dan temui aku!"
" Apa?"
" Aku tidak mau mengulang nya, temui aku sekarang!"
Lalu sambungan telepon itu langsung di tutup oleh Freddo. Via terpaksa menemui Freddo di bawah ia dengan cepat berpakaian dan menyisir rambut nya merias tipis wajah nya dengan bedak dan lipgloss saja
__ADS_1
Sampai di bawah Via sudah melihat Freddo yang sedang berdiri menatap kearah nya, Via gugup ia menarik nafas dalam dalam dan segera mendekati Freddo.
" Hai..Indonesian girl." sapa Freddo dan tersenyum pada Via.
Via mengangguk kecil dan semakin gugup apalagi Freddo masih menatap nya.
" Hai."
Freddo sendiri sudah tahu tentang Via, ia adalah teman dari istri Devis Bakker. Freddo sudah tahu wanita ini berasal dari Jakarta Indonesia yang sedang berlibur dan mengunjungi teman nya.
" Boleh aku mengajak mu kencan malam ini?"
Via makin gugup dengan Freddo yang mengajaknya kencan.
" Eumm..kencan?"
" Iya, Ayo..!, apa kamu mau kita berdiri di sini lama lama?"
" Tidak juga, tapi maaf saya baru kenal anda kemarin."
Freddo tersenyum
" Saya sudah tahu kamu, kamu adalah teman istri Devis yang adalah teman ku juga."
Via terperanjat mendengar pengakuan nya.
" Ouhh." Via mengangguk
__ADS_1
" Aku tidak akan menyakiti mu, tenanglah!"