
Di kelas Zia, teman-temannya sedang terdiam. Masih sedikit terkejut dengan apa yang terjadi hari ini. "Gila yaaa. Dia kalem banget di skors, nilainya ntar gimana?" tanya Eza memulai pembicaraan baru.
"IQ Zia di atas rata-rata, tanpa belajar dia juga bisa ngalahin kalian, oh iya, juga tanpa orang dalam. Di skors pun, dia gak bakal dimarahin sama bokap nyokapnya karena udah sesering itu jadi pada biasa aja," sahut Ivan santai.
"Ya tapikan.... Ah, sudahlah."
"Secara logika emang yang dibilang Zia itu bener, daritadi dia sama kita terus. Jadi kapan coba dia ngambil uang sekolah?" tanya Jimmy mencoba memecahkan teori.
"Hey, sini dengerin gue. Bokap dia kaya, perusahaannya banyak dan ada di mana-mana. Di kartu kredit Zia juga ada banyak uang. Tanpa di minta, Zia pasti di transfer. Jadi ngapain dia ngambil uang sekolah yang gak seberapa di mata dia?" sahut Ivan lagi.
"Bukan karena temen masa kecilnya gue bela dia gini, tapi karena emang kenyataannya gituu. Faktanya begitu. Kalau kalian percaya sama fitnah itu ya terserah. Kalian udah lumayan lama juga kan temenan sama dia, pasti taulah gimana-gimananya Zia," lanjut Ivan.
Mendengar itu, Aska beranjak dari tempat duduknya. "Mau kemana lu?" tanya Ivan menghentikan Aska. "Makan." Ivan langsung pergi mengikuti Aska menuju kantin.
"Woi! Tadi kalian di kantin ngapain aja sih?" tanya Joshua kesal sambil berteriak, Ivan dan Aska jelas tidak mendengar, mereka berdua sudah jauh. "Btw, gue setuju sama Ivan," ujar Ica dan Alya bersamaan.
"Ehm! Udah gosipnya, anak-anak?" tanya wali kelas mereka tiba-tiba muncul lagi. "Eh ibu.. udah dateng lagi aja, cepet banget ya."
"Cepet apaan. Kembali ketempat masing-masing, kita mulai pelajaran," perintahnya dan langsung dipatuhi semua murid. "Okeshiapp~"
...—·—...
Zia sampai di rumah. Ia langsung melihat papanya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Zia mencoba lewat dengan santai, berharap tidak di tegur.
"Masih jam berapa ini? Kok udah pulang, Zi?" tanya papanya. Kalau udah panggil nama, berarti sedikit berbahaya, begitu pikir Zia.
__ADS_1
Zia cengengesan, "Masih jam berapa ini? Kok papa udah di rumah?" tanya Zia dengan nada yang sama. Zeco tertawa melihat duplikatnya ini. "Papa gak kerja."
"Zia di skors."
"APAA?" teriak mama Zia dari dapur membuat Zia lumayan terkejut. "Sans aja mama cantikkk, kali ini Zia gak bersalah. Gak percaya tanya Bivan." Mama papa Zia menghela nafas panjang.
"Hihii, sorryy. Zia ke kamar dulu ya ma, pa." Baru ingin menaiki tangga, Zia mengingat satu hal. "Eh iyaa, paa. Zia kan di skors seminggu...Zia ikut ke Jerman yaaa?" pinta Zia tentunya dengan puppy eyes untuk merayu.
"Tanya mama."
"Boleh kan, ma?"
"Yaudah iya ikut." Zia auto bersorak riang. "Yes holiday! Zia ke kamar dulu ya, ma, pa.. mau packing go to Jerman," kata Zia dan di angguki mama papanya, Zia pun langung pergi.
Mamanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Zia. "Di skors kok seneng. Waras apa gak anak mu, mas?"
"Kalau Zean gak boleh, dia harus fokus sama kuliahnya. Kalau Zai sih ikut aja gapapa, kan enak Zia ada temennya," kata Zeva santai. "Sekolahnya gimana, sayang?"
"Eh, iya juga ya. Yaudah gak usah. Zai temenin Zean aja di sini, biar Zia aja yang ikut."
...—·—...
Jam pulang sekolah. Zai pulang bersama dengan Aska, karena tawaran Aska. Kebetulan, di jalan mereka bertemu dengan Zean yang sedang apes. Aska pun menyuruh Zean masuk ke mobilnya.
Hening di mobil. Aska merasa sedikit canggung berada di antara Adler siblings ini. "Ehm. Bang, Zia di skors," kata Aska membuka topik.
__ADS_1
"Anjirr. Gak bisa diem bang Aska," jawab Zai. "Salah yaa? Maapp, lu gak ada ngode. Gue buka topik biar gak garing," ujar Aska nyengir tanpa dosa.
"Gak masalah. Gue juga udah tau Zia di skors."
"Tau darimana?" tanya Aska dan Zai bersamaan. "Orangnya sendiri yang ngasih tau."
Di tengah percakapan, ponsel Zean berbunyi, ia mengangkat panggilan dari papanya.
^^^"Warum, papa?" (Kenapa, pa?)^^^
"Selidiki kasus adikmu, selesaikan secepatnya. Jika tidak, siap-siap hidup tanpa fasilitas apapun dari papa."
^^^"Allahu Akbar. Iya pa, iya. Nanti Zean cari tau sampe ke akar-akarnya sekaligusss."^^^
Zeco langsung menutup panggilan telepon, membuat Zean menghela nafas sangat panjang. "Kenapa, bang?" tanya Zai kepo.
"Fasilitas gue bakal di ambil kalau gue gak tau siapa dalang dari kasusnya Zia," jawab Zean.
"Gue, Ivan sama yang lain nanti bakal bantuin lu, bang. Gue juga udah simpan satu nama, dia juga dalang dari insiden hampir nabrak Zia kemaren. Tapi sialnya gue belum punya bukti," sahut Aska.
"Satu nama? Siapa?" tanya Zean dan Zai kompak. "Ntar juga bakal tau. Kalau emang dia orangnya, gak bakal gue kasih ampun sih."
"Lu suka sama Zia?" tanya Zean serius. "Gak.. tau. Bukan apa-apa nih ya, bang. Kebenaran itu harus di bela," jawab Aska ngeles. "Gak yakin banget gue, pasti lu suka sama adek gue. Gue tandain ya lu, Aska."
__ADS_1
"Anyingg. Belum apa-apa udah ditandaaiiii," keluh Aska. Zean dan Zai tertawa. "Maksudnya ditandai sebagai kandidat, bang."
^^^Revisi, 2021.^^^