Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Chapter 100


__ADS_3

"Bisa libur aja gak sih gue?" tanya Zia saat dibangunkan oleh Luis.


"Libur pale lu. Udah cepat bangun! Tamu aja udah bangun dari tadi. Lah Lo?" tanya Luis.


"Cerewet banget sih Lo. Heran gue. Iya ini gue bangun" balas Zia.


"Nah gitu kek, kan gue gak darah tinggi dari tadi" jawab Luis.


"Cepetann!!" suruh Luis lalu keluar dari kamar Zia. Zia beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju kamar mandinya.


_____


"Mana Zia gak mau bangun??" tanya Zeva.


"Udah bangun kok. Lagi bersiap." Jawab Luis.


"Dia terus yang paling lama" komen Zean.


"Sabar kek," suruh Febby.


"Kak ipeb debes emang" sahut Zia.


"Eh?" tanya mereka.


"Kak ipeb yang selalu bela Zia dari kembaran dugong tertua." jawab Zia. Mereka semua tertawa mendengarnya.


"Udah udah, papa senang akhirnya kamu kembali bacot Zia" ujar papanya.


"Masyaallah, baru kali ini papa bersyukur ketika Zia bacot" balas Zia dramatis.


"Makanya jangan jadi kalem lagi Lo! Orang kalau udah cerewet jadi kalem pasti yang ngerasain bacotan Lo bakal ngerasa sepi" nasihat Aska.


"Iya pak ustad" jawab Zia sambil tersenyum lebar. Aska kesal mendengarnya, sedangkan yang lain geleng geleng kepala melihat mereka.


"Aska anterin Zia ke kampus ya" suruh Zeco.


"Tapi om, Zia kan punya calon suami. Nanti diaβ€”"


"Gak apa apa Aska, nanti om yang jelasin"


"Kamu udah berapa lama di Indonesia?" tanya Zeco.


"Ini hari ketiga Aska di Indonesia om" jawab Aska.


"Liburnya berapa lama?" tanya Zeco lagi.


"Em.. pantesan Zia doyan bacot ditambah kadar cerewetnya tinggi. Bapaknya juga gini ternyata" sahut Zai.


"Zai..." panggil Zeco.


"Iya papaku?" tanya Zai sok manis.


"Kamu mau papa keluarin dari KK Hitler?" tanya Zeco sambil tersenyum.


"Maβ€” eh apaan? Nggak lah pa" jawab Zai.


"Hahahahahaha" tertawa Zia lah yang paling keras diantara mereka. Tertawa seperti orang mengejek.


"Sunggu terlalu" sahut Zai ngalay.


"Aska libur 10 hari om, kalau gak ada panggilan mendadak" jawab Aska.


"Yaudah, lanjutin lah makannya kalau gitu"


"Eh ini Zai dikeluarkan dari KK gak om?" tanya Luis.


"Nggak lah, gue kan anak terimud" jawab Zai.


"Ter amit amit iya" sahut Zean dan Zia bersamaan. Didetik berikutnya mereka saling tatapan dan kemudian tertawa sambil bertos ria.


"Kalau udah ngeledek adeknya aja cepet akurnya kalian berdua" sahut mamanya.


"Zai kan juga gitu ma" jawab Zia.


"Udahlah nceng gue. Pergi dulu!" sahut Zai.

__ADS_1


"Eh kupret, baper amat sih" ujar Zean.


"Gak liat jam Lo emang ha? Udah mau telat gue ini. Gerbang ditutup sama pak botak gimana?" tanya Zai.


"Biasanya juga bolos," sahut Zia.


"Lah itukan kamu Zia," jawab papanya.


"Eh kok Zia?" tanya Zia.


"Lanjutkan pa, Zai pergi duluu" pamit Zai menyalimi semua orang yang ada di meja makan.


"Ya Allah, paling muda emang bener bener kagak nikmat." keluh Zai lalu keluar dan pergi mengendarai motornya menuju SMA Kebangsaan.


"Zia, Luis. Kamu gak kuliah?" tanya Zeva.


"Oh iya lupa" jawab Zia.


"Gue anter?" tanya Aska.


"Kagak usah, gue kebanyakan ngerepotin Lo. Gue pergi sendiri aja" jawab Zia.


"Oh yaudah kalau gitu aska pamit pulang dulu ya om tante" pamit Aska.


"Eh iya Aska, om titip salam sama papa kamu. Hans"


"Iya om, nanti Aska sampein. Aska pergi dulu ya om, tante, bang, kak. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan. Setelah Aska pergi, Zia dan Luis juga berangkat ke kampus mereka.


___________________________


"Kok pulang?" tanya Alice.


"Buset dah, jadi mama mau Aska gak pulang gitu iya?" sahut Aska.


"Baper amat anakmu masyaallah" jawab Alice berkata pada Hans.


"Ngapain aja kamu sama Zia di apartemen?" tanya Hans.


"Yakin gak ngapa ngapain?" Tanya Hans


"Masyaallah si bapak. Emang Aska mau ngapain?" tanya Aska balik.


"Baper amat kamu ka" sahut Alice.


"Kagak ma, gak gitu" jawab Aska


"Gimana kabar Zia?" tanya Hans.


"Ya gitulah pa"


"Papa gak mau bantuin cariin pelakunya?" tanya Alice.


"Nanti papa bantu cariin. Papa suruh orang buat selidiki" jawab Hans.


"Tadi om Zeco titip salam sama papa" ujar Aska. Hans hanya manggut-manggut saja.


"Kakek nenek apa kabar ka?" tanya Hans.


"Baik, masih muda pun mukanya" jawab Aska.


"Muda apanya" sahut Hans. Aska tertawa mendengarnya.


"Kamu sama Zia kemana aja?" tanya Alice


"Gak kemana mana"


"Ajakin refreshing sana, ke villa yang di Bali." suruh Alice.


"Lah?"


"Ajak Ivan, Dimas sama pacar pacar mereka. Mama fikir fikir kamu sendiri yang jomblo ya?" tanya Alice.


"Ivan juga jomblo kali ma" jawab Aska

__ADS_1


"Dia kan ada itu anak kembarnya tuann, tuan siapa ya mama lupa,"


"Tuan Yudhistira mama" jawab Hans.


"Belom pacarannn!" jawab aska.


"Hahaha iya deh iya. Kamu udah sarapan?" tanya Alice.


"Udah ma, tempat om Zeco tadi"


"Ooo pantesaann mukanya sumringah gitu" jawab Hans.


"Ledek terosss sampe puass" sahut Aska.


"Papa senang kamu kembali seperti ini Aska"


"Papa ingat dulu kamu saat mau pergi, mukanya ketekuk mulu, kayak gak punya semangat hidup" ujar papanya.


"Astaghfirullah si papa, kalau ngomong suka bener" sahut Aska lalu dia pergi meninggalkan orang tuanya.


"Dasar kamu, belom siap kita bicara udah asal kabur aja" balas Alice, Aska tidak meladeninya dan pergi menuju kamarnya.


___________


"Zia come back gays" sahut Dimas, mereka sekarang sedang di kantin menikmati jam kosong akibat ulah dosen yang PHP.


"Berisik lu ilahh!" Jawab Zia.


"Utangnya si Bian udah lunas ya?" tanya Dimas.


"Astaga, pacar gue otaknya gratisan mulu" sahut Tania.


"Gak gitu loh sayangg" bela Dimas.


"Mesra mesraan gue lempar Lo pada!" sambung Zia. Dimas dan Tania hanya cengengesan.


"Terornya masih datang gak sih Zi?" tanya Ica.


"Udah gak ada, Alhamdulillah dahh" jawab Zia. Tiba tiba Bian datang dengan muka tidak santuy. Dia datang langsung menarik tangan Zia dengan kasar.


"Aduh aww" keluh Zia, tangannya berdarah, goresan cukup panjang terpampang disana, tangannya tergores karena terkena kukunya Bian yang tajam. Luis maju mendekati Bian dan tanpa aba aba langsung memukul Bian. Bian pun terhuyung kebelakang.


"Satu tetes darah keluar dari tangan keluarga gue, sama aja Lo dalam bahaya!" ancam Luis. Lalu dia menghajar Bian. Ivan langsung memisah mereka.


"Luis udah woi, jangan sampe ada dosen yang liatt!!" bentak Zia. Luis pun terpaksa memberhentikan pukulannya. Dia menghampiri Zia.


"Tangan lo masih sakit?" tanya Luis Zia mengangguk.


"Ayo ke UKS" ajak Luis.


"Tunggu dulu," tahan Zia.


"Apa lagi?" tanya Luis.


"Lo kenapa narik gue? Sengaja mau buat gue celaka iya?" tanya Zia pada Bian, tanpa menjawab pertanyaan Luis.


"Gila ya lo bi, gue kira Lo bukan orang yang kasar. Tapi ternyata" sahut Tania.


"Bukan, bukan gitu." jawab Bian.


"YA TAPI SETIDAKNYA LO BISA AJAK BICARA PELAN PELAN BUKAN ASAL TARIK!!!" teriak Luis.


"Luis sabar" ujar Zia.


"Kita kecewa sama Lo bi" ujar Ica lalu menarik Zia menuju UKS meninggalkan Bian sendirian.


β€’β€’


Hai gayss!!! 😍


Udah chapter ke 100 aja ya πŸ˜‚


Dulu gak kepikiran sih sampe 100 episode gini. Thank you buat kalian yang udah support Novel ini. Stay with Ciwi Barbar yaa πŸ€—.


See youuu next chapterr !!!✨❀️

__ADS_1


__ADS_2