Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Keiko Azumi


__ADS_3

Kali ini, Rafael benar benar tiba di restoran Jepang. Dia berlari masuk kedalam. Karena tidak melihat jalannya, dia menabrak seorang wanita.


Rafael menarik tangan wanita itu kemudian memeluknya agar tidak terjatuh. Lima detik kemudian, Rafael melepasnya.


"Sorry" ujar wanita itu.


"Aaa.. saya yang seharusnya bilang begitu" Rafael mendongak.


"Keiko Azumi?!"


"Ra- Rafael Anji Pangestu??"


"Wahh" wanita bernama Keiko ini memeluk Rafael. Rafael membalasnya.


"Udah jago bahasa Indonesia ya?" tanya Rafael setelah melepas pelukan.


"Berkat kamu" jawab Keiko.


"Kamu disini ngapain?" tanya Keiko.


"Bos aku ada pertemuan, kamu sendiri?"


"Aku juga" jawab Keiko.


"Tapi.. kenapa muka kamu babak belur gini?" tanya Keiko lagi.


"Ahh.. itu tadi ada.." Keiko menarik tangan Rafael. Mereka masuk bersamaan kedalam ruang pertemuan VIP Aska dan James.


"I'm sorry it's late, and I'm sorry I brought a foreign man" Keiko menundukkan badannya.


"He is not a foreign man, but my personal assistant" sahut Aska.


"Upp, sorry" Keiko menundukkan kepalanya.


"It is okay" jawab Aska.


"Bos, ini tu--"


"Gue udah kenal, dia temen kuliah gue" potong Aska. Rafael ber 'oh' ria.


"Bagaimana bisa kamu membawanya kemari?" tanya James pada Keiko.


"Ah, dia.. teman saya dua tahun yang lalu" jawab Keiko.


"Emm.. kalau begitu, kamu bisa mengobatinya kan Keiko? Kamu selalu membawa alat medis di tas mu" ujar James.


"Akan saya obati, tuan" Keiko menunduk lalu membawa Rafael keluar ruangan untuk diobati.


"This is your secretary?" tanya Aska. James mengangguk.


"Warga negara Jepang?"


"Iya, waktu itu dia bantu gue waktu lagi di restoran. Dia jadi pelayan dan bantu gue urusin urusan kantor. Dia tau hal gituan, dan yaa gue ajakin jadi sekretaris" jawab James.


"Wow"


"Dia warga negara yang baik, gak pernah sekalipun godain bosnya dan selalu bekerja keras" lanjut James.


-----


"Itu tadi siapa lo rap?" tanya Zia ketika didalam mobil.


"Ahh itu, temen lama gue dua tahun yang lalu" jawab Rafael..


"Kok bisa?" tanya Aska gantian.


"Dua tahun yang lalu, Keiko ke Bali. Dia nyasar waktu mau balik ke hotel. Dia mau nanya tapi bingung mau tanya sama siapa. Jadi gue sama Kinan samperin dia. Dia bilang kalau kelupaan jalan ke hotel"


"Gue tanyain apa nama hotelnya. Ketika dia jawab, gue sama Kinan anterin dia kembali ke hotelnya"


"Keesokan harinya, dia kerumah gue. Gue juga gak tau dia dapet alamat rumah darimana"


"Dia datang kerumah, minta diajakin keliling Bali, gue turutin"


"Tah empat tah lima hari tuh, gue sama dia keluar terus keliling bali. Seneng seneng."


"Gue juga ajari dia sedikit bahasa Indonesia, dan ya sekarang udah lumayan lancar bahasa Indonesianya tadi bicara sama gue"


"Tunggu.. mantan pacar lo kan itu?" tanya Aska.


"Belom"


"Waktu gue mau ajak pacaran malam itu, dia telepon gue dan bilang harus balik ke Jepang. Semenjak itu, kita lost contact"


"Gue gak tau apa kabar dia. Dan ternyataa.. tuhan mempertemukan gue sama dia di sini. Melalui lo" jelas Rafael.


"Memang jodoh gak kemana mana rap, gue sama Zia ju---" Aska memberhentikan ucapannya ketika melihat ke arah Zia. Zia tidur.


Rafael melihat kebelakang. "Istri lo demen banget tidur"


"Gue juga heran, tidurr mulu dia"


"Ahh.. mana kalau tidur gemes banget lagi" lanjut Aska.


"Dahlah" balas Rafael. Aska dan supir cengengesan. Supir pribadi Aska juga pria berkeluarga.

__ADS_1


"Jadi, kita pulang kerumah atau ke kantor bos?" tanya Supir.


"Kantor" jawab Aska.


"Baik bos" supir itu melajukan mobilnya kembali ke kantor.


--


"Tidur yang nyenyak ya sayang" Aska mengecup kening Zia lalu keluar dari private room.


Aska kemejanya, menekan tombol otomatis. "Rap keruangan gue" suruh Aska. Dari kaca transparan, dia melihat Rafael keluar dari ruangan.


"Apa?" tanya Rafael ketika sudah didalam.


"Tadi siapa?" tanya Aska.


Tok tok tok..


"Masukk"


"Maaf mengganggu pak, ini berkas yang harus bapak tanda tangani"


"Oh iya pak.. tadi tuan Bian kesini" ujarnya. Wanita ini karyawan yang membantu Rafael, kalau Rafael tidak ada ditempat.


"Ngapain?" tanya Aska.


"Katanya mau ngundang makan malam pak"


"Apalagi rencana ni anak?!" gumam Aska. Dia menandatangani berkas itu lalu memberikannya kembali.


"Ya sudah, kembali kerja" wanita itu menunduk lalu pergi.


"Mau datang?" tanya Rafael.


"Mungkin. Lo ikut nanti" suruh Aska. Rafael mengangguk.


"Jadi yang tadi siapa??"


"Hayr"


"HAH? GILA LO?! Hayr dipenjara woi" jawab Aska.


"Tanya Abdi" suruh Rafael. Aska mengambil ponselnya.


โ€“Abdiโ€“


Aska; assalamualaikum di..


๐Ÿ“ž Abdi; Hayr kan?


Aska; damn it!! ( mematikan teleponnya )


"Aaaaaghh!!" Aska melempar berkas-berkas dimejanya.


"Gak usah gilaa, capek ni yang bersihin!" balas Rafael. Aska menatap Rafael kesal.


"Terus tadi gimana? Lo bunuh kan?"


"Nggak. Tapi tadi perutnya kena pisau gue. Kan tadi baku hantam pake pisau" jawab Rafael.


"Terus setelahnya?"


"Anak buah lo yang ngurus"


"Panggil leadernya" suruh Aska.


Rafael menelepon seseorang yang tak lain si leader bodyguard.


Rafael melihat Aska yang sedang memeras rambutnya. Aska sudah tidak se-rapi sebelumnya. Jasnya ada di lantai, dasinya miring, satu kancing atas kemejanya dibuka, rambutnya berantakan.


"Bos gue bukan sih?" tanya Rafael. Aska menuju private roomnya. Menghidupkan mode off suara luar ruangan serta mematikan sidik jari Zia, agar Zia tidak membuka pintunya.


"Ngapa di kunci tu anak?!" tanya Rafael.


"Bahaya nanti kalau dia tau, biar gue aja yang tanggung" jawab Aska.


"Salah lu ka!! Kalau dia gak tau nanti gimana dia ngehindar?!"


"Gue gak bakal izinin dia kemana mana kalau gak ada lo, atau gue"


Tok tok tok..


"Masuk" teriak Aska.


Pria bertubuh tegap dengan muka sangar masuk, dia leader bodyguard Asz.


Pria ini terkejut melihat ruangan bos-nya yang acak-acakan. Bukan hanya ruangannya, tetapi bos-nya juga.


"Duduk" suruh Aska datar.


"Ada apa bos?" tanya Leader bodyguard.


"Dandi.. leader Asz bodyguard"


"I.. iya bos?" tanyanya gugup.

__ADS_1


"Dimana Hayr?!" Aska menatap datar Dandi.


"Ada di ruang bawah tanah gedung Asz group bos" jawabnya. Baru baru ini, Aska menyiapkan sekitar lima puluh bodyguard khusus untuknya.


Mereka mempunyai ruangan khusus di Asz group, yaitu ruangan bawah tanah. Tim bodyguard itu berinisial, Asz BG.


"Apa yang kalian lakukan sebelumnya?" tanya Rafael.


"Dokter khusus Asz BG hanya menjahit luka goresan pisau dari pak Rafael"


"Kalian kurung?" Dandi mengangguk.


"Sambungkan panggilan video dengannya" Dandi menghubungi anak buah yang menjaga Hayr.


Aska hanya melihat tanpa bicara. "Matikan" suruhnya.


"Master of psycho, Jack. Suruh dia melakukan apa yang seharusnya dia lakukan pada Hayr" suruh Aska.


"Baik bos"


"Pergilah" Dandi beranjak pergi.


"Tunggu!" Rafael bicara. Dandi berhenti.


"Jangan kembali ke Asz BG, pergi kekantin dan tunggu instruksi berikutnya" Dandi mengangguk lalu keluar.


-


"Mau lo bunuh? Lo bisa masuk penjara goblokk, kasian anak bini lo ntar"


"Lebih parah lagi kalau dia celakain anak bini gue!"


"Dua cara!"


"Pertama, master of psycho Jack. Resikonya, lo bisa masuk penjara"


"Kedua, masukkan lagi ke penjara. Tanpa resiko"


"Tanpa resiko?? Kalau dia bebas lagi gimana Rafael?!!" tanya Aska menatap Rafael. Rafael diam.


"Oke terserah!! Urus semuanya! Jangan sampe di tahun tahun berikutnya gue beserta keluarga gue dalam bahaya. Paham?!" Aska pergi lalu masuk ke private roomnya. Dia mengotak-atiknya sehingga kembali seperti semula.


Rafael keluar dari ruangan Aska masuk keruangannya.


"Dandi, tunggu diluar ruangan saya sebentar" Rafael mematikan telepon lalu pergi keruangannya, dia ingin memikirkan cara terbaik untuk menangani Hayr.


โ€“Abdiโ€“


Rafael; Halo! Abdi, gue Rafael.


๐Ÿ“ž Abdi; kenapa?


Rafael; apa aja catatan kriminal Hayr?


๐Ÿ“ž Abdi; cuma dua. dia nipu banyak orang kaya dan juga salah satu bandar narkoba.


Rafael; terus? Kenapa bisa BEBAS?!


๐Ÿ“ž Abdi; mereka memanipulasi data. Banyak data yang bertolakbelakang. Jadi dia dinyatakan tidak bersalah dan bebas.


Rafael; kalau gue bunuh dia disini, gue dipenjara?


๐Ÿ“ž Abdi; iyalah oon!


Rafael; ( mematikan teleponnya )


"Ahhh, gimanaaa?!!" Rafael ikutan pusing.


Tombol merah berbunyi, tanda Aska memanggilnya. Dia memencet tombol ijo disebelahnya untuk mendengar suara Aska.


"Keruangan saya sekarang!"


"Mampuss dah mampuss, mulai formal bahasa ini anak" Rafael pergi keruangan Aska.


ยท


"Kenapa bos?" tanya Rafael.


"Ada cara ketiga" ujar Aska.


"Apa?" tanya Rafael.


"Buat dia gila" Rafael berfikir.


"Kalau dia gila, dia bakal masuk rsj. Kita minta pihak rsj buat gak ngobatin dia. Jadi, dia bisa mati di rsj?" sahut Rafael.


"Good" kata Aska.


"Caranya?" tanya Rafael. Aska ke meja kerja, mengambil ponsel lama miliknya. Lalu mentransfer sesuatu.


Setelah itu, Aska mendekat ke Rafael dan membisikkannya sesuatu.


"Debes lo emang," Aska memberikan ponselnya.


"Gue pergi dulu" pamit Rafael. Aska mengangguk sambil senyum, Rafael pergi meninggalkan ruangan. 'tinggal bian' batin Aska.

__ADS_1


"Ikuti saya!" suruh Rafael pada Dandi. Dandi pun mengikutinya.


__ADS_2