Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Kabur kaburan


__ADS_3

Keesokan paginya, Zia, Aska, grossvater dan grossmutter kembali ke Indonesia.


Flashback off..


"Yah jadi pengen liburan" sahut Zia.


"Liburan mulu noh otak?! Kagak kasian sama lakiklu yang capek otaknya kerja mulu?" protes Zean.


"Abangquh yang ganteng, kalau gue liburan Aska kan ikut. Jadi dia bisa refreshing" jawab Zia.


"Ya Allah, lo kagak bisa dijelasin emang, udah kesel gue ah" kata Zean.


"Lo gak nyesel ka ngawinin adek gue?" tanya Zean pada Aska.


"Nyesel? Ya kagak lah bang, penantian gue buat dapetin dia lama. Banyak rintangan yang gue lewati demi dapetin adek lo." jawab Aska.


"Ululuuuu suamikuuu" Zia memegang pipinya Aska. Aska melihat kearah Zia lalu mencium pipi Zia.


"Eh kuyang! Anak gue disini" keluh Zean. Zia dan Aska tidak memperdulikannya.


"Haha, kakak jadi keinget waktu kalian pilih dekorasi, tapi Zia kabur gara gara ngambek" Febby bersuara.


^Flashback again...


"Yang ini aja" pinta Aska, Zia dan Aska sedang memilih dekorasi pernikahan mereka.


"Nggak, jangan yang itu. Yang ini aja" pinta Zia.


"Bagusan yang ini sayang" kata Aska.


"Nggak! Bagusan yang ini"


"Yang ini aja" kata Aska. Sejak tadi, mereka selalu bertengkar karena perbedaan pendapat. Mulai memilih cincin, sampai memilih dekorasi untuk pernikahan mereka. Mbak Mbak WO nya juga bingung melihat mereka. Tapi salah satu dari mereka menatap kagum ke arah Aska. Zia menyadari hal itu. Karena sudah kesal dengan Aska dia keluar dari dalam gedung saat melihat Aska yang membelakanginya sambil memijat pelipis.


"Yaud... Loh, calon istri saya mana?" tanya Aska saat dia berbalik.


"Tadi keluar mas" jawab Mbak mbak yang menatap Aska kagum.


"Astaga" Aska langsung berlari keluar mencari Zia. Saat diluar, dia sama sekali tidak menemukan Zia. Dia berlari menuju mobilnya, mengecek siapa tau Zia didalam mobil. Tapi hasilnya nihil, Zia tidak ada disana.


Aska membuka ponselnya, mencoba melacak keberadaan Zia. Tapi tidak bisa. Aska menelpon Zia berulang ulang, tapi teleponnya di reject Zia.


"Astaga sayang," keluh Aska, dia masuk ke mobilnya mengacak rambutnya frustasi. Dengan sangat sangat takut, dia menelepon Zean.


β€”Abang iparβ€”


πŸ“ž Zean; waalaikumsalam, tumben telepon. Kenapa?


Aska; Zia ngilang bang.


πŸ“ž Zean; SERIUS?! KOK BISA?! LO SELINGKUH? LO MAU GUE HABISIN? ADEK GUE LO APAIN?!


Aska; bang, santuy bang santuy. Adek Lo gak gue apa apain. Selingkuh darimana. Gue kagak demen sama cewek selain Zia.


πŸ“ž Zean; jadi, ADEK GUE KEMANA BGST?!!


Aska; abang jangan ngamuk gitu dong.


Aska; jadi gini, waktu pilih dekorasi, kita debat beda pendapat. Pas gue mau iyain dia, eh dia ilang dibelakang gue.


πŸ“ž Zean; cari di apartemen, kafe, HzIn, atau kerumah temen temen Lo.


πŸ“ž Zean; kalau adek gue gak ada kabar sampe nanti malam. Gue minta papa batalin pernikahan. (Tut.., panggilan terputus)


"Yah yah yah..."


"Zia kemana coba?" tanya Aska, dia mulai mengendarainya mencari Zia kemana mana. Menuju tempat tempat yang sering Zia datangi. Tapi hasilnya sama saja, Zia tidak disana. Pilihan terakhir, dia mendatangi rumah Ivan dan Ica. Mereka sudah menikah saat itu.

__ADS_1


"Tau gak dimana?" tanya Aska pada Ica. Pertanyaan yang udah 5 kali lebih Aska tanyakan pada Ica.


"Bentar ka bentar!!" sarkas Ivan.


"Dih sensi banget bang" kata Aska.


"Ganggu sih lo, nanya mulu" kata Ivan.


"Ya maapp, gue takut gagal nikah mas bro" jawab Aska.


"Zia di puncak" kata Ica.


"Puncak? Puncak man... Ooo yang kita kesana waktu SMA itu kan?" tanya Aska.


"Em" jawab Ica.


"Lah, Lo tau dari?" tanya Aska. Ica menunjukkan chatnya dengan Zia.


βœ‰οΈ


Ica;


Lo dimana? Temenin gue belanja dong. Si Ivan sibuk nih.


βœ‰οΈ


Zizi;


Maap ca, gue lagi kabur ke puncak. Kesel sama Aska. Jangan kasih tau Aska ya.


"Ahh syukurlah.. makasih ca, van. Maap gue gangguin" kata Aska sambil tersenyum sok manis.


"Gausah senyum, gue jijik liatnya. Sono lu pigi, ganggu gue aja" kata Ivan.


"Iya iya, gue pigi nih. Gudbay, jangan rindu" kata Aska sambil berjalan ke arah pintu.


"Askaaaaa" panggil Ica.


"Apa?" tanya Aska berbalik.


"Gue kasih tau, Zia butuh waktu. Jadi, biarin dia sendiri sekarang. Ntar malam, atau besok aja lo kesana" suruh Ica.


"Oke tar malam. Jangan bilang ke Zia!" balas Aska. Ica mengangguk. Aska pun berlari menuju mobilnya. Lalu buru buru mengendarai mobilnya menuju rumah besar keluarga Hitler.


∞_∞


"Gue udah tau" kata Zean.


"Kenapa abang gak bilang?" tanya Aska.


"Gue mau tau, seberapa tulus dan setianya cinta lo sama adek gue. Temui dia ntar malam." suruh Zean.


"Iye bang iye,"


"Punya abang ipar galak bener subhanallah" gumam Aska.


"Ka, gue denger" kata Zean, padahal Zean gak denger.


"Iya bang maap bang maap. Gue pergi dulu. Oke, titip salam sama papa mama. Assalamualaikum" kata Aska lalu pergi.


"Beruntungnya Aska yang sabar ngadepin adek gue yang persis kayak setan," ujar Zean saat melihat Aska pergi.


β˜…Β·β€”Β·β˜…Β·β€”Β·β˜…Β·β€”Β·β˜…Β·β€”Β·β˜…Β·β€”Β·β˜…Β·β€”Β·β˜…


🎢 Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia

__ADS_1


Kau milikku, milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


🎢 Bila di depan nanti


Banyak cobaan untuk kisah cinta kita


Jangan cepat menyerah


Kau punya aku, kupunya kamu, selamanya


Akan begitu


🎢 Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Kau milikku, milikmu kita satukan tuju


Bersama arungi derasnya waktu


🎢 Kau milikku, ku milikmu


Kau jiwa yang selalu aku puja..


Zia terkejut melihat Aska yang tiba tiba berada dikamarnya yang di vila. Saat dia masuk, Aska langsung menyanyikan lagu tadi. Zia terpukau, sebenarnya dia merasa bersalah karena punya sifatnya yang kekanak-kanakan. Saat Aska selesai bernyanyi Zia langsung memeluk Aska. Aska membalas pelukannya.


"Maafin gue tadi ya." kata Aska sambil tersenyum.


"Lo gak salah kok hiks.. gue yang salah kabur kaburan gini. Pasti lo kena marah sama bang Zean. Hiks.." balas Zia.


"Eh kenapa nangis? Jangan nangis dong!" pinta Aska, dia melepas pelukannya. Lalu menghapus air matanya Zia.


"Maaaf" ujar Zia berkali kali.


"Lo imut banget sih kayak gini." kata Aska sambil tersenyum.


"Ih apaan coba, gue tu lagi minta maap karena merasa bersalah." ujar Zia.


"Merasa bersalah ya, gimana kalau tebusannya kayak gini aja" pinta Aska sambil memanyunkan bibirnya.


"Hah?" tanya Zia terheran. Ketiks Aska maju, Zia mundur, sampai akhirnya dia mentok di dinding. Aska menahan Zia dengan tangannya yang ditempel ke dinding. Aska melirik bibir Zia, Zia memandang Aska. Aska mendekati wajah Zia, Zia pun mulai menutup mata. Saat hampirrrrrrr saja... lagi lagi terganggu. Sama seperti waktu mereka diparis.


"Eh monyet, makan dulu gih. Ntar lanjutin" kata Ivan. Ivan dan rombongan menyusul Zia ke puncak. Ingin reunian dengan suasana puncak.


"Van, Lo bisa gak kalau nggak ganggu gue?" tanya Aska kesal.


"Tadi siang lo ganggu gue setan" balas Ivan lalu pergi.


"Temen laknat" cibir Aska. Zia mendorong dada bidang Aska, lalu mengecup singkat bibir Aska.


"Kita lanjutkan setelah sah ya sayang. Calon istrimu lapar" pinta Zia. Aska mengiyakan permintaan Zia, lalu dia menggandeng tangan Zia.


"Ayok makan" ajak Aska. Zia mengangguk. Mereka pun pergi ke meja makan.


^Flashback off..


"Jangan ingetin itu kak feb, Awww malu banget" ujar Zia sambil menutupi mukanya dengan bantal.


_____________________________


Holaaaaa Zia Aska come back πŸ˜‚πŸ€ŸπŸΌ


Jangan lupa like dan vote yang banyak yaa πŸ˜‚


See you next chapter 🀩

__ADS_1


______________________________


__ADS_2