
Amsterdam
Devis baru ingin melangkah hendak keluar dari ruangannya Ia di hubungi oleh Ayah nya.
" Halo iya Ayah."
" Dev, Ayah menerima kabar duka."
Devis menautkan kedua alis nya. Ponselnya masih di letakan di telinga nya.
" Kabar duka apa Ayah?"
" Sepupu mu, Adrie meninggal dunia."
" Apa?" Devis serasa di sambar petir, ia belum bisa percaya Adrie meninggal dunia.
" Apa Ayah yakin?"
" Abrey menelpon Mommy mu, memberi kabar duka Adrie telah meninggal."
Tak lama Devis dikirimkan foto pada ponselnya terlihat jenazah Adrie yang sudah didalam sebuah peti. Devis yang menatapi foto itu mata nya berkaca kaca. Tubuh nya seakan melemah terduduk di sofa. Ia kembali teringat beberapa bulan lalu ia dan Adrie berkelahi adu jontos. Membuat hati nya sedih dan ada sepenggal penyesalan. Siapa sangka sepupunya pergi begitu cepat.
__ADS_1
Devis kemudian menghubungi Johan untuk memerintahkan Johan untuk datang mewakili nya dan juga meminta Johan untuk mengirim papan bunga ucapan turut berduka cita.
Devis sendiri belum bisa terbang ke Indonesia, ia masih ada urusan pekerjaan tapi ia janji akan datang mengunjungi rumah Adrie untuk melihat kondisi Lina dan juga anak anak nya, serta Abrey dan Michel yang sedang berduka.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Peti jenazah berwarna putih itu,.perlahan turun kedalam liang lahat. Lina dan ketiga anak nya juga keluarga dan kerabat menabur bunga sebelum peti itu dikubur.
Masih dengan isakan tangis, Lina Tiara Brata Pak Harry dan Ibu Marlina juga keluarga Purnomo menatapi peti itu dengan tanah yang perlahan mulai tertutup. Selesai tertutup rata dengan tanah, mereka kembali menabur bunga sebagai penghormatan terakhir untuk Adrie. Orang orang yang hadir dari teman sekolah SMA dan kuliah sampai para karyawan Cargo perlahan meninggalkan makam itu untuk pulang.
Dika sebagai sahabat Adrie sewaktu masih sama sama menjabat kepala gudang turut bersedih tidak menyangka sahabat nya itu pergi selama lamanya.
" Trimakasih Pak Dika, maafkan suami saya bila ada salah."
Dika tersenyum ia hanya mengingatkan bahwa Adrie adalah sosok teman yang baik dan cerdas.
" Pak Adrie orang yang sangat baik, ibu yang kuat ya!"
Lina mengangguk mata nya masih terus mengalir air bening yang membasahi pipinya. Setelah nya. Orang tua angkat Tiara pun sama pamit pulang pada Lina.
" Tiara, Mama dan Papa pulang duluan ya."
__ADS_1
Tiara hanya mengangguk.
Kini makam Adrie sudah mulai sepi tinggal menyisakan beberapa orang saja.
Tiara dan Pak Harry juga ibu Marlina serta Abrey dan Michel yang masih berdiri menatap makam Adrie.
" Ayah dan Ibu ke mobil." ucap Pak Harry pada Tiara. Tiara sebenarnya masih ingin menemani Lina dan anak anak nya. Tapi dengan kondisi hamil muda Tiara pun menyusul Brata yang sudah menunggu di mobil.
" Lina kakak duluan pulang ya!, kalau ada apa apa jangan segan segan menghubungi kakak."
" Iya trimakasih kak."
" Kamu harus kuat bersama anak anak."
Lina mengangguk tangan nya masih setia mengusap air mata yang mengalir tanpa henti.
Abrey dan Michel juga mulai berjalan meninggalkan makam Adrie.
" Lina kita duluan ya!" ucap Michel, Abrey yang hanya diam saja masih shok dengan kepergian Adrie. Ia menyadari kini hidup nya tinggal hanya Michel saja. Ia sedih melihat ketiga keponakan itu yang terdiam memandangi makam Ayah nya.
Kini makam Adrie hanya menyisakan Lina dan dan ketiga anak anak nya Sakya Aileen dan Aldeen. Dan akhirnya Lina mengajak ketiga anaknya untuk pulang.
__ADS_1