Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Amukan papa Zeco


__ADS_3

"Kok gak bilang?!! Ayok ke UKS" tarik paksa Luis. Zia pun hanya diam dan mengikuti Luis.


"Luis, gak usah ke UKS. Ke rumah sakit aja" ajak Zean.


"Gak usah alay" sahut Zia


Tak..


Sentilan dari Luis mendarat di jidat Zia.


"Sakit odong"


"Makanya jangan geblek jadi orang!" suruh Luis. Luis membawa Zia ke mobilnya dan berjalan menuju rumah sakit pribadi keluarga Hitler.


Di Kampus.


"Pak Dekan, pilih yang mana? Saya keluarkan anda dari kampus, atau anda mengeluarkan mereka dari kampus?!" tanya Zean.


"Eh tunggu tunggu bang Ze, gue bingung kenapa papa ada disini?" tanya Bian heran.


"Bian? Kamu gak tau atau pura pura gak tau?" tanya Dekan.


"Saya gak tau pak, suer" jawab Bian


"Ini pemilik kampus, pak Radatt." balas Dekan.


"Buset dah, kok gue kagak tau?" tanya Bian.


"Tunggu, berarti.. anda yang memberikan liburan ke Filipina saat saya, Zia dan yang lain di SMA Kebangsaan??" tanya Ica.


"Wah wah, liburan ke Filipina" bisik mahasiswa mahasiswi lainnya.


"Iya saya" jawab Mahen santai. Ica, Tania, Ivan, dan Dimas terkejut. 'baik banget bapak, subhanallah' batin mereka.


"Ternyata orang yang dicari Zia orang terdekatnya" ujar Tania.


"Dicariin?" Beo Mahen.


"Zia nyari tuan Radatt, dia penasaran, kenapa ada orang yang baik banget ngasih kita liburan ke Filipina" jelas Ica.


"Mau apa Zia ketemu saya?" tanya Mahen.


"Mau diajak mabar cacing katanya tuan" jawab Tania. Sontak semua yang mendengar itu tertawa, suasana mencekam perlahan mulai hilang.


"Taniaa, itu cuman jawaban ngelanturnya Zia." Ujar Ica pada Tania.


"Lah mana gue tau" balas Tania.


"Zia, saya dan yang lain, mengucapkan banyak terimakasih atas liburan yang anda berikan tuan" ujar Ica sambil membungkuk.


"Hah? Iya gak masalah, saya senang. Kalian bisa membanggakan SMA Kebangsaan, padahal menurut cerita yang saya dengar, kelas kalian kelas yang anti diem. Saya salut pada kalian, makanya saya memberikan hadiah itu untuk kalian" jelas Mahendradatta sambil tersenyum.


"Kembali ke pertanyaan Zean, anda pilih yang mana?!" tanya Mahen pada Dekan.


"Kalian berdua saya keluarkan dari kampus ini. Dan saya suruh koneksi saya untuk tidak menerima mahasiswi kejam seperti kalian" tegas Dekan pada Gisell dan Hany.


"Tapi pak..." ujar Hany.


"Makanya lain kali berfikir sebelum anda bertindak, penyesalan itu diakhir. Mulai sekarang jangan berulah lagi atau setiap perbuatan anda saya laporkan ke pihak yang berwajib" bantah Zean.


"Kenapa ya gue harus berurusan lagi sama keluarga kalian, Abang gue masuk penjara gara gara kalian, dan sekarang aghhh.." balas Gisell.

__ADS_1


"Makanya kalau kuliah itu belajar yang bener! Anda bodoh atau pura pura bodoh? Saudara anda berada dipenjara karena kesalahannya, dia membocorkan file, menyamar dan menjadi penghianat. Perasaan saya mengatakan anda juga mempunyai sifat yang sama dengan saudara anda!" kata Zean.


"Ze.. atau jangan jangan mereka yang teror Zia?" tanya Febby.


"Ah, istri ku cerdas!!" jawab Zean.


"Benarkah kalian yang neror adik saya?" tanya Zean sopan.


"Ng-nggak kok bang, kak" balas mereka berdua.


"Kenapa gugup gitu? Atau emang kalian bedua?" tanya Ivan curiga.


"Bukan kita kok" jawab Gisell dengan santai, padahal sudah gemetaran.


"Bisa jadi juga, kalian yang nyuruh orang buat ngehajar Zia makanya tangannya bisa gitu?!" tanya Ica.


"Bukan kita suer" jawab Hany gantian.


"Ooo gitu, yakin?" tanya Dimas. Mereka diam.


"Tadinya kalian berdua saya taruh disini buat saya permalukan seperti kalian membully adik saya, tapi adik saya dan kakak iparnya tidak menginginkan hal itu, jadi semua hal yang terjadi hari ini akan berdampak kepada keluarga kalian. Saya pamit, assalamualaikum" ujar Zean lalu menarik Febby menuju parkiran, kemudian mereka pergi kerumah sakit. Orang orang yang dikampus masih terdiam, dan tidak bisa berkata kata.


Beberapa menit kemudian, Ivan dan yang lain tersadar dari keterkejutannya. Mereka pun mengambil mobil lalu pergi menuju rumah sakit dimana ada Zia.


"Urus segalanya pak dekan, saya pergi dulu" pamit Mahen lalu pergi juga. 'lo anak tuan Hitler ternyata, gara gara Lo abang gue masuk penjara, dan gara gara Lo juga abang gue yang satu lagi mati. oke, kita tunggu aja tanggal mainnya' batin Gisell.


Di rumah sakit..


"Tangan nona Zia sudah di perban lagi, lain kali hati hati, lukanya masih belum mengering" peringatan dokter.


"Oh, iya dokter makasih" jawab Luis. Dokter itu tersenyum kemudian pergi.


"Ziaa" panggil Ica dan Tania.


"Ada luka lagi gak dia?" tanya Ivan.


"Nggak," jawab Luis.


"Samuel sama Qiara udah sampai? Gue ikut jemput dong" pinta Zia.


"Ziaa" panggil Luis.


"Gue baik baik aja Luis, boleh ya" pinta Zia memelas.


"Ya udah terserah" jawab Luis.


"Mobil gue mana?" tanya Zia.


"Lo kan pergi sama Bian" jawab Luis.


"Oh iya lupa gue"


"Gue pinjem mobil dong, mau ke salon. Rambut gue kayak gini, ntar papa curiga" pinta Zia.


"Gue anter" jawab Luis.


"Sampai jumpa nanti pas jemput Sam sama Qia ya" ujar Zia. Mereka tersenyum. Zia pun pergi sama Luis menuju salon.


"Kita pulang" ajak Luis setelah Zia selesai merapikan rambutnya.


"Nanti gue gak diizinin keluar sama papa" rengek Zia.

__ADS_1


"Diizinin kan ada gue" jawab Luis.


"Ya udah terserah" balas Zia. Mereka pun menuju rumah.


·.–.·.–.·.–.·


"Buset, kenapa rame amat disini" ujar Zia ketika mereka sampai dirumah. Mereka pun masuk.


"Eh ada om Hans, om Mahen, tante Alice, tante Lita." ujar Zia sambil tersenyum lalu menyalami mereka semua. Sedangkan Luis nyelonong aja pergi.


"Udah? Udah belum sandiwaranya Zia?" tanya Zeco.


"Sandiwara apa pa?" tanya Zia.


"Papa kan udah bilang gak usah kuliah, kenapa kamu ngeyel sih? Kamu kira papa gak tau kejadian hari ini?" tanya Zeco, Zia hanya menunduk. 'papa marah, gue takut' batin Zia.


"Zeco, jangan seperti itu" suruh Hans.


"Hans benar, jangan seperti itu. Kasian putrimu" sahut Mahen. Zeco berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Zia.


"Papa khawatir Zia, papa takut." ujar Zeco.


"Ma-maafin Zia pa" ujar Zia masih menunduk dan membalas pelukan papanya.


"Ma-maafin Zia pa" ujar Zia lagi. Zeco melepas pelukannya.


"Ada yang luka kamu? Hm?" tanya Zeco.


"Ada yang sakit nak?" tanya Zeva.


"Nggak kok pa, ma" jawab Zia.


"Besok jangan kuliah dulu!" suruh Zeco.


"Paa.."


"Pertunangan kamu 2 hari lagi Zia" ujar Zeco. Zia kembali menunduk.


"Ya udah, tapi nanti Zia ikut jemput Sam ya. Kan ada Luis, Ivan sama yang lain" pinta Zia memelas.


"Gak usah gitu mukanya, udah jelek makin jelek" balas Zeco. Zia merengut mendengar perkataan Zeco.


"Huh.. pergilah. Tapi besok kamu tidak kuliah." suruh Zeco.


"Luis" panggil Zeco. Luis yang didapur langsung lari ke ruang tamu.


"Iya om" jawab Luis. Semua tertawa melihat Luis.


"Kenapa?" tanya Luis. Zia mengambil tissue yang ada dimeja dan mengelap bekas makan Luis yang celemotan.


"Jagain Zia nanti oke" suruh Zeco.


"Ooh, iya om pasti" jawab Luis


"Luis kesana dulu ya om, tante" pamit Luis lalu pergi lagi.


"Kamu gak apa apa kan Zia? Beneran?" tanya Alice.


"Nggak apa apa tante, Zia kan strong" jawab Zia sambil cengengesan.


"Zia ke kamar dulu ya, permisi" pamit Zia lalu pergi ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2