Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Rapuh yang tersembunyi


__ADS_3

"Zia" teriak Bian saat masuk keruangannya. Ruangan itu hanya ada teman temannya Zia. Mama dan papa Zia sudah pulang untuk beristirahat.


"Dari mana aja Lo? Calon istri Lo koma, tapi Lo ntah kemana mana. Khawatir gue kalau Zia nikah sama Lo" cibir Ivan.


"Van, jangan gitu! Dia pebisnis, pasti punya urusan lain" balas Aska.


"Sorry" lirih Bian, Bian mendekat ke brangkarnya Zia. Aska yang disitu pun menjauh, memberikan ruang untuk Bian. Aska beralih ke Ica, Tania dan Qiara yang tampak mengeluarkan air mata.


"Ngapain kalian nangis sih hm? Zia masih hidup, dia cuman istirahat dari segala keluh kesahnya. Gak ada yang perlu ditangisi" ujar Aska. 'sok tegar banget sih Lo ka? gue tau Lo rapuh, gue tau Lo juga mau nangis kan?!' batin Ivan.


"Zia kenapa bisa gini?" tanya Bian.


"Kecelakaan, dia korban tabrak lari" jawab Samuel.


"Lo Ivan atau duplikatnya?" tanya Bian.


"Abangnya Ivan, bedain aja sama bekas luka yang ada diatas alis gue" jawab Sam.


"Beda beberapa detik juga, mesti banget panggil abang" cibir Ivan.


"Kalau gelut liat waktu bambang" sahut Ica.


"Gue Samuel"


"Bian"


"Gue tau" jawab Sam.


"Lo kemana aja sih? Kok gak becus gitu jadi calon suami." cibir Ica


"Lo tau Aska yang dari Amerika aja langsung ke Indonesia waktu kejadian, lah Lo yang di Indonesia datengnya lama banget!" sahut Tania.


"Tania, Ica, kan udah gue bilang. Dia pebisnis, wajarlah." jawab Aska.


"Waktu nyokap gue sakit, bokap gue tinggalin semua urusan perusahaannya. Gak perduli mau gimana yang penting istrinya sembuh. Itu semua tergantung orangnya aja gimana" curhat Qiara.


"Iya gue tau Ra, kalau Bian tau lebih cepat dia pasti bakal nunda pekerjaannya kok. Gue yakin" balas Aska.


"Udah diem deh gak usah pada ribut. Ini rumah sakit." sahut Zai. Zai baru datang dan mendengarkan obrolan mereka, Zai juga sependapat dengan pemberontakan Ivan, Ica dan Tania. Zai mendekati brangkar Zia. Memegang pipi chubby kakaknya itu sambil menatap sendu.


"Kak, cepetan bangun ya. Gue janji deh bakal tobat jadi playboy kalau Lo udah bangun. Lo jangan lama lama tidurnya, kita disini semua nungguin lo. Lo tau, bang Aska jauh dari Amerika datang buat nemuin Lo. Bang Samuel sama bininya juga datang buat lo. Papa sama mama juga sedih banget ngeliat Lo kayak gini. Ayok bangun kak! Gue janji ntar bakal ajak Lo ke London. London yang Lo mau kan? London favorit Lo kan? Cepetan bangun, gue bakal ajakin Lo kesana" celoteh Zai pada Zia.


"Ayok kak bangun sekarang!! Lo bilang gak bakal buat gue khawatir, tapi sekarang kenapa Lo malah tidur disini sih?" tanya Zai sambil meneteskan sedikit air mata. Aska menghampiri Zai yang terlihat tidak seperti biasanya.


"Gak perlu nangis za, Zia baik baik aja kok. Zia masih hidup kan? Jadi gak perlu ada air mata" kata Aska.


"Bang, Lo mungkin bisa nutupin rasa takut Lo, keluh kesah Lo, dan kerapuhan Lo didepan mereka. Tapi sama gue? Gak bisa bang. Gue tau bang, Lo juga gak sanggup lihat Zia kayak gini. Gue tau Lo cinta banget sama Zia, tapi Lo cuma bisa pendem." sahut Zai.


"Nggak siapa yang bilang?" tanya Aska.


"Gak perlu sandiwara, kita semua juga tau ka. Kalau nggak ngapain Lo datang dari Amerika jauh jauh libur kuliah sampe sebulan?" tanya Ivan. 'tolong jangan bahas sekarang, calon suami Zia disini, kenapa kalian blak blakan gini sih?' Tanya Aska dalam hati.


"Kalau Lo yang sakit sekalipun gue bakal ke Indonesia van, gue juga pengen liburan ke sini." jawab Aska.

__ADS_1


"Terserah lo ka" sahut Dimas. Gak lama kemudian Luis dateng bersamaan dengan Kris.


"Rame amat?" protes Kris.


"Gue lempar juga ntar lu pake sepatu" balas Tania, Kris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gimana kabar Zia?" tanya Luis.


"Masih sama, gak ada perubahan" jawab Samuel.


"Aaagghhh. Ini salah gue, coba aja gue semalam jagain lo pasti gak bakal gini jadinya" keluh Luis frustasi, dia menarik rambutnya dengan sangat keras. Area matanya menghitam tanda dia tidak ada tidur.


"Jangan salahkan diri Lo bang!! Gue mohon" balas Zai.


Drttt..


Hp Aska bergetar di saku celananya, dia keluar mengangkat panggilan itu.


—Papa—


📞 Hans; Kamu dimana ka?


Aska; Kamar rawat Zia, kenapa pa?


📞 Hans; Bisa kamu pulang sebentar? Ada yang ingin papa bicarakan. Papa juga mau minta bantuan kamu.


Aska; Iya pa, Aska pulang sekarang. (panggilan terputus).


"Jangan salahkan diri Lo Luis. Om Zeco juga gak marahkan sama Lo. Calm down oke?" tanya Aska. Dia mendekati brangkar Zia. Mencium kening Zia sebentar.


"Gue duluan, ada panggilan dari bos besar" pamit Aska lalu pergi.


Bian yang berada di dalam toilet, mencerna semua ucapan teman temannya Zia. Ada rasa sakit dan tidak ingin kalau Aska mendekat pada Zia. Bian sudah merasakan saat pertama melihat Aska. Tapi menurut pandangan Bian, Aska emang orang baik, dia juga memiliki prinsip yang sama dengan yang dibilang Ivan beberapa hari yang lalu; 'Satu kena kami semua juga kena. Satu luka semua siap bantai.'


Setelah selesai bergelut dengan pikirannya, Bian keluar dari toilet. Gak lama kemudian ponselnya berbunyi.


—Papa—


📞 Mahen; Kamu dimana? Cepat pulang. Papa ingin bicara (panggilan terputus)


Bian menghela nafas panjang.


"Kenapa?" tanya Zai.


"Nggak, gue balik duluan ya." ujar Bian, diangguki mereka. Bian mendekat ke Zia dan mencium kening Zia sama seperti Aska.


"Kalau ada apa apa hubungi gue," suruh Bian, mereka mengangguk. Bian pun pergi meninggalkan rumah sakit.


_____··–··_____


"Pasti banyak sesuatu yang berguna dari Amerika bukan." kata Hans, Aska sudah tiba dirumahnya dan berada di ruangan kerja papanya.


"Aska tau, ada apa pa?"

__ADS_1


"Papa tau kamu sebenarnya ambyar—"


"Kagak usah sok sok ambyar ambyaran. Bilang aja rapuh!" potong mamanya.


"Mama, jangan dipotong nanti papa lupa mau bilang apa" sahut Hans.


"Belum punya cucu udah pelupa, gimana sih pa?" tanya Aska.


"Cepetan nikah makanya!" suruh Alice dan Hans


"Enak aja, Aska masih muda, masih butuh biaya." balas Aska.


"Terserah! Eh ka, ngomong ngomong pertunangan Zia di batalinloh." kata Alice.


"Terus?" tanya Aska datar.


"Papa dulu cepet Lo embat mama kamu. Masa kamu lamban gitu?" tanya Hans.


"Los lah gak tau" balas Aska.


"Jadi sebenarnya mau ngomong apaan pa?" tanya Aska.


"Kan papa lupa" Hans mencoba mengingat ingat.


"Astaga papa!!" ujar Alice dan Aska bersamaan.


"Ah iya, papa inget. Bantu papa, kita cari dalang semua ini. Sebelum tragedi ini, Zia dibully sama kakak tingkat dikampusnya." ujar Hans dengan muka seriusnya.


"Kasih tau Aska, alamat, nama, ciri ciri mereka" suruh Aska.


"Mana papa tau Aska!" jawab Hans.


"Seperti yang kamu ketahui di dalam mimpi kamu, tragedi terjadi di dekat supermarket, dan dekat dengan kafe. Pasti diluar ruangan mereka ada cctvnya jadi—"


"Aska bakal cari tau" ujar Aska lalu pergi.


"Papa belum siap bicara Aska, balik dulu! Jangan dua kali kerja!!" suruh Hans, Aska pun balik lagi.


"Asal kabur aja, kebiasaan" tegur papanya, Aska cuma cengengesan.


"Aska tau tempatnya makanya Aska langsung berangkat" ujar Aska.


"Kamu tau, kasus ini diselidiki langsung sama om Zeco dan Papa, tanpa meminta bantuan bodyguard. Dia kasih tau ke papa, kalau orang yang bully Zia itu bisa jadi orang yang ngelakuin hal ini. Ini foto orangnya" kata Hans sambil menunjuk foto Gisell dan Hany.


"Om Zeco bilang mereka berdua punya rencana mau keluar negeri, jadi tugas kamu yang pertama, suruh Om kamu untuk berhentikan kegiatan di bandara sampai besok!"


"Setelah itu, kamu pergi. Cari lokasi yang ada di dalam mimpi kamu dan buktiin ke papa, kalau kuliah kamu di Amerika tidak sia sia" ujar Hans.


"Tapi pa, bandara itu banyak" jawab Aska.


"Dia pergi melalui bandara om kamu" jawab Hans.


"Oke oke, aman" jawab Aska lalu pergi.

__ADS_1


"Hati hati!" teriak Alice, Aska hanya mengacungkan jempolnya.


__ADS_2