
Dua bulan setelahnya..
Zia sudah kembali seperti dulu, tapi ingatannya masih belum pulih. Ingatan tentang teman temannya sudah bermunculan sedikit demi sedikit. Zia juga sedikit berbeda, pakaiannya sudah berubah sedikit feminim. Hanya pakaiannya, tetapi tingkahnya? Lebih barbar dari sebelumnya. Dia sekarang sudah lumayan dekat dengan Febby dan terkadang bermain dengan Zafran. Seperti sekarang dia baru saja membawa Zafran keluar dari kamarnya, dia ke lantai dasar sambil menggendong Zafran, melihat ke Zafran yang imut, dan lucu tanpa melihat kedepan.
"Zia?" panggil Mahen.
"Oh, om camer" balas Zia. Dia mendekat kearah mereka yang sibuk berbincang, disana juga ada Bian, dan Mamanya.
"Sini, Zafran nya sama kakak aja" tawar Febby. Zia pun memberikan Zafran pada Febby.
"Da daa baby Zap Zap." ujar Zia tersenyum manis sambil melambaikan tangan. 'kagak berkurang manisnya, heran gue beneran dah' batin Bian. Setelah selesai dia kembali melihat ke keluarga yang ada didepannya.
"Ada apa om?" tanya Zia.
"Om sama yang lain cuma mau bicarain tentang pernikahan kamu dengan Bian" jawab Mahen.
"Nikah?" tanya Zia.
"Iya sayang, kamu bakal nikah sama Bian" sahut Zeva. 'hah? astaga gue masih muda' batin Zia.
"Tap—"
"Semua teman kamu juga udah nikah kan, Qiara udah, Alya udah, Tania, Ica lagi proses. Kamu ?" potong Zeva
"Sejak kamu koma 2 tahun, Bian selalu tunggu kamu Zia" lanjut Zeco.
"Iya iya yaudah terserah mama papa" balas Zia.
"Jadi kapan?" tanya Zia.
"Seminggu lagi" jawab Lita.
"Hah? Apa? Yang bener aja tante?" tanya Zia.
"Iya, seminggu lagi." jawab Zeco. '****** dah gue. hati gue masih ngeganjal lagi, kayak lagi jaga hati gitu, eh apaan sih? otak, sama hati gue udah kagak bener nih pasti, jangan bilang gue sedeng. eh tau ah bodoamat' batin Zia.
"Zia" panggil Mahen melambaikan tangannya tepat dimuka Zia.
"Hah? Eh iya om?" tanya Zia.
"Kamu mikirin apa?" tanya Mahen.
"Bukan apa apa om" jawab Zia.
"Serius kamu? Kalau kenapa kenapa gimana?" tanya Zeco.
"Papa gak usah lebay gitu juga, Zia gak apa apa kok"
"Zia, nak. Jangan pernah tutupin apapun dari kami. Kalau kamu sakit bilang, kalau kamu dihajar bilang, kalau kam—"
"Iya pa, Zia bakal bilang kok. Ya udah Zia mau ke dapur bantuin kak Febby sekalian jagain baby Zap" potong Zia lalu pergi.
"Papa belum selesai bicara, ZIA" panggil Zeco.
"Zia udah paham, udah ngerti arah pembicaraan papa, semua terserah papa mama. Zia manut" balas Zia sedikit berteriak, sambil berjalan ke arah dapur.
"Maafin Zia ya hen," ujar Zeco.
"Iya gak masalah" jawab Mahen.
"Bian samperin Zia dulu ya" pamit Bian, orang tuanya mengangguk, Bian pun pergi menuju Zia.
★★★
Dilain tempat, lain negara.
"Heh! Bangun. Aska! Bangun nak" suruh Alice.
"Hah? Eh? Apa ma?" tanya Aska sambil mengucek matanya.
__ADS_1
"Apa apa, kamu gak ngantor? Udah jadi CEO juga, masih susah aja dibangunin. Har—"
"Aska capek mami, ngantuk" potong Aska.
"Aska mo balik Indonesia deh ya" pinta Aska.
"Ngapain kamu ke Indonesia?" tanya Alice.
"Ketemu Zia lah, Zia kan udah bangun dari tidurnya" jawab Aska.
"Udah bangun cepat! Mandi, sarapan dibawah. Mama sama papa tunggu kamu!" suruh Alice. Aska berdehem lalu pergi ke kamar mandi. Alice pun juga pergi dari kamarnya Aska. Setelah selesai Aska turun kebawah untuk sarapan.
"Asekk, mama buat nasi goreng favoritnya Aska" seru Aska.
"Kamu kenapa nak? Kok kayak bahagia gitu?" tanya Hans.
"Dua bulan terakhirkan Aska sibukkkk banget tuh sama perusahaan. Jadi, Aska mau balik ke Indonesia" jawab Aska.
"Balik ke Indonesia?" tanya Hans.
"Iya pa kenapa?"
"Aska mau ketemu Zia," jawab Aska.
"Papa senang kamu bahagia kayak gini, tapi papa gak mau PHP-in kamu ka. Papa gak mau kamu berharap, karena berharap bikin sakit hati" ujar Zeco.
"Maksud papa?" tanya Aska bingung.
"Zia memang udah bangun dari tidurnya, tapi dia mengalami amnesia sementara. Om Zeco yang bilang sama papa, Zia lupa sama Febby, sama teman temannya yang lain" jawab Hans.
"Papa ada bilang sama kamu gak sih?" tanya Hans.
"Bilang apa pa?" tanya Aska balik sambil menyuapkan makanannya.
"Kalau suka langsung di embat, jangan nunggu apapun. Pernah gak papa bilang gitu?" tanya Hans.
"Kalau ada, papa cuma mau kasih tau. Kamu udah terlambat nak, seminggu lagi Zia bakal nikah sama Bian" lanjut Hans.
"Hah? Em- emang perjodohan itu masih berlanjut pa, bukannya dibatalin??" tanya Aska.
"Papa gak tau pastinya, tapi om Zeco itu segan sama papanya Bian. Beliau udah banyak banget bantuin om Zeco. Dan juga ini sudah perjanjian, pantang bagi om Zeco melanggar suatu janji" jawab Hans. Aska melesu, harapannya punah seketika. Alice mendekat ke arah Aska, menenangkan anaknya.
"Percaya sama mama, jodoh pasti bertemu. Jodoh gak kemana mana. Kamu tau sendiri, semua teman teman kamu istrinya teman kamu juga kan? Maksud mama, mereka satu sekolah sama kamu, sering main bareng juga sama kamu, iyakan?" tanya Alice. Hans pun mendekat juga ke anaknya.
"Sekarang, kamu cari aja biaya untuk pernikahan kamu, walaupun kita belum tau siapa jodoh kamu nantinya. Tapi yang pasti, kalau ada uang, jangankan perempuan. Kucing aja pasti ngedeket ke kamu" sahutnya.
"Kagak usah ngawur juga perumpamaannya pa" cela Alice.
"Ya maksud papa kan intinya gitu" balas Hans.
"Iya pa, iya ma" balas Aska.
"Jangan sedih, nanti papa cariin jod—"
"Gak jadi deh, biar kamu cari aja sendiri. Papa gak mau mengekang kamu tentang jodoh" lanjut Hans.
"Iwaw" balas Aska.
"Tapi, setiap cewek yang mau kamu jadiin istri, harus mama seleksi dulu. Kayak kamu nyeleksi para karyawan kamu" sahut Alice.
"Terserah mama papa"
"Jadi, sekarang kamu mau ke kantor atau santai dirumah atau juga mau ke Indonesia?" tanya Hans.
"Aska dirumah aja, gak jadi kemana mana" jawab Aska.
"Oke deh kalau gitu" balas Hans.
"Aska udah selesai makan, Aska ke kamar dulu ya ma pa" pamit Aska.
__ADS_1
"Iya, jangan galau ya" suruh mamanya.
"Aska gak se alay itu ma" jawab Aska, lalu pergi.
Sesampainya dia di kamar.
"Zia amnesia? Kenapa Ivan gak bilang?"
"Zia mau nikah? Kenapa Ivan gak kasih tau?" tanya Aska. Dia pun menyambar ponselnya menelepon Ivan.
—Ivanstress—
📞 Ivan; Halo assalamualaikum, ada apa bang?
Aska; Lo kok tega gini sih van sama gue?
📞 Ivan; Tega gimanaa?
Aska; Zia amnesia, kenapa gak Lo kasih tau?
📞 Ivan; heh jin tomang, gue udah mau kasih tau Lo waktu Zia bangun dari tidurnya. Tapi Lo langsung samber dan matiin tu telepon gimana gue mau kasih tau coba?
Aska; masa iya?
📞 Ivan; Pikun lu sumpah.
Aska; oke skip.. Zia mau nikah sama Bian kenapa gak Lo bilang?
📞 Ivan; HAH? APA? gue gak tau tentang ini ka sumpah. KAPAN?
Aska; bokap gue bilang seminggu lagi.
📞 Ivan; serius lu, jangan nyebar hoaks!
Aska; ****** dah lu njinc.
📞 Ivan; ih kazarrr.
📞 Ivan; eh, bukannya pernikahan dia di batalin ya ka?
Aska; bokap gue gak tau detailnya. Tapi bokap gue bilang, om Zeco segan sama bokapnya Bian. Bokapnya Bian banyak bantu om Zeco.
Aska; coba lu tanya gih, padahal tadinya gue mau balik Indonesia. Tapi kagak jadi.
📞 Ivan; ngapa kagak jadi? Yaudah gak apa apa, datang aja ke nikahan gue ntar.
Aska; Kapan?
📞 Ivan; ntar gue kasih tau.
📞 Ivan; gue matiin dulu, mau pergi sama calon bini.
Aska; bacot lu ah.
📞 Ivan; Jones sih, jadi kas—
Aska memutuskan teleponnya dengan cepat. Dia malas mendengar kata kata Ivan yang mengatainya jones, padahal dia gak jones. Tapi dia single.
"Mau ngapain gue jam segini? Ngantor aja lah, bosen gue" ujar Aska bermonolog. Dia pun bersiap siap menuju kantornya.
_____________________________
Holla readers..
Author bikin novel baru lagi nih, jangan lupa baca yaa 🤗😁
See you next chapter 🤩
_____________________________
__ADS_1