
"Bagaimana keadaan Zai?" tanya Zeco. Zia langsung memeluk Zeco. Tembakan tadi, tembakan dengan senjata jitu yang mengenai Zai, bukan suara Aska yang mengagetkan mereka.
Zeco, Zeva, Zean, dan Febby serta Hans dan Alice. Mereka yang mendengar kabar Zai dari Aska langsung terbang menuju Bali.
Namun saat ini, Zeva, Febby, dan Alice, tidak ke rumah sakit karena larangan Hans dan Zeco. Mereka disuruh menginap di villa milik kakeknya Aska.
"Paaa.. Zai pa.. hiks... hiks..." Zia tersedu-sedu.
"Tenang sayang tenang" kata Zeco.
"Aska.. Aska minta maaf" kata Aska sambil menunduk.
"Kenapa? Minta maaf untuk apa?" tanya Hans.
"Aska telat, Aska telat selamatin Zai." jawab Aska.
"Maksud lo gimana? Jangan setengah - setengah" sahut Zean.
"Aska tadi baru balik beli makanan. Aska lihat dari kejauhan, ada orang yang memegang senjata. Aska ikutin arahnya. Itu mau mengenai Zia. Aska udah lari cepat, tapi Aska terlambat. Tembakan itu malah mengenai Zai yang tiba tiba berpindah ke depan Zia." jelas Aska.
"Kamu gak salah Aska, jangan salahin diri kamu sendiri oke?" tanya Zeco. Zeco melepas pelukan putrinya.
"Mana? Mana bodyguard papa?" tanya Zeco. Kedua bodyguard itu muncul.
Zeco menendang kaki mereka berkali kali.
"Bagaimana kerja kalian hah?!" Zeco kesal dia berteriak.
"Ze, tenang Ze. Ini rumah sakit." lerai Hans.
"Ma-maaf tuan, maafkan kami" ujar salah satu bodyguard.
"Cepat cari pelakunya, atau kalian saya pecat!!" bentak Zeco.
"Si-siap tuan" Bodyguard itu pun pergi.
"Hiks... Hikss.. Zai bangun dek. Gue mohon" Zia tersedu-sedu dipelukan Aska.
"Maaf ini salah gue" kata Aska lagi. Zia memukul dada bidang Aska.
"Gue benci sama lo, gue benci sama lo kalau lo salahin diri lo sendiri!! Gue mohon jangan, hiks.. hiks.. jangan... jangan salahin diri lo sendiri" balas Zia. Aska hanya mengangguk sambil mengelus rambut Zia.
"Ka" panggil Rafael, dia datang sambil membawa dua paper bag berisi makanan.
"Rafa?" tanya Zeco. Rafael menunduk.
"Rafael Anji Pangestu tuan" kata Rafael.
__ADS_1
"Panggil om saja. Kamu kok disini?" tanya Zeco.
"Saya lahir disini om. Aska dan Zia berkeliling disini merupakan tanggung jawab saya. Maafkan saya, saya kurang hati hati sehingga kejadian ini terjadi" Rafael menunduk.
"Sudahlah, jangan menyalahkan diri sendiri." sahut Zean.
"Zean benar, jangan salahkan dirimu." balas Zeco.
"Zia, Aska. Sebaiknya kalian kembali ke penginapan. Nanti kalian bisa datang kembali. Papa Hans, papa Zeco, dan Zean akan menjaga Zai disini." kata Hans.
"Zia gak bisa tenang papi, Zai udah lima jam diruang operasi" jawab Zia.
"Zia, dek. Istirahat ya. Zai pasti baik baik aja. Lo itu butuh istirahat. Liat mata lo udah bengkak tuh. Jadi sekarang.. lo pulang abistu istirahat." sahut Zean. Zia diam sambil menunduk.
"Aska, bawa Zia pergi ke penginapan kalian, ajakin istirahat" suruh Zean. Zia malah duduk dan menolak.
"Zia sama Aska disini aja, sampai operasi selesai. Papa Hans, papi Zeco, bang Zean. Kalian bisa kembali ke villa" suruh Aska.
"Jangan membangkang. Pergilah istirahat, papa gak mau kalian berdua sakit" sahut Zeco.
"Om Zeco benar, sebaiknya kita kembali ke rumah ka" ajak Rafael.
"Kalau lo mau pergi, pergilah. Gue disini nunggu adik ipar gue selesai operasi" jawab Aska. Rafael malah duduk disamping Aska.
Drrrttt .. drtt...
Ponsel Zean berbunyi.
📞 Zeva; kembali sekarang!!!! Febby membutuhkanmu ( mematikan teleponnya ).
"Zean pergi dulu, Febby butuh Zean. Zean permisi" pamit Zean lalu pergi.
"Pa, pi, pergilah ke villa. Kalian belum istirahat sejak tadi" suruh Aska.
"Kalian juga belum istirahat" sahut Hans.
"Pi, mami butuh papi. Kembalilah, Aska, Zia dan Rafael akan menunggu disini" tawar Aska.
"Baiklah kalau kamu memaksa. Jaga Zia, kabarin jika ada sesuatu. Papi pergi" pamit Zeco. Zeco pun pergi.
"Papa juga, balik ya. Papa baru sampe di Bali kan? Istirahatlah" suruh Aska.
"Papa disini aja" jawab Hans.
"Papi, biar Zia, Aska sama Rafael aja yang disini. Papi kembali aja ke villa, papi istirahat ya" sahut Zia.
"Ya sudah, kalau begitu papi pulang. Kalian jangan lupa istirahat. Kabarin papi kalau ada apa apa" kata Hans, mereka mengangguk. Hans pun pergi.
__ADS_1
"Sayang kamu makan ya" pinta Aska. Zia malah bengong. Dia masih memikirkan kejadian tadi. Memikirkan pesan Zai untuknya.
•••••–•••••–•••••–•••••
‘Kak, gue seneng lo baik baik aja. Gue seneng lo maafin gue.. agh.. gue seneng.. gue seneng bisa lindungin lo. Maafin gue.. maafin gue udah jadi pembangkang.. gue tau gue bodoh.. gue minta maaf. Kalau gue gak ada nanti..’ ucapan Zai terhenti karena Zia meletakkan telunjuknya di bibir Zai.
‘Jangan! hiks.. hiks.. Jangan bilang kayak gitu. Lo kuat dek, bertahan. Demi gue, demi papa, demi mama, demi bang Ze. Gue mohon’ balas Zia.
‘( senyum ) kalau gue gak ada nanti, jangan terlalu lama nangis. Gue gak mau liat lo nangis. Sampein juga sama yang lain’
‘Bang Aska, jagain kakak gue ya. Gue percaya sama lo. Tolong bahagiain dia’
‘Bang raprap, maafin gue udah suudzon sam.. ahh...’ Zai kesakitan.
‘MANA AMBULANCE!!!!’ Zia berteriak. Gak lama kemudian, ambulance datang lalu membawa Zai.
•••••–•••••–•••••–•••••
Zia melihat kearah bajunya yang penuh darah. "Zai pasti selamat, percaya sama aku ya" kata Aska, Zia mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Aska.
"Bakal aku bunuh penembaknya pake tangan aku sendiri kalau sampe Zai kenapa kenapa" balas Zia.
"Iya, aku bantu kamu buat bunuh orang itu. Sekarang kamu makan dulu ya sayang. Aku mohon" bujuk Aska. Zia mengangguk.
Aska mengeluarkan roti lalu memberikan ke Zia. Disela-sela makan Zia, dokter keluar.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Zia.
"Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Untung saja pasien cepat dibawa, jika tidak dia pasti kekurangan banyak darah. Saya bersyukur pelurunya tidak mengenai ginjalnya" jawab dokter. Zia senyum, dia memeluk Aska lagi.
"Alhamdulillah" lirih Zia. Aska membalas pelukan Zia erat.
"Kapan adik saya akan bangun dok?" tanya Aska.
"Saya belum bisa memastikannya."
"Kami boleh masuk dok?" tanya Zia.
"Kalian sudah bisa menjenguknya, tapi jangan terlalu ramai ya. Saya pergi dulu." pamit dokter itu lalu pergi.
"Sayang kamu masuk dulu, aku mau bicara sama rap" suruh Aska. Zia mengangguk lalu masuk.
"Rap, dengerin gue baik baik." kata Aska.
"Baju serba hitam, rambut keriting, pakai topeng, tinggi sekitar 168cm. Punya tato laba laba dibagian pergelangan tangan sebelah kanan. Pakai jam warna hitam sebelah kanan. Dia gak punya jakun. Cari manusia itu! Dia yang rencanain ini" suruh Aska.
"Lo liat semua itu ka? Jelih banget mata lo" ujar Rafael.
__ADS_1
"Mata dan pendengaran gue tajam. Gue masuk dulu, kasih kabar baik buat gue" Aska memukul pelan pundak Rafael lalu pergi.
"Wah, jiwa Psychopath gue bangkit gara gara manusia keriting itu" Rafael berkata sambil mengingat ciri ciri yang dikatakan Aska lalu pergi.