CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU

CINTA NYA SEPUPU ALMARHUM SUAMI KU
Mari Kita Bicara


__ADS_3

Di kantor polisi Adrie serta om Harry menunggu di ruang introgasi petugas sedang membawa dua orang tersangka Pak Jali dan Pak Usman untuk menemui Adrie dan Pak Harry. Wajah kedua nya sangat takut


" Duduk!" perintah petugas polisi.


Adrie kemudian mengeluarkan foto yang di simpan dan sudah di cetak ukuran postcard


" Coba perhatikan foto ini." ujar Adrie


Kedua tersangka, melihat lekat lekat pada foto jadul itu. Kedua nya saling menoleh saling menatap sesaat.


" Apa Bapak bapak mengenal dengan orang yang berada di foto itu?"


Pak Jali dan Pak Usman ragu ragu untuk mengakui. Namun karena di desak oleh Adrie Pak Jali dan Pak Usman mengangguk, dan mengenal mereka.


" Betul Pak, dia Pak Purnomo dan istrinya tapi kalau anak kecil itu, saya tidak yakin itu anak Bapak Harry."


Adrie mengerutkan dahi nya


" Itu belum akurat Pak Adrie, bisa saja mereka hanya mengakui. Kita perlu tes DNA."


Adrie mengangguk, Ia mikir keras bagaimana cara nya untuk mengambil sampel untuk di tes DNA.


Sampai di ruang kantor Adrie menghubungi Tiara, walaupun dia harus menahan diri bila bertemu Tiara akan menjadi tujuan yang berbeda. Kembali menjalin hubungan dengan Tiara.


Mata Tiara terbelalak ketika ponsel nya ada panggilan dari Adrie, Tiara tersenyum.


" Akhirnya, kau datang, sayang." Tiara bergumam.


" Halo, Drie apa kabar?"


" Baik, kita ketemu di tempat biasa."


Tiara langsung meraih tas dan langsung melangkah keluar dari ruang kerja nya.


Adrie sedang menunggu Tiara, sambil menunggu ia menelpon istri tercintanya itu. Adrie ingin memberitahukan pada bahwa Adrie sengaja meminta bertemu denganTiara untuk menyelesaikan masalah sekaligus ingin mengakhiri hubungan nya , Adrie hanya ingin terbuka dan pada Lina.


" Iya sayang, Abang sedang menunggu dia. Oh oke Abang tutup dulu, yaa!, Tiara sudah datang."


Masih di kejauhan Tiara sudah mengembangkan senyum nya, karena melihat Adrie sudah menunggu. Namun Tiara agak bertanya tanya Adrie nampak sedang menelpon seseorang sambil tersenyum.


" Drie, sudah lama menunggu?, kau sedang menelpon siapa?"


" Duduk lah!"


Adrie langsung memasang wajah yang serius, ketika Tiara sudah di hadapan nya. Seketika ekspresi wajah Tiara pun ikut serius.


" Maaf mengganggu mu, trimakasih untuk waktu mu bisa menemui, ku."


Tiara menautkan kedua alis nya. Tiara tiba tiba merasakan Adrie sedikit berubah, bila bertemu dengan nya Adrie selalu menyambutnya dengan hangat dan mesra.


" Iya, ada apa memangnya, Drie?, Apa ini mengenai hubungan kita?"

__ADS_1


" Eum..ada dua hal yang ingin ku sampaikan, pada mu."


" Iya?


" Pertama..ini mengenai boss ku, Pak Harry."


" Iya?" Ekspresi Tiara semakin serius.


" Heummm..begini." Adrie nampak menyusun kata kata sebelum berucap.


" Adrie langsung saja!, aku siap mendengarkan dan siap menerimanya."


Adrie dan Tiara saling menatap lekat lekat. Sampai Adrie memutuskan tatapan itu untuk bicara.


" Baik, Orang tua kandung mu, sedang mencari mu!"


" Maksud, mu?"


" Heummm." Adrie menghela nafas untuk menjeda pertanyaan Tiara.


" Kau bicara, orang tua kandung ku sedang mencari ku.?"


Adrie mengangguk


" Iya."


" Tunggu!, masalah dengan boss mu itu...ada kaitan nya dengan, ku?"


" Drie, apakah kau sadar?, dengan pembicaraan mu itu. Coba jelaskan pada ku?, apa aku ini bukan anak kandung Pak Purnomo?, begitu kan?"


" Iya."


" Bagaimana bisa?, kau menuduh seperti itu. Apa ada bukti nya?, tolong jelaskan agar aku bisa mengerti!"


" Maaf Tiara, ini mengejutkan mu..tapi aku sudah menyelidiki nya."


" Bisa di tes DNA?, tapi apa untungnya, Drie?, aku ini bukan anak kandung Papa Mama ku. Kalaupun aku bukan anak kandung Papa dan Mama ku, aku sangat bahagia mereka membesarkan ku dengan kasih sayang, hingga aku bisa seperti sekarang ini. Dan aku tidak pernah menyesal."


" Baik lah, maafkan aku!, tapi ini fakta."


" Kalau begitu, antarkan aku!, aku ingin bertemu dengan orang tua kandung ku!"


" Baik, aku akan menemui kamu dengan mereka, kita berangkat sekarang!"


Adrie membawa Tiara ke ruangan kantor Om Harry. Dimana di ruangan itu juga sudah ada Ibu Marlina. Kedua orang sudah lanjut usia itu sedang berdebat debar menunggu kedatangan anak kandung nya.


TOK TOK


Pak Harry segera membukakan pintu, dengan perasaan gugup.


" Om."

__ADS_1


" Masuk lah, Drie!.


Ibu Marlina masih duduk, ia pun merasa gugup. Sebelum berdiri ia mempersiapkan hati nya agar tetap tenang untuk berhadapan putri kandung nya walaupun bukti itu belum 100 persen akurat.


" Om, ini Tiara."


Tiara langsung menatap Pak Harry, namun entah mengapa tatapan Pak Harry pada Tiara, Tiara merasakan ada kehangatan dalam diri nya. Rasa nya ia ingin di peluk oleh Pak Harry. Tiara hanya membeku.


" Tante!" Adrie memegang tangan Ibu Marlina membantu untuk berdiri dari duduknya. Mata Adrie bicara pada tatapan Ibu Marlina bahwa sudah datang putri kandung nya. Ibu Marlina menoleh kebelakang.


" Tiara?"


" Ibu?"


Wajah kedua nya terkejut, karena mereka sudah mengenal masing masing.


" Kalian sudah saling kenal?" Tanya Pak Harry yang sama sama ikut terkejut


Tiara segera mendekati Ibu Marlina kedua nya berpelukan erat, seketika Tiara merasa kan sesuatu yang beda pada pelukan Ibu Marlina pelukan yang benar benar sudah lama belum ia rasakan kembali, padahal Tiara sudah dua kali bertemu dan bersentuhan dengan Ibu Marlina.


Dada Tiara terasa membuncah, bibir nya bergetar, hati nya ingin mengungkapkan apakah benar dirinya adalah putri kandung nya?. Tapi mengapa saat ini Tiara merasakan kenyamanan yang sangat dalam ketika sudah bertemu dengan kedua orang tua nya yang masih terduga orang tua kandung. Dirinya masih sulit untuk percaya.


Mata Tiara berkaca kaca ekspresi wajah nya antara senang bahagia dan bertanya tanya. Takdir apa lagi ini?.


" Ibu, apa memang aku ini anak kandung mu?"


" Naluri ibu mengatakan, kau memang anak kandung ku."


" Ibu, aku ini masih belum percaya?, tapi...kenapa hati ku merasakan saat ini telah menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang?"


" Tolong jelaskan, bagaimana bisa, Bu?"


" Mari kita bicara, kita duduk biar tenang!"


" Iya."


Pak Harry dan Ibu Marlina juga Adrie sama sama duduk mereka bicara di sofa.


" Baik Bapak dan Ibu akan menceritakan kronologi nya."


Perbincangan dengan air mata itu, di akhiri masih dengan Isak tangis. Tiara kini paham dengan cerita kronologi dari Ibu Marlina dan Pak Harry.


" Pak Bu, Tiara mohon!, supaya tidak salah paham aku akan minta penjelasan pada Mama Papa ku, agar ini jelas dan segera di selesaikan. Tiara mohon!, agar jangan menyalahkan Mama dan Papa Tiara. Biar bagaimana pun, mereka sudah membesarkan Tiara dengan penuh kasih sayang."


" Tentu, Nak!, Bapak Ibu akan sangat berterima kasih pada Mama Papa mu yang sudah menjaga kamu dengan sangat baik."


Kalau di perhatikan oleh Adrie, Tiara dan Ibu Marlina ada kesamaan dari gestur, mimik gaya bicara nya mereka. Mata, hidung, bibir Tiara mirip Ibu Marlina serta warna kulit warna rambut sama hitam dan putih kulit nya. Untuk ukuran tinggi badan Tiara bisa dilihat dari Om Harry. Ketegasan bicara Tiara sama seperti Om Harry.


Lalu, apa yang harus di buktikan lagi?. Bagi Adrie foto Tiara kecil yang Adrie dapat di FB sama. Kini tinggal satu lagi yang harus di selesaikan. Mempertemukan Orang Tua yang mengadopsi Tiara.


Dalam benak Adrie, Tiara sangat beruntung mempunyai orang tua yang sama sama baik dan sama sama orang berada.

__ADS_1


__ADS_2