Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Start


__ADS_3

Saat ini Zean sedang pergi menuju kafe milik Zia. Ia ingin menemui kekasihnya di situ. Yaaa, walaupun banyak yang mengira Zean jomblo, tapi nyatanya tidak. Zean punya pacar, dan Febby Kania Syahwa namanya.


Oh iya, kafe Zia ini tidak banyak yang tau. Hanya orang-orang terdekat yang tau. Kafe yang ada dari hasil tabungan Zia itu sangat ramai karena memiliki beberapa tingkat.


Di lantai satu kafe untuk tempat nongkrong dan hanya dikhususkan untuk tempat minum. Di lantai dua ada tempat khusus buat makan, makanan yang dibuat dengan tangan chef profesional. Dan di lantai tiga ada tempat peristirahatan para pelayan. Di lantai tiga itu juga ada ruangan pribadi Zia. Serta tersedia lift di tengah ruangan.


"Eh, sayang. Maaf aku terlambat," kata Zean setibanya di sana. "It's okayy." Zean tersenyum sekilas lalu melambaikan tangan, memanggil salah satu pelayan.


"Mau makan apa?"


"Terserah kamu aja." Zean pun memesankan apa yang biasanya Febby sukai. "Kamu kemana kok gak ngampus?"


Zean langsung menggenggam tangan Febby. "Maaff ya, sayang, aku kurang ada waktu buat kamu. Aku harus nyelesain tugas dari papa, bersangkutan sama adek aku."


"Tugas apaa?"


"Adek aku hampir ditabrak sama orang kemarin, keesokan harinya dia difitnah dengan orang yang sama. Sekarang anaknya di skors dan malah happy-happy di Jerman."


"Hahaha, santai bangett emang. Pantesan kemaren aku lihat snapgramnya kayak lagi di luar. Aku kira kamu ikut." Zean menggeleng. "Cantik banget tau dia di snapgram kemarinn."


"Jelas cantik, adek aku gitulhoo. By the way, calon kakak iparnya juga cantik."


"Hilihh. Aku pengen ketemu Zia jadinya."


"Video call-an mau?"


"Bolehh," jawab Febby. Zean mengambil hpnya dan menelepon Zia. Panggilan masih berdering.


^^^"HWAAAA!! Haaaii, kakkk Pebbyyy!!"^^^


"Haii juga, Ziaaa!"


"Kenape teriak sihhh, budeg guee."


^^^"Yeuu, lu mah udah budeg dari dulu."^^^


"Adek laknattt," umpat Zean.


^^^Zia tertawa. "Kak Febby, Zia rinduuu!"^^^


"Kakak jugaaa. Kamu cepet pulang gih."

__ADS_1


^^^"Hehehe, tar kalau pengen aja. Ka–?" ^^^


Perkataan Zia terhenti. Mereka mendengar suara pintu terbuka. "Astaga, Zia, kau kenapa berteriak?" tanya Luis dari sana dalam bahasa Jerman. Zean yang mendengar tertawa.


^^^"Yaaa maaff. Aku lagi bicara sama calon kakak iparku."^^^


"Luiss, kalau dia terlalu berisik selama di sana, bekap saja mulutnya pakai bantall," kata Zean dengan bahasa Jerman juga. Luis dapat mendengarnya karena panggilan di loudspeaker.


^^^"Tidak mau, kasian nanti dia mati. Tidak ada lagi yang bisa aku suruh-suruh nantinyaa."^^^


Zean kembali tertawa mendengar jawaban Luis. Febby yahg berada di sebelahnya malah terheran-heran. "Ngomong apa deh? Itu juga siapa, Ze? Pacarnya?"


"Bukan, sayang. Dia sepupuku, sepupu Zia juga. Luis namanya, tinggal di Jerman." Febby mengangguk-angguk. Di dalam hpnya Zean, terlihat Zia sedang menuruni tangga.


"Pa, Zia laperr." Papanya menoleh sekilas. "Makan. Itu kamu lagi video call? Sama siapa?"


"Abang sama kakak."


"Sini pinjam hpnya, papa mau ngomong sama abang kamuu." Zia memberikan hpnya lalu pergi mencari makanan ke dapur.


"Gawat," gumam Zean sedikit panik. Walaupun Zean tidakk melihat dan ponselnya berada di tangan Febby, Zean masih bisa mendengar semua percakapan.


^^^"Eh, haii nak Febby. Om pinjem Zean sebentar bisa? Suruh Zean menjauh sebentar dari kamu gakpapa, kan?" ^^^


^^^"Sana jawab, panggilan dari boss besar." ^^^


Zean menghembuskan nafasnya dari mulut kemudian beranjak pergi sedikit menjauh. "Ini Zean, pa."


^^^"Gimana?"^^^


"On process, pa."


^^^"Bentar lagi papa pulang, Zean. Jangan sampai semuanya belum terselesaikan. Tapi kalau kamu mau fasilitasnya dicabut, bertele-tele saja terus."^^^


"Zean gak bertele-tele kok, pa. Daritadi juga ngurus semuanya, baru ini istirahat bareng Febby di kafenya Zia."


^^^"Ya sudah, istirahat dulu gakpapa. Btw, jangan aneh-aneh itu sama anak orang."^^^


"Aman, pa. Tenang aja."


^^^"Ini papa matiin aja dehh. Semangat ya, anak papa. Assalamualaikum."^^^

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, paa."


Panggilan terputus. Zean kembali menghampiri Febby. Tepat saat itu pesanan mereka datang. Zean meminumnya terlebih dahulu untuk mengurangi rasa paniknya.


"Papa marahin kamu?" Zean menggeleng.


"Aman kok. Besok aku harus ketemu sama orang yang bantuin aku tentang rencana ini. Dia cewek, namanya Avika. Jadi nanti kalau ada gosip aneh, kamu jangan percaya ya. Aku cuma mau kasih dia kerjaan karena udah nolongin aku."


"Avika? Avika Nadasya?"


"Iya, kamu kenal?"


"Lumayan kenal. Penampilannya kayak cowok, tapi aslinya baik bangett," jelas Febby santai. "Nah justru itu aku minta tolong sama dia. Gakpapa, kan?"


"Iya gakpapa, sayangkuu." Zean tersenyum. Ia mengelus tangan Febby lalu mengecupnya. "Nanti malam aku juga mau keluar buat nuntasin kasus ini. Kamu mau ikut? Sekalian ketemu sama Avika."


"Ngga deh, aku di rumah aja."


"Yakin?"


"Iya, sayang. Ayok makan duluuu, abistu pulang. Biar kamu ada istirahatnya nanti." Zean menoleh. "Kamu tadi naik apa? Aku naik motor doang, gimana dong?"


"Ya gak gimana-gimanaa. Emang kenapa kalau naik motor? Gakpapa kok, sayang. Aku tu sayang sama kamu bukan karena harta. Jadi kalau semisalnya pun kamu antar jemput aku jalan kaki, aku juga gak bakal ngeluh dan gak bakal mutusin kamu kok," kata Febby lemah lembut sambil memegang kedua pipi Zean.


"Beruntungnya aku punya kamuu."


"Kita sama-sama beruntung, sayang."


...—•—...


Malam harinya, mereka mulai beroperasi. Menjalankan semua rencana yang sudah disusun. Avika, Qiara dan teman-temannya sudah menunggu di hotel. Zean, Aska dan yang lain sudah bersiap di kafe Zia.


Tak lama kemudian Zai datang bersama dengan Nabila, mereka memesan minuman dan makanan, tidak lupa juga obat tidur tertabur di makanan Nabila.


Nabila masuk perangkap.


Aska dan yang lain membawanya menuju hotel dan melakukan rencana berikutnya. Qiara yang memotret segalanya. Setelah selesai, Aska dan yang lain menuju ke sekolah mereka, memanjat pagar dan memasang foto-foto itu di mading.


Zean hanya mengikuti serta memantau mereka.


Sehabis itu, Qiara beserta teman-temannya sudah pulang karena tidak ingin pulang terlalu larut malam. Nabila juga diantar pulang, Zai berkata pada papanya kalau Nabila tertidur di jalan karena kelelahan.

__ADS_1


"Okee, mission complete. Tinggal tunggu hasilnya."


^^^Revisi, 2023.^^^


__ADS_2