
"Samchon jaattt. Masa samchon pelukan sama cewek lain bukan sama aunty. Nanti Zap bilang sama opa. Huaaaa...." kata Zafran. Luis, Zia, Syifa, dan Aska pun tertawa.
"Ih kenapa ketawa?? Zafran serius" lanjut Zafran. Zia menghampiri Zafran, mengusap air mata Zafran yang cuma sedikit.
"Nangis ecek ecek kamu kan?" tanya Zia.
"Ih kakak jangan sembarangan ya. Sana sana jauh!" suruh Zafran.
"Zafran, ini aunty. Kamu gak kenal aunty?" tanya Zia.
"Boong!" balas Zafran.
"Zafran anak Daddy Zean, Mommy Febby. Zafran bentar lagi mau punya adek..." dan lainnya, Zia menjelaskan detail detail yang diketahui Zafran untuk meyakinkan Zafran. Sampai akhirnya Zafran ketawa.
"Kenapa ketawa?" tanya Syifa.
"Eheheheeh.. Zafran salah. Maap ya aunty" kata Zafran.
"Kamu gak kenal aunty?" tanya Aska. Zafran mengangguk.
"Aunty kayak bukan aunty. Aunty kan seringnya pake baju simpel terus ada kantongnya didepan sama pake celana. Gak pake baju kayak gini" jelas Zafran.
"Menurut kamu, aunty cantikan pake baju kayak gini, atau pake baju simple ada kantongnya?" tanya Syifa.
"Emmmmm... aunty sama tante gimana pun cantik. Zafran suka" jawab Zafran.
"Heh!!" Panggil Luis. Zafran tersentak kaget.
"Enak aja kamu naksir sama tante. Tante kamu kan punya ongkel" kata Luis.
"Eh gob·lok" cibir Aska. Zia mencubit Aska.
"Aaaaa..aaaaa sakit sayang" keluh Aska.
"Jangan bicara kotor ih, ada Zafran" kata Zia.
"Zafran kamu denger samchon bilang apa?" tanya Zia.
"Gob·lok" jawab Zafran.
"Tuh kan! Kamu sih" tuduh Zia.
"Iya maapp sayang, keceplosan" balas Aska. Luis dan Syifa hanya melihat mereka. Aska menggendong Zafran.
"Zafran, kamu gak boleh ya bilang kayak gitu lagi. Kalau kamu udah besar kayak samchon baru boleh" ujar Aska.
"Sama ajaaaa, gak boleh juga" sahut Luis.
"Boleh atau nggak ongkel, samchon?" tanya Zafran.
"Nggak!" jawab mereka berempat bersamaan.
"Oh oke" jawab Zafran disertai jarinya yang menunjukkan oke ( 👌🏻 ).
"Gud boy, pulang kita?" tanya Aska.
"Bentar gue ganti dulu" pinta Zia.
"Ngapain ganti? Gak usah!" kata Syifa.
"Aku lagi jahat hari ini fa, kalau pake baju ginian dihujat netijen ntar" balas Zia. Dia pun pergi menuju ruang ganti.
_____________
__ADS_1
Dua puluh tujuh menit tiga belas detik, mereka pun sampai dirumah. Aska dan Zia masuk kedalam rumah sambil ketawa cekikikan karena Aska ngelawak. Aska yang ngelawak dia juga yang tertawa. Mereka berdua tertawa lepas. Tapi hanya sebentar.
Saat tiba di dalam rumah, suasana berbeda. Aska dan Zia sama sama bersikap dingin. Karena ada tamu tak diundang, Lindi. Sikap Aska dan Zia yang dingin, seperti peringatan bagi keluarga, Febby membawa Zafran dan mengajaknya tidur.
"Loh kamu disini?" tanya Lindi dengan nada genit. 'suara yang tadi, beda sama yang sekarang. ya Rabb jauhkan rumah tangga adek hamba dari ulet bulu' batin Zean.
"Loh kamu kenal ka?" tanya Zeco.
"FANS nya Aska waktu kuliah pa" jawab Zia menekan kata fans, lalu pergi mencari minuman soda. Saat dia kembali, Aska merebut sodanya.
"Jangan minum soda" suruh Aska, dia ingin meminumnya.
"Eh enak aja, kamu dari tadi yang minum soda. Aku baru ini" Zia merebut kembali lalu meminumnya. Aska menatapnya datar, Zia cengengesan. Saat Zia meletakkan soda di meja ruang tamu, Aska mengambilnya lalu meminumnya.
"Kebiasaan, di dapur banyak!" cela Zia.
"Rasanya beda" balas Aska sambil menatap Zia.
"Terserah" jawab Zia.
"Lo ngapain disini?" tanya Aska.
"Adrea panggil aku tadi" jawab Lindi.
"Lo?" tanya Lindi.
"Ini rumah mertua gue" jawab Aska.
"Mertua? Maksudnya? Oh iya, Zia istri kamu." ujar Lindi. Aska mengangguk. Hening tanpa pembicaraan apapun di ruang tamu, semua sibuk difikirannya masing-masing.
"Pergi!" suruh Zia tiba tiba.
"Lo! Pergi sekarang juga." tunjuk Zia pada Lindi.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Zeva.
"Lo juga pergi!" Zia menunjuk Rere.
"Kumat sarapnya" ledek Zean.
"PERGI!!!!!" bentak Zia, Zean terkejut. Lindi memilih keluar. Rere ingin menyusul tapi tangannya ditahan Zai.
"Aku susulin Lindi sebentar, nanti aku balik" kata Rere, lalu pergi.
"Lo kenapa sih?" tanya Zai. Zia pergi tanpa jawaban. Saat ditangga dia berhenti, dan berbalik.
"Rere bukan yang terbaik buat lo, mereka berdua sekongkol dan punya otak licik" ujar Zia.
"Ada sesuatu yang dikatakan?" tanya Aska.
"Lindi bilang ‘aahhh, ada Zia, bisa kacau rencana gue’ " jawab Zia.
"Maksud lo apa sih dek?" tanya Zean. Zia gak jawab dan pergi ke kamarnya.
"Zia.. dia bisa baca pikiran orang" kata Aska.
"Ngaco" sahut Luis.
"Gue gak bercanda, Zia bener bener bisa baca pikiran orang." kata Aska.
"Gimana bisa? Sejak kapan?" tanya Zeco.
"Sejak tadi, kami tersesat. Nggak tau kenapa bisa tersesat, tiba tiba aja Zia bisa baca pikiran."
__ADS_1
"Aska tadi lagi mikirin mau cari tempat liburan, Zia tiba tiba bilang dia pengen ke Korea selatan"
"Ketika Aska tanya kenapa bisa bilang ke Korea, dia jawab ‘aku bisa tau isi fikiran kamu’. Aska gak tau pasti kenapa Zia bisa baca pikiran orang, Aska juga gak tau tadi kenapa tiba tiba tersesat" jelas Aska.
"Jadi maksud lo? Eh gak mungkin lah, ya kali adek gue kerasukan" sahut Zean.
"Aska gak tau" jawab Aska. Saat Aska ingin berbicara, terdengar suara pecahan kaca.
"Aska ke atas dulu," pinta Aska lalu pergi.
Di kamar
"Sayang" panggil Aska.
"Menjauh!" pinta Zia sambil menyodorkan pecahan kaca, tangannya berdarah.
"Sayang kamu kenapa? Jangan kayak gini tolong ya, letakkan kacanya oke?" kata Aska. Aska berusaha mendekat ke Zia, Zia mundur sampai mentok ke dinding. Jarak mereka tidak terlalu jauh, pecahan kaca di tangan Zia berada disamping. Dengan sigap Aska mendekat dan langsung mencium Zia.
Zia luluh, Zia berubah kembali, pecahan kaca yang tadi terjatuh. Zia jadi lemas, dan pingsan. Aska melepas ciumannya.
"Sayang, sayang sayang!!" panggil Aska. Aska menggendong Zia menuju tempat tidur.
Mereka yang diruang tamu menghampiri kamar Zia. Mereka melihat tangan Zia yang sedang dibalut Aska. Beberapa pecahan kaca berserakan.
"Apa yang terjadi?" tanya Zeco.
"Aska gak tau pi, Aska gak tau Zia kenapa. Zia sodorin kaca ke Aska waktu Aska masuk tadi" jelas Aska masih sambil mengobati tangan Zia.
"Adrea gak baik buat lo Zai," Zia mengigau. Mereka masih berada didalam menunggu Zia. Aska kelihatan tidak tenang dari tadi.
Beberapa menit kemudian, Zia tersadar.
"Kenapa rame?" tanya Zia. Aska langsung memeluknya.
"Sayang, jangan sakiti diri kamu sendiri. Aku mohon ya" pinta Aska.
"Aku? Sakiti diri sendiri? Maksud kamu?" tanya Zia. Semua orang terheran.
"Kamu.. kamu kenapa sih?" tanya Zeva.
"Zia gak apa apa ma, tadi setelah suruh Lindi pergi Zia ke kamar buat tidur" jawab Zia.
"Hah? Tapi tadi.." omongan Aska menggantung.
"Kenapa?" tanya Luis.
"Em maaf semuanya, Aska mau ngomong empat mata sama Zia." pinta Aska. Mereka pun keluar, sambil tersenyum dan dibalas Zia.
"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Aska. Zia berbisik.
"Hah? Jadi kamu pura pura?" tanya Aska, Zia mengangguk.
"Rencana aku jadi gagal" ujar Zia.
"Lah? Ya gak apa apa, rencana kamu yang asli ekstrim" balas Aska sambil mengelus rambut Zia.
"Mau langsung buka kedok ah, ayok keluar" ajak Zia. Aska menarik tangan Zia, Zia berbalik Aska langsung mencium pipi tembem Zia.
"Aku takut kamu kenapa kenapa" ujar Aska. Zia memeluk Aska.
"Aku baik baik aja sayang, gak apa apa kok" balas Zia. Aska tersenyum.
"Jangan aneh aneh" kata Aska memperingati. Zia mengangguk, mereka pun keluar dari kamar.
__ADS_1