
3 bulan Lina dan Devis terpisah oleh dua negara Belanda dan Indonesia. Devis sedang di dalam ruang kerja nya. Ia merasa tenang bekerja. Selama terpisah hubungan keduanya hanya melalui video call, Devis dan Lina sering melakukan panggilan video. Devis tidak puas bila hanya bicara di telpon saja, Devis selalu ingin melihat wajah Lina di manapun Devis berada baik di Jerman atau sedang di Australia, Devis selalu meminta Lina untuk video call dengannya.
Devis menutup laptop nya, Ia sudah selesai dengan pekerjaan kantor nya, karena hari sudah malam sedangkan di indonesia hampir menjelang subuh. Devis ingin merebahkan tubuh nya di ranjang ia sudah membersihkan tubuhnya dan masih memakai Bathrobe.
Entah kenapa Devis ingin mengajak Lina video call, walaupun tahu Lina masih tidur.
Devis ingin membangunkan Lina, tapi kebetulan Lina terjaga dari tidur nya ia terbangun karena ingin minum dia baru saja kembali dari dapur dan ingin tidur kembali. Tapi ponsel Lina sedang ada panggilan dari Devis.
" Devis?, haahh mengganggu saja." ia bergumam sebelum mengangkat telpon dari Devis.
" Halo..Dev."
Devis langsung mengalihkan ke video call.
" Kau sudah bangun?"
" Dan kau juga belum tidur?" balas Lina.
Devis terkekeh, ia melihat Lina dengan busana tidur nya dengan rambut yang tergerai. Terlihat bahu nya yang membuat Devis gemas ingin sekali ia menciumi bahu indah itu.
" Kau baru selesai mandi?"
" Iya sayang."
" Jangan mandi malam malam nanti terserang flu."
Devis suka dengan perhatian Lina. Devis mulai berfikir akan lebih mengasikkan bila video call sambil memperlihat kan tubuh nya. Ide gila nya mulai muncul.
__ADS_1
" Sayang."
" Heum..?"
" Buka baju mu!"
" Apa?"
" Buka baju mu, aku ingin melihat milik ku."
" Dev, jangan sinting."
Devis terkekeh tangan nya sudah melepaskan bathrobe nya ia sengaja memperlihatkan dada nya yang berotot pada Lina.
Sejak berada di Amsterdam Devis rutin olah raga berat sebelum ke kantor.
Lina yang setengah ngantuk, kini matanya menjadi terang terpana dengan otot bisep Devis terutama pada lengan nya.
" Kenapa sayang?"
" Kenapa tangan mu ja- jadi, seperti Rambo?"
Devis tertawa, ini yang dia sukai dari Lina.
" Iya setiap pagi aku berolah raga, sayang."
Lina membathin dirinya saja tidak pernah berolah raga, waktunya sudah sangat sibuk.
" Open your clothes!"
__ADS_1
Lina akhirnya menurut, ia meloloskan pakaian tidur nya dan kini terpampang kedua dada Lina. Devis langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menatap bagian atas Lina.
Devis dan Lina berbicara sambil memperlihat kan masing masing milik keduanya dengan tubuh yang sudah polos.
" Aku sudah sangat merindukan kamu, sayang, ingin rasa nya menerkam tubuh mu."
" Bagaimana dengan pekerjaan mu?"
" Baik saja sayang, aku akan datang menemui mu. Minggu depan aku terbang ke Indonesia, dan mulai membicarakan pernikahan kita. Kau sudah siap?"
" Apalagi yang ku tunggu, Dev. Aku sudah siap."
Devis mengangguk.
" Seandainya kita menikah bagaimana dengan tempat tinggal kita?"
" Kau ikut dengan ku."
" Iya itu pasti, lalu..?"
" Kau tinggal di Amsterdam, kau hanya jadi Nyonya Bakker. Kau siap?"
" Iya aku siap, Dev."
" Kemana pun aku berkunjung ke berbagai negara kau harus mendampingi ku, sayang.
Kau pikirkan dari sekarang dengan keputusan ini."
" Iya baik, Dev."
__ADS_1
" Ya sudah, sekarang kita tidur. I love you."
" I love you too."