
"Ngapain papa disini?" tanya Zia pada pelayan. Iyap, Zia baru saja dibangunkan oleh pelayan.
"Saya tidak tau nona"
"Baiklah sebentar lagi saya akan datang" pelayan pun keluar dan melanjutkan kerjanya. Zia tidak sadar jika masih menggunakan seragam sekolah, dia keluar menemui papanya. Saat keluar dari lift, semua yang dimeja Zeco melihat Zia yang begitu cantik, padahal baru saja bangun dari tidurnya. Rambutnya yang diikat asal asalan membuatnya sangat cantik, Aska pun terpesona. Dia berjalan kemeja papanya dengan oleng karena masih mengantuk.
"Assalamualaikum pa, ada apa?" tanya Zia. Zia melihat didepan papanya ada tamu, dan dia juga melihat ada Aska.
"Eh lo ngapain disini?" tanya Zia.
"Makanlah apa lagi?" tanya Aska, Zia pun menundukkan badannya.
"Selamat menikmati makanannya om tante" ujar Zia.
"Ada apa papa panggil Zia?" tanya Zia lagi.
"Kamu ngapain disini? Kenapa gak tidur dirumah?" tanya Zeva
"Zia ngantuk ma. Terlalu jauh jika pulang kerumah."
"Yasudah, pulanglah sekarang. Kamu masih pakai seragam sekolah."
"Astaga! Zia lupa. Zia naik keatas saja ya pa, ma, om, tante. Diruangan Zia ada baju, ada kamar mandi juga kok."
"Kamu mau mandi nak?" tanya Natera.
"Iya tante," jawab Zia.
"Apa kamu tidak kedinginan mandi jam segini?" tanya Alice
"Tidak terlalu Tante" jawab Zia lagi.
"Kamu lupa dengan Tante?" tanya Alice lagi.
"Maaf.. tantee.. siapa ya" tanya Zia sambil nyengir kuda.
"Kamu pernah tolongin tante dari perampokan. Kamu menghajar 2 preman sendirian." jawab Alice, semua orang pun terkejut.
"Oooo.. tante yang itu. Maaf Tante Zia lupa."
"Tante mamanya Aska." Zia hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf o.
"Bagaimana bisa kamu menghajar 2 preman seorang diri nak?" tanya Fernando
__ADS_1
"Papa saya sering mengajarkan saya ilmu beladiri om, katanya biar jadi orang yang kuat dan gak gampang ditindas. Makanya saya bisa menghajar mereka" jawab Zia.
"Wah.. kau mengajarkan semua jurusmu pada anakmu? Hebat Zeco, kau hebat" sahut Hans. Zeco hanya tertawa kecil.
"Yasudah kalau gitu, Zia keatas dulu mau bersihin badan." Pamit Zia.
"Mau gue temenin gak?" tanya Aska.
"Mau gue tabok gak?" tanya Zia balik, kemudian dia tersadar dan memukul pelan mulutnya.
"Maaf om , tante" kata Zia, mereka pun hanya tertawa.
"Kamu itu udah baik, cantik, hemat, pemberani, om salut sama kamu" sahut Hans.
"Iya, jarang ada cewek yang berani ngelawan si Aska, kecuali Tante" ujar Alice.
"Hehe.. yaudah Zia pamit dulu. Nikmatin makanannya ya om tante." pamit Zia sambil meninggalkan tempatnya.
"Zia" panggil Zeco.
"Iya pa?" tanya Zia berbalik.
"Setelah itu kamu langsung pulang. Jangan kemana mana oke!" Suruh papa Zia, Zia hanya menggunakan isyarat tangan 👌🏻.
"Siapa dulu mamanya" jawab Zeva menyombongkan diri.
"Papa mama masih lama? Aska pulang duluan ya. Ngantuk." pamit Aska.
"Yaudah kamu pulang, jangan mampir ke club!" suruh Adi.
"Iya paaa, Aska pamit dulu ya om tante" pamit Aska kemudian meninggalkan tempatnya.
Setelah beberapa jam berbincang, mereka pun pulang kerumah masing masing.
Di rumah Zia, Zeco langsung memanggil Zean keruangan kerjanya, ruang kerja Zeco sangat dekat dengan kamar tamu, jadi apapun yang dikatakan Zeco pasti akan didengar Febby.
"Kenapa pa?" tanya Zean.
"Kamu, akan papa jodohkan" ujar Zeco
"Pa, jangan ngaco. Perjodohan perjodohan apa? Zean cinta sama Febby pa! Gak mau Zean gak mau." kata Zean sambil ingin meninggalkan ruangan kerja Zeco.
"Tidak ingin tidak apa, kamu akan papa keluarkan dari KK keluarga Hitler." ancam Zeco, Zean pun menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Besok kita akan bertemu dengan calon istrimu nak. Kamu lihat saja dulu bagaimana, setelahnya kamu bisa menolaknya. Kamu akan menyesal nantinya jika mengambil keputusan yang salah" ujar Zeva.
Febby yang mendengar semuanya merasakan sakit dihatinya. Tak terasa air matanya menetes seketika. Dia langsung menghapusnya dan menunggu didepan pintu, Zia pun ikut keluar dari kamarnya.
"Pantang bagi seorang pria melanggar perjanjian Zean. Papa harap kamu mau. Ini demi kebaikanmu" ujar Zeco lagi. Zia mendengar semuanya dan merasa geram, tiba tiba pelayan lewat membawa minuman untuk Zeco dan yang lain, Zia menggantikannya dengan dia.
"Jika seorang pria pantang melanggar janjinya, kenapa masih banyak pria yang selalu ingkar?" sahut Zia saat masuk.
"Zia dimana kesopanan kamu?!" tanya Zeva sambil marah.
"Mohon maaf tuan besar Zeco. Apakah tuan pernah merasakan sakitnya hati perempuan yang mendengar ini semua. Anda tidak pernah tau rasanya tuan. Saya pamit dulu." ujar Zia lalu keluar.
"Aku akan datang. Tetapi jika aku tidak ingin, jangan paksa aku!" suruh Zean.
"Baiklah, kau boleh keluar" ujar Zeco.
"Febby" ujar Zean kemudian memeluk Febby, Febby memaksa melepaskannya.
"Sudahlah, turuti keinginan orangtuamu, jangan membangkang. Itu akan menjadi yang terbaik buat mu. Buat mereka bangga padamu. Tenang saja aku akan segera melupakanmu. Cobalah untuk menerima calon istrimu" suruh Febby. Hpnya pun berbunyi.
"Kalau begitu Febby akan bersiap" ujar Febby saat panggilan berakhir.
"Aku akan pulang, papa dan mamaku sudah kembali dari Spanyol. Lupakan aku oke. Mulai semua dari awal, aku tidak ingin namamu tercoreng dari keluarga Hitler. Aku akan baik baik saja." ujar Febby sambil menghapus air matanya yang menetes. Lalu memeluk Zean sebentar.
"Baiklah. Mulai detik ini kita tidak ada hubungan lagi" jelas Febby memutuskan pelukannya, masuk kekamarnya dan membenahi semua barangnya.
"Kasian pa.. Febby ternyata benar² cinta dengan Zean." ujar Mama Zia, Zeco hanya mengangguk. Mereka melihat semua adegannya karena ada cctv yang terpasang.
"Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Patuhi orang tuamu oke." Suruh Febby sebelum pergi
"Aku akan mengantarmu." tawar Zean
"Tidak perlu, supir papaku sudah menjemput." Febby pun menghampiri ruangan kerja Zeco. Zeco dan Zeva pun keluar.
"Febby pamit ya om, tante. Makasih penginapannya" Zeco dan Zeva hanya mengangguk. Febby menuju arah Zia.
"Kakak pulang dulu ya. Jangan sedih, kakak yakin calon iparmu yang baru lebih baik dari kakak" bujuk Febby.
"Kita masih bisa seperti kakak dan adik bukan?" tanya Zia. Febby hanya tertawa.
"Tentu bisa. Yaudah kakak pergi dulu."
"Selamat malam semua" pamit Febby lalu meninggalkan rumah Zia.
__ADS_1