
Setelah selesai, mereka menuju kantin mengisi perut yang udah kelaparan.
"Gue mau traktir dong"
"Orang kaya pengen traktiran?" tanya Tania.
"Bangcatt" jawab Zia.
"Eh woi, jangan sampe kalian bicara tentang nama gue yang ada Hitler nya! Disensor dulu, gue gak mau dimanpaatin orang" suruh Zia mereka hanya mengangguk.
"Ketua BEM kita ganteng tau, tapi gue gak pernah liat" kata Tania
"Van gue kurang ganteng?" tanya Dimas.
"Cemburu tu Tan, hajab dahlu" sahut Ica semua hanya tertawa.
"Gimana Lo tau ganteng, Lo aja gak pernah liat ege" kata Zia
"Kata temen sefakultas gue sih gitu" jawab Tania. Zia hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Mereka terus berbincang dan tertawa tawa.
*Dari kejauhan.
"Liat apaan lo?" tanya Kris teman Bian.
"Itu" jawabnya sambil menunjuk Zia.
"Buju gile, cantik bangett. Buleee" sahut si Kris.
"Macem macem gue tampol lo" ujar Bian sinis.
"Emang dia siapa?"
"Calon masa depan gua lah" jawab Bian.
"Halu," jawab Kris.
"Gak lama lagi nih, gue samperin ah" ujar Bian lalu menghampiri Zia yang lagi makan bakso dikantin, sekarang pipinya jadi tembem karena bakso yang dimakannya. *
"Varo?" ujar Zia terkejut saat melihat Bian didepannya.
"Ceileh, tuaan lagi si Bian manggilnya nama doang" cibir Kris.
"Mon maap anda siapa?" tanya Zia, mereka pun tertawa mendengar pertanyaan Zia.
"Lo kuliah di kampus ini?" tanya Bian.
"Nggak, gue cuma numpang makan bakso doang" jawab Zia.
"Zia," panggil Luis
"Apaan?"
"Maapin ya kak, temen kita emang rada gesrek" ujar Tania.
"Gesrek gesrek gini lo pada nolep kalau gak ada gue" sambar Zia sambil memakan baksonya.
__ADS_1
"Geernya kambuh, ma*pus" sahut Dimas.
"Lo disini ngapain?" tanya Zia pada Bian.
"Gue kuliahlah disini" jawabnya.
"Astaga, salah kampus dong gue. Waduh, gue pindah ke Rusia boleh gak ya?" tanya Zia
"Lo ke Rusia gue kubur idup idup" sahut Ivan.
"Tegaa" jawab Zia.
"Lo ngikutin gue ya? diJerman ada lo!, Di kampus ini ada Lo! Heran gue jadinya" kata Zia lagi.
"Mulutnya ci!" kata Ivan, Zia hanya mengabaikannya.
"Di Jerman kemaren gue ada kerjaan bukan—" ucapan Bian terpotong karena Luis.
"Kakak siapa ya?" tanya Luis sopan.
"Sok sopan biasanya juga kagak" protes Zia.
"Bisa di bekap aja gak sih mulutnya?" tanya Ica.
"Ye mon maapp" sahut Zia.
"Ngomong sekali lagi, gue lempar Lo ke kuburan" ujar Tania.
"Kejam ya Lo pada" jawab Zia dramatis, puppy eyesnya keluar dan Zia terlihat sangat imut. Membuat Bian dan Kris terpesona. Saat ini semua mahasiswa mahasiswi sedang di dalam kelas, jadi suasana kantin tidak terlalu ramai. 'kyut banget nih bocah sontoloyo' batin Bian dan Kris.
"Saya ketua BEM dan ketua basket di kampus ini" jawab Bian, Zia yang lagi minum pun tersedak mendengarnya. Ica dan Tania terkejut.
Uhuk... Uhukk...
"Pelan pelan Zia," suruh Luis.
"Jadi.. ketua BEM nya kakak?" tanya Tania.
"Iya kenapa ada masalah?" tanya Bian.
"Gak" jawab Tania. Mahasiswa mahasiswi yang tadinya di dalam kelas sekarang sedang menuju kantin dan kantin menjadi ramai.
'Ketua BEM ngapain nyamperin Maba?'
'Di labrak apa gimana sih?'
'Anjsyy, seumur umur, gue belum pernah disamperin sama idol kampus'
Bisik para mahasiswa.
"Varo, mending lu pergi sono. Daripada reputasi gue jelek" suruh Zia.
"Sopan Zia sopan" suruh Luis.
"Kak Varo yang terhormat,.."
__ADS_1
"Bian," protes Tania.
"Ah monyong, tau ah mending gue diem aja" sahut Zia.
"Pliss pergi, masa iya hari pertama gue ngampus langsung digibahi sama orang" bujuk Zia setelah beberapa menit dia diam.
"Dari tadi lo sampe di kampus udah digibahin orang dodol" sahut Dimas.
"Eh tapi itu beda, itu karena seorang ratu tibaa" ujar Zia kepdan sambil cekikikan.
"Pergi ya lu kak plis. Eh gak jadi gak jadi, gue aja yang pergi, gue udah selesai makan. Lo mau makan kan? Oke silahkan" ujar Zia lalu beranjak, di saat posisinya disamping Bian dia berbisik.
"Jangan sampe ada yang tau gue anak keluarga Hitler, gue mohon!" bisik Zia lalu pergi. Teman temannya pun mengikuti.
"Maafin pacar saya ya kak, emang rada gesrek otak sama tingkahnya" kata Luis, lalu melanjutkan perjalanannya.
'Pacar? maba bule itu pada pacaran?'
'Wanjerrr'
Bisik para penggosip lagi.
"Stop gosip! Omongan kalian gak bermutu!" Suruh Kris, mereka pun diam. Bian dan Kris meninggalkan kantin dan berjalan menuju kelasnya.
"Dah punya pacar mas, yang sabar ya" ujar Kris pada Bian.
"Mau gue tampol?" tanya Bian.
"Jangan marah ceilahhh!" suruh Kris.
"Bian sayanggg" panggil mahasiswi tercantik di Kampus itu, namanya Hany Adelia.
"Hama pengganggu datang" ujar Kris.
"Sembarangannn!" Sahut Hany.
"Berhenti panggil gue sayang! Gue bukan pacar Lo!" kata Bian kemudian pergi.
"Tertolakk" ledek Kris lalu dia mengikuti Bian.
"Cewek kesekian, mahasiswi tercantik kampus juga ditolak" ujar Kris saat disamping Bian.
"Bodo amat" sahutnya.
"Gue kurang ganteng ya? Apa gimana?" tanya Bian.
"Lo spesies makhluk insyekur di sini. Lo ganteng begoook" jawab Kris.
"Kalau Lo gak ganteng gak mungkin tu mahasiswi idola kampus doyan sama Lo" lanjutnya.
"Ya udah kalau gitu gue mau balik aja dah"
"Pengen gue tabok. Yaudah gue juga mau balik. Capek pengen tidur" sahut Kris, lalu mereka pulang kerumah masing masing.
*Sedangkan Hany kesal karena sikap Bian padanya.
__ADS_1
"Tunggu pembalasan gue, mahasiswi laknattt?" Ujarnya penuh kekesalan.