
Keesokan paginya..
"Kakkkkkkkk"
"Bangggggg"
"Kakkkkkk ziaaaaa"
"Abang iparrrrrrrr" teriak Zai.
"Ini rumah njiir, bukan hutan. Ngapain lu teriak teriak" ceramah Zia yang sedang menuruni tangga.
"Ya maapp"
"Abang ipar mana?" tanya Zai.
"Kenapa?" tanya Aska.
"Abang iparr. Pinjem mobil dong" bujuk Zai.
"Mau kemana? Buat apa? Kalau cuma pamer buat date sama cewek gue gak bakal kasih" jawab Aska.
"Iss bukan lah. Gue mau kuliah. Tadi tu mobil mogok disekitaran sinii, kesini aja naik ojol gue." jawab Zai.
"Emang kampus lo harus lewat sini?" tanya Zia.
"Nggakk, ini jalan pintas. Gue udah telatttt" jawab Zai buru buru.
Aska melempar kunci mobilnya.
"Silver" ujar Aska.
"Yes" balas Zai. Zai menghampiri Zia yang sedang mengolesi selai di roti. Setelah selesai Zai menariknya.
"Makasih kak, makasih bang. Gue pinjem dulu si silverrr" ujar Zai sambil berjalan menuju pintu.
"Itu roti bukan buat lo monyet" teriak Zia.
"Udah gue makannn, buat aja lagiii" balas Zai, dia masuk ke garasi mobil Aska lalu pergi dengan si silver.
~
Di perjalanan menuju kampus. Zai melihat seorang wanita berlari mengejar bus.
"Aduhhh, kasiannn. Tapi gue udah telatt" keluh Zai. Dia pun memilih meminggirkan mobilnya dan menghadang wanita itu.
Setelahnya, Zai keluar dengan gayanya yang sok cool.
"Kinan?" tanya Zai.
"Loh mas Zai" balas Kinan sambil ngos-ngosan.
"Kenapa lari lari?" tanya Zai.
"Em ini mas... Kinan ngejar bus. Tapi bus-nya malah gak tau kalau dikejar" jawab Kinan masih sambil ngos-ngosan.
"Kenapa dikejar?"
"Kinan telat bangun pagi mas. Jadi telat kuliah" kata Kinan.
"Naik" suruh Zai.
"Apa mas?"
"Naik, nanti kamu terlambat"
"Emm.." karena Kinan terlalu lama, Zai menggendongnya lalu memasukkan ke mobil.
Kinan hampir menjerit saat di gendong Zai, tapi Kinan menutup mulutnya dengan tangan, sehingga jeritannya tidak lolos dari bibirnya.
"iiiiiiiiiih, mas Zai nih! Asal gendong Kinan aja. Untung Kinan nggak jerit tadi" protes Kinan saat Zai sedang memakai seat belt.
Zai diam.
Setelah memasang seat belt nya, Zai mendekat ke Kinan, lalu memakaikan seat belt punya Kinan.
Zai bisa merasakan detak jantung Kinan yang sangat cepat. Zai pun tersenyum geli, ingin tertawa.
"Kamu kelamaan mikir, katanya udah telat" jawab Zai, dia menghidupkan kembali mobilnya, dan berkendara dengan kecepatan sedang.
"Ya nggak gitu juga kali mas. Kinan terkejut tadi" jawab Kinan.
__ADS_1
"Ini juga jangan laju lajuuu.. Kinan belom sukses. Kinan belom nikah" ujar Kinan. Zai mendekat.
"Nikah sama mas gimana?" bisik Zai. Kinan merona, sedangkan Zai cengengesan sambil mengacak rambut Kinan.
"Is berantakan lagii" keluh Kinan. Zai tersenyum pepsodent.
"Kamu cute banget sih. Makan apa tiap hari" tanya Zai.
"Makan nasi lah, yakali makan batu. Kalau mas makan apa kok ganteng tapi ngeselin gini?" tanya Kinan balik.
"Ooo.. jadi aku ganteng. Emmmm" bisik Zai.
"Hah? Kesalahan teknis mas" jawab Kinan. Zai tertawa.
"Mas ada kelas? Sekarang?" tanya Kinan.
"Mas udah telat" jawab Zai.
"Pasti gara gara samperin Kinan? Yaahhh.. maaf ya mas" Kinan tidak enak.
"Sok sok gak enak ya?" ledek Zai cengengesan.
"iiiih apaan coba? Kinan beneran gak enak sama mas" jawab Kinan sambil memanyunkan bibirnya. Zai gemaass, takut khilaf. Dia pun cengengesan.
"Aaaaaa gemoyyyy" ujar Zai sambil mencubit pipi Kinan.
"Massss sakittt" keluh Kinan cemberut.
"Jangan digituin bibirnyaa.. nanti mas khilaf mau hm?" tanya Zai, satu tangannya mengelus rambut Kinan.
"Ya nggak laaa.. first for husband" ujar Kinan.
"and i your husband" balas Zai. Kinan merona. Zai pun cengengesan.
^~^
Beberapa menit kemudian, mereka berdua tiba di kampus.
"Tunggu sini jangan keluar" suruh Zai. Kinan mengangguk. Zai luar dari mobil lalu membukakan pintu mobil Kinan.
Banyak mahasiswa mahasiswi yang melihat Kinan turun dari mobil Zai. Tapi Kinan menunduk. Zai mengulurkan tangannya tepat dibawah pandangan mata Kinan yang menunduk.
Kinan pun mendongak.
"Mas juga udah telat kan? Kinan bisa sendiri" jawabnya. Zai mendorong Kinan perlahan ke bagian mobil lalu mencegahnya pergi dengan satu tangan yang tertempel.
"Mas udah telat pake banget. Mas juga udah minta absenin. Jadi, mas anter kamu" kata Zai. Zai mengambil tangan Kinan.
"Kita lari, kamu hati hati. Kalau sakit kasih tau mas oke" Kinan mengangguk. Dia sangat sangat kagum dengan pria satu ini.
Dia baik, dia tampan, diaa.... sempurna. Pria ini juga berhasil membuat detak jantung Kinan berdetak lebih cepat dari biasanya.
Tarikan tangan Zai, menyadarkan lamunan Kinan.
Mereka pun berlari menuju kelas Kinan. Fakultas kedokteran.
Sepuluh menit mereka berlari. Akhirnya mereka tiba di depan fakultas Kinan.
Dalam keadaan sama sama ngos-ngosan.
"Belajar yang bener, kalau mau pulang. Nanti mas anterin" tawar Zai.
"Ah gak perlu mas. Makasih mas" jawab Kinan sambil tersenyum, Zai membalas senyumannya.
Kinan mulai masuk ke kelas. Tapi apa? Kenapa sepi?
"Kok sepi?" Kinan terheran dan berhenti di depan pintu.
"Kenapa?" tanya Zai.
"Ah ini mas, kelasnya sepi" jawab Kinan.
"Lah?"
"Oi kinann" teriak seorang cewek cantik, Rizka Khairin.
"Eh Rin. Ini kenapa kelas sepi?" tanya Kinan.
"Lah? Lu kenapa ngos ngosan?" tanya Rizka. Dia masih tidak menyadari kehadiran Zai.
"Aku capek lari lari takut telat kelas, tapi kenapa sepi gini?" tanya Kinan.
__ADS_1
"Lu gak buka grup chat? Kan kuliahnya diundur dua jam" jelas Rizka. Kinan menempelkan dirinya di dinding.
"Hadeh, capek akuuu" keluhnya. Zai tertawa melihat keunikan Kinan.
"Lu sama siapa?" tanya Rizka. Kinan berdiri tegak sambil menunjuk Zai.
'bisa pula ngenalin orang kek begini?' batin Zai.
"Aaa... Halo" kata Rizka.
"Halo" balas Zai.
"Rizka Khairin, fakultas kedokteran semester 1" ujarnya.
"Zai Ananta Hitler, fakultas manajemen bisnis semester 6" balas Zai. Rizka terkejut.
"Ke...napa?" tanya Zai bingung.
"Ka... Kak Zai? Paduka cool guy?" tanya Rizka.
"Paduka cool guy?" tanya Zai. Rizka mengangguk. Kinan menepuk pundak Rizka.
"Eh" Rizka tersadar.
"Paduka cool guy?" tanya Zai lagi.
"Ah.. emm.. itu.. kak Zai kan keren.. ya jadi gitu" jelas Rizka.
"Hah? Ah iya terserah" jawab Zai.
"Kinan udah sarapan?" tanya Zai. Kinan menggeleng. Zai menarik tangannya pelan.
"Makan lebih penting. Ayok, mas bandar" ujar Zai. Kinan tersenyum.
"Eh mass tunggu. Ini Rizka" Kinan memaksa berhenti
"Ah iya mas lupa" jawab Zai.
"Eee.. ayok. Gue traktir kok" ajak Zai. Rizka mengangguk pelan lalu mengikuti Zai dan Kinan. Mereka berdua masih berpegangan tangan.
Skip
Setibanya dikantin, Zai memesan makanan untuknya, Kinan, dan juga Rizka.
"Lu pacaran sama kak Zai?" bisik Rizka saat Zai ke toilet.
"Engg... gak" jawab Kinan.
"Kenapa gugup?"
"Gatau"
"Dih gajelas" Kinan cengengesan.
Zai pun datang kembali.
"Kenapa ngeliatin kita terus sih?" tanya Kinan.
"Mereka mau diposisi lo. Ditraktir, diantar, pegangan tangan. Uh.. lu beruntung" jawab Rizka.
"Lebay" Rizka cengengesan.
"Kinannnnn, irinnn" teriak seorang pria.
"Is dasar Oki. Gak pernah berubah tu anak" keluh Rizka. Kinan tertawa.
Pria bernama Oki Adipura itu pun datang lalu merangkul Kinan.
"Kantin ga ngajak" keluhnya. Zai melihat rangkulan itu dan terkejut. Hatinya teriris. Rasanya sakit.
"Lepasin tangan kamu! Kebiasaan" ceramah Kinan.
"Ya maapp" jawabnya lalu melepas rangkulan.
"Ini siapa?"
"Aaaaaa ini kak Zai paduka cool guy" ujar Oki.
"Halo kak" Zai tersenyum paksa.
"Lu bertiga pesen terserah apa aja. Ntar gue yang bayar" Zai pun pergi.
__ADS_1
'mas Zai kenapa?' tanya Kinan dalam hati.