Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Pesta


__ADS_3

2 hari setelahnya. Hari ini adalah hari pernikahan Zean dan Febby. Semua tampak bahagia. Zean mengundang temannya dan juga teman Febby. Zean juga menyuruh teman teman Zia untuk hadir disana. Keluarga besar Hitler pun sudah datang. Mereka semua tampak senang. Zia memakai gaun berwarna gold, warna yang sama dengan keluarganya. Zia juga memakai make up tetapi tidak terlalu tebal. Sebenarnya dia menolaknya karena bagaimana juga dia sangat cantik walau tidak memakai make up, tetapi dia selalu dipaksa dan Zia pun pasrah. Akad nikah mereka disebuah masjid yang tidak terlalu besar. Kemudian resepsi dilakukan di hotel yang mewah. Tamu berdatangan sangat banyak. Karena papa Zean dan Febby banyak mengundang rekan bisnisnya. Zia sedari tadi sudah berpencar dengan keluarganya dia bersama dengan temannya.


"Lo cantik banget Zi, sumpah gak bohong." sahut Qiara.


"Cantik banget, apalagi lo pake make up" sahut Alya.


"Thank you, kalian juga sangat cantik" balas Zia. Aska, Ivan, Dimas pun datang. Mereka terlihat sangat tampan. Semua pandangan para gadis melihat kearah mereka. Mereka mendatangi Zia dan yang lain. Betapa terpesonanya Zia menggunakan gaun itu, sampai tatapan Aska tidak lepas dari kecantikannya. Begitu juga dengan Zia yang selalu melihat Aska. Jantungnya berasa sedang berlari² tidak karuan. Dia sangat degdegan. Sudah beberapa hari dia selalu degdegan saat bertemu dengan Aska. Tetapi dia mencoba untuk tetap biasa aja.


"Du bist heute sehr schön, Prinzessin" sapa Aska dalam bahasa Jerman. Banyak dari mereka terkejut saat Aska berbicara dengan bahasa Jerman. Hanya Aska dan Zia lah yang mengetahui artinya. Ucapan Aska benar benar membuat jantung Zia ingin kabur dari tempatnya. (*Kamu sangat cantik hari ini, tuan putri)


"Danke.. du siehst heute abend sehr gutaussehend aus." balas Zia. Aska pun tersenyum lebar yang sangat jarang diperlihatkan. Aska juga merasa degdegan melihat Zia. Semua temannya hanya menjadi penonton diantara mereka. (*Terima kasih .. kamu terlihat sangat tampan malam ini).


"Danke" balas Aska.


"Woi Woi.. lo kapan belajar bahasa Jerman ******?" tanya Dimas.


"Pelankan suaramu bodoh! Kita akan jadi pusat perhatian kalau begini!" suruh Tania


"Iya maaf sayang" balas Dimas.


"Mau gue tabok?" tanya Tania. Mereka hanya tertawa²


"Kalian dari tadi ngomong pake bahasa Jerman, ngomong apaan?" tanya Sam


"Kepo" ujar Aska dan Zia


"Wah kompak." sahut Ivan dan Ica berbarengan. Mereka tertawa, tak lama kemudian muncullah sang pengantin, Zean dan Febby. Mereka sedang menuju pelaminan.


"Kak Febby sangat cantik" sahut Tania.


"Lo bener, bang Zean juga ganteng" sahut Jimmy.


"Eh woi itu dialog gua, kok lu ambill?" tanya Dimas dengan suara sedikit berteriak. Semua tertawa mendengarnya. Aska melihat Zia yang tertawa, Zia pun juga melihat ke Aska. Mereka saling tatap dan tersenyum kemudian sama sama mengalihkan pandangan mereka.


'jantung tenanglah! Aku masih ingin hidup saat ini' batin Zia.


'jangan terlalu keras, jangan keluar dari sarangmu, tenanglah wahai jantung tercintaaa' batin Aska.


Dari kejauhan Zia melihat Alice mama Aska, Alice pun menghampiri Zia.


"Hai Tante" sapa Zia sambil menyalami tangannya


"Hai tan" sapa Ivan dan Dimas


"Hai tan" sahut Aska sambil tersenyum.


"Eh?!" tanya Alice menatap Aska sinis Aska hanya cengengesan

__ADS_1


"Kamu sangat cantik malam ini Zia" puji Alice.


"Ahh terimakasih tante, tante juga terlihat sangat muda" sahut Zia.


"Hoax" balas Aska.


"Eh anak laknat" sahut Ivan.


"Mama ngapain disini?" tanya Aska dengan muka datar


"Hei, bukan hanya kamu yang diundang. Papa dan mama juga diundang oleh om Zeco" sahut Alice.


"Tantee... Mama Aska?" tanya Ica hati hati.


"Iya tante mamanya teman kamu yang durhaka ini. Tante kesana dulu ya" pamit Alice kemudian pergi.


"Hati hati Tante" sahut Zia sambil tersenyum.


"Wahhh.. sepertinya akan ada perjodohan nih antara Aska dan Zia" sahut Samuel.


"Gue bunuh disini mau Lo? Hah?" tanya Zia. Semua pun tertawa.


"Akan ada perjodohan? Sepertinya benar" sahut Dimas.


"Lambemu arep tak geplak opo pie?" tanya Zia dengan bahasa Jawa yang asal²an. Mereka tertawa kembali. Pertemanan mereka selalu ada bahan candaan, bukan hanya sekali atau dua kali. Mereka saat bertemu pun tidak pernah diam dan hanya bermain hp, tetapi mereka bercanda tawa bersama.


"Pernah datang ke kafe gue sama suaminya. Bersamaan dengan adanya bokap nyokap gue disitu" balas Zia.


"Jangan jangan bener² ada perjodohan?" tanya Alya menggoda Zia.


"Aah gaada yang dukung gue, gue cabut aja dah kalau gitu" sahut Zia pergi. Dia sebenarnya dipanggil sama papanya. Teman temannya juga melihat.


"Beneran dijodohin?" tanya Jimmy pada Aska.


"Nggak, mereka tu asbun ASAL BUNYI" jawab Aska.


Zia menghampiri orang tuanya yang tadi memanggilnya. Orang tuanya sedang bersama sepasang kekasih dan ada seorang pria tinggi yang terlihat sangat dingin dihadapan Zia.


"Ada apa pa?" tanya Zia pada papanya.


"Kenalin, ini rekan bisnis papa. Yang pernah membantu papa di perusahaan kita." menunjuk pria yang lumayan tua.


"Hai, saya Mahendradatta dan ini istri saya Lita" kata Mahen Zia pun menyalami tangan mereka.


"Ini anakmu yang punya kafe tingkat tiga di jalan cfr bukan?" tanya Mahen, Zeco hanya mengangguk.


"Saya Zia Amanda, pemilik kafe yang anda katakan tadi tuan" balas Zia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik" puji Lita


"Ahh.. terimakasih nyonya, anda juga sangat cantik" balas Zia.


"Jangan panggil saya nyonya, panggil saja saya Tante" balas Lita.


"Dan jangan memanggilku tuan, panggil aku om" suruh Mahen.


"Baiklah om, tante" jawab Zia.


"Oh iya, om lupa. Ini anak om" menunjuk pria yang tampan. 'astaga, bisa mati kalau salah bicara, dia begitu dingin' batin Zia.


"Bian Varo Mahendra" ujar lelaki itu menoleh dan menjulurkan tangannya. Bian yang tadinya dingin, entah kenapa saat bertemu Zia sikap dinginnya menghilang.


___


**Dari kejauhan temannya melihat Zia dengan Bian.


"Kak Bian?" tanya Tania saat melihat mukanya.


"Lo kenal Tan?" tanya Ica.


"Itu anaknya tuan Mahendradatta. Pengusaha muda yang memiliki banyak perusahaan diluar negri dan dalam negri." jelas Tania.


"Jangan jangan mereka dijodohin." tanya Samuel.


"Lo kok ngomong dijodohin mulu sih?" tanya Qiara.


"Ya maap sayang"


"Eh tapi" jeda Samuel


"Jangan jangan kita juga dijodohin yang." lanjut Samuel. Semua orang menatap jengah Samuel


"Ivan, abanglo punya penyakit jiwa ya?" tanya Qiara pada Ivan.


"Ada dikit kayaknya calon ipar" jawab Ivan santai. Mereka pun tertawa lagi.


"Kasian Zia kalau dijodohin gays. Tapi itu bian kok beda ya?" tanya Tania.


"Bedanya?" tanya Alya.


"Bian itu cuek, dingin, anti cewek sama kaya Aska dan Ivan." ujar Tania.


"Sama aja pun gue liat" sahut Ica.


"Eh pulang yok. Gue capek, kita menuhin tempat doang kalau disini" ajak Alya. Mereka menurut lalu menuju ke pelaminan berpamitan pada Zean dan Febby kemudian pulang kerumah masing masing.**

__ADS_1


__ADS_2