Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Di jodohin????


__ADS_3

Minggu pagi menjelang siang, Zia sedang berada di perusahaan papanya yang belakangan ini dikelolanya, Zean juga sedang bekerja di perusahaan papanya yang sudah pindah nama menjadi miliknya, Zai sedang nongkrong bersama temannya, Febby sedang mengurus para pasiennya. Dan Luis, sedang tidur dikamarnya. Mama, papanya sedang berbincang di ruang kerja.


"Ma, tuan mahen mau Zia dijodohin sama Bian" ujar Zeco.


"Apa pa? Jangan ngaco deh" balas Zeva


"Papa gak ngaco, di mau Zia jadi mantunya. Nanti malam dia niat buat kerumah. Buat bilang semuanya sekaligus makan malam"


"Papa iyain?" Tanya Zeva. Zeco mengangguk


"Gak ada salahnya juga kan? Bian baik, karirnya juga bagus. Yang pasti Zia gak bakal menderitalah" jawab Zeco.


"Yaudah, terserah papa aja" balas Zeva


"Oke kalau gitu, mama suruh pembantu buat masak makanan." suruh Zeco.


"Iya nanti mama bilangin" jawab Zeva. Mereka pun kembali ke kesibukan masing-masing.


____


Malam harinya, sesuai perkataan Zeco. Keluarga Mahendradatta datang ke kediaman Keluarga Hitler. Saat ini Zia sedang bersantai dikamarnya, dia tidak tau jika keluarga Mahen akan berkunjung kerumahnya. Karena dia lapar, dan dilihatnya sudah menunjukkan jam makan malam, dia keluar dari kamarnya, mengenakan baju tidurnya. Dia menuruni tangga sambil bersenandung. Saat dibawah, dia berteriak.


"Mamaa, Zia Laaβ€”" ucapannya terhenti saat semua orang menatapnya dan ternyata ada keluarga Mahen disana.


"Astagaa," sahut Zai


"Lo udah berapa kali kek begini? Waktu ada keluarga Febby lu gini, lah ini ada keluarganya Bian, lo teriak teriak jugaa" bisik Zean.


"Ya maap. Kagak ada yang ngomong sama gue kalau ada tamu" balas Zia. Sambil tersenyum kikuk


"Hehehe, maaf ya om tante, ma pa" ujar Zia dia menyalimi tangan Mahen dan istrinya kemudian dia berniat lari menuju kamarnya.


"Eh Zia mau kemana?" tanya Zeco.


"Mau ke kamar pa" jawab Zia.


"Tadi kamu bilang la- apa? Laper?" tanya Zeco.


"Eh? Nggak tau pa lupa." jawab Zia.


"Kenapa gak ada yang bilang sih ada tamu?" tanya Zia sambil menatap sinis semua anggota keluarganya.


"Mama tadi mau kasih tau kamu, kamu masih capek baru pulang. Mama ke kamar kamu, kamu lagi mandi, mama ke kamar kamu lagi, kamu tidur. Jadi kapan mama mau kasih tau?" tanya Mamanya.


"Yaudah gak masalah," kata Mahen


"Mari makan" ajak Zeco, Zia diam diam mau menuju kamarnya. Dia udah malu sama keluarganya Bian. Tetapi langkahnya terhenti.


"Mau kemana dek?" tanya Zean,


"Abang kampret" ujar Zia sambil tersenyum.


"Ayok makan" ajak Zeco.


"Udah gak apa apa, kamu cantik kok pake baju itu. Ya kan Bian?" tanya Lita.

__ADS_1


"Eh? Iya kok" jawab Bian.


"Bang, gue mau pura pura pingsan lu mau ngangkat gue kan?" tanya Zia berbisik.


"Ogah,"


"Ya Allah, Zia didzolimi mulu" ujar Zia membuat semua orang tertawa dengan tingkahnya. Dia pun ikut menuju meja makan dan duduk disamping Bian.


"Kalian berdua cocok ya" ujar Mahen, Zia pun tersedak mendengarnya.


"Pelan pelan Zia" ujar Zeco.


"Kamu tau om, tante, sama Bian kesini mau ngapain?" tanya Mahen, Zia menggelengkan kepalanya. Lalu memakan kembali makanannya.


"Om mau jodohin kamu sama Bian" ujar Mahen santai, lagi lagi Zia tersedak, dan membuat matanya memerah.


"Are you oke?" tanya Bian, Zia hanya mengangguk.


"Dijodohin?" tanya Zia.


"Iya kamu mau dijodohin" jawab Lita.


"Om sama tante salah orang. Mending jangan sama Zia. Om tante tadi ngeliatkan Zia mau makan aja masih teriak dulu. Kalau Zia nikah sama Bian, Bian gak bakal keurus suer" ujar Zia ngeles.


"Gak cepet cepet amat kok Zia, nikahnya setelah kamu wisuda. Untuk sekarang kamu tunangan dulu" jawab Mahen.


"Abis tunangan sama Bian Zia pasti mati dahh" keluh Zia. Zean yang disampingnya menyentil jidat Zia.


"Kalau ngomong itu difikirin dulu, asal jeplak aja" sahut Zean. Zia kesal tetapi dia hanya diam sambil mengusap kepalanya.


"Di teror? Siapa yang teror kamu Zia?" tanya Zeco dengan ekspresi sedikit emosi Zia hanya diam.


"Zia jawab papa, kenapa kamu gak bilang??" tanya Zeco lagi.


"Lagian Zia juga gak tau orangnya pa, belum tentu juga itu gara gara Varo" ujar Zia pelan.


"Luis kasih tau om!" suruh Zeco.


"Jadi seminggu terakhir ini.. nanti aja deh om setelah makan. Luis bakal cerita" usul Luis, mereka pun kembali makan.


/


Setelah makan, mereka berkumpul di ruang tamu. Zia merasa takut, karena melihat ekspresi papanya yang sedikit emosi. Karena tidak biasanya Zeco begitu.


"Luis jelaskan!" suruh Zeco.


"Jadi, seminggu terakhir ini, dimeja Zia selalu ada kotak. Kotaknya itu isinya tikus yang mati penuh darah dan kepalanya udah kepisah. Disitu juga ada tulisan 'JANGAN SOMBONG JADI MABA'." jelas Luis.


"Terus kenapa kalian gak pernah bilang sama papa?" tanya Zeco.


"Luis udah mau pernah bilang ke om, tapi ditahan sama Zia." Jawab Luis. Zia yang berdiri disamping sofa papanya yang diduduki hanya diam dan menunduk.


"Kenapa kamu gak mau bilang ke papa Zia?" tanya Zeco.


"Lagian pa, itukan cuma kayak gituan aja. Gak parah juga, Jadi Zia gak bilang ke papa"

__ADS_1


"Ini semua gara gara Bian?" tanya Mahen.


"Eh? Nggak om, bukan kayaknya" jawab Zia.


"Bian kamu tau ini kan? Beberapa dosen sudah memberitahukan ke papa kalau kamu dekat dengan Zia" ujar Mahen.


"Iya Bian tau pa," jawab Bian sambil menunduk.


"Udah dong om, pa marahnya. Pleaseeeeee" pinta Zia merengek sambil mengeluarkan puppy eyesnya.


"Cuma kayak ginian kok, gak lebih dari ini. Zia mohonnn udah yaa. Jangan pada marah, Zia takutt kalau kalian pada kayak gitu mukanya" pinta Zia lagi.


"Lain kali apapun itu bilang ke papa! Atau gak Zean, atau sekarang kamu bisa bilang ke calon suami kamu Bian" ujar Zeco.


"Eh? Zia tetep dijodohin?" tanya Zia.


"Kamu gak mau?" tanya Lita.


"Hah? Eh. Bukan gitu tante." jawab Zia.


"Zia masih kecil" ujar Zia sambil mengangkat jarinya membentuk huruf 'V'. Semua yang melihatnya jadi tertawa, suasana yang tadinya menegangkan bisa dicairkan oleh Zia.


"Tapi, terserah mama papa deh. Pilihan mama papa pasti terbaik buat Zia" lanjut Zia.


"Pertunangan kamu sekitar 2 bulan lagi" ujar Zeva.


"Hah? Ya Allah ma, cepet bangett." keluh Zia.


"Jadi atlit ntar si Varo kalau udah nikah sama Zia" ujar Zia ngasal.


"Atlit?" tanya mereka.


"Antara tulang dan kulit" jawab Zia polos lalu berlari menuju kamarnya. Semua orang tertawa mendengar perkataan Zia yang ngawur.


"Aneh aneh aja anak kamu Ze" kata Mahen.


"Zia mau kemanaa?" tanya Zeva


"Ngambil hp sebentarrrr" teriak Zia.


"Zean gak yakin Bian sanggup ngadepin Zia." ujar Zean


"Iya, Zai juga. Zia kan cerewet, udah gitu jones dari lahir sampe sekarang" sahut Zai.


"Zia belum pernah pacaran?" tanya Mahen.


"Belom pernah sekalipun om, Zia itu jones akut" jawab Zai.


"Gue penjara Lo ntar Zai sumpahlah. Kesalahan Lo banyak sama gue, gibahin gue, ngomong yang nggak nggak, suudzon lagi. Kan udah gue bilang gue single bukan jomblo. Gue lempar juga Lo ke kolam buaya." cibir Zia.


"Nahkan, kita berdua baru ngomong beberapa kata kan bang? Dianya udah nyerocos panjang lebar" kata Zai,


"Tau ah, adek laknat emang gini" ujar Zia. Semua yang mendengar pertikaian mereka hanya tertawa, Zia pun pergi meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju ruang keluarga, sambil memainkan hpnya. Bian menghampirinya.


"Nomor" ujar Bian sambil menyodorkan hpnya. Zia menatapnya sekilas, terjadilah kontak mata antara mereka, dengan cepat Zia mengalihkan pandangannya. Mengambil hp milik Bian dan mengetik nomornya disitu. Setelah itu keluarga mereka berbincang bincang sampai larut malam, dan Bian sekeluarga pulang menuju rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2