Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Makan malam bersama


__ADS_3

Aska POV


Gisell? Gisella Isya. Nama yang terngiang di otak gue. Gue lupa, siapa orang ini.


Aaaa iya anjirr, gue ingett! Dia yang buly Zia waktu kuliah. Kan waktu itu dipenjara. Siapa yang bebasin sedangkan Kiw juga dipenjara?


Gila! Apa mungkin mereka yang balas dendam ke gue sama Zia? Dan mimpi itu... Mungkin nyata?? Nggak nggak! Gue gak sanggup kalau kehilangan Zia.


Gue tatap Zia yang lagi asik kerja. Semenjak mengandung, kenapa lebih kalem sih? Makin cantik lagi. Makin cinta gue:)


"Apa pandangin mulu??" tanyanya. Dia peka, tapi keseringan pura pura gak tau_-


"Kamu cantik" sumpah demi apa, kenapa gue bucin banget si?


"Gausa ngelawak. Kerjain noh tugas" suruhnya.


Yang bos siapa yang protes siapa, untung sayang:^


Tiba tiba telepon Zia bunyi.


"AAAA IYAAAA, GUE JUGAA PENGENNN"


"KAPAN?!"


"Besok aja deh, gue gak enak badan hari ini"


"Gue gak sakit, santai"


"Eh, bukannya dirumah lu?"


"Okeoke ntar malem"


"Waalaikumsalam"


Dia teleponan sama siapa si? Kepo guee, kenapa Zia sesenang itu.


"Siapa?"


"Ica"


"Mau ngapain?"


"Reunian"


"Kenapa seseneng itu?"


"Reunian di SMA"


"SMA mana?"


"SMA kebangsaan lah"


"Harus disana?"


"Emang maunya disana. Liat anak SMA yang ganteng gan–"


Ni anak paling jago buat gue cemburu.


"Zia!" potong gue. Dia malah cengengesan.


"Harus disana?"


"Hem. Ica ngidam pengen pake baju SMA"


"Kapan?"


"TANYA TEROSS TANYAA" balas Zia. Lucu liat dia ngambek gitu.


"Apa cengengesan"


"Kamu lucu sih"


"Loss doll" Zia beranjak pergi.


"Eh mau kemana?"


"Keruangan"


"Berani? Kalau ada ulet yang keluar gitu gimana? Kan belom dibersihkan" Zia berbalik.


Bener bener ni anak.


"Sini"


"Ngapain?"

__ADS_1


"Gak ada sini lah" dia mendekat. Gue langsung tarik tangannya. Dia duduk di pangkuan gue. Gue taro dagu gue di pundaknya. Tangan gue ngelingkar diperutnya.


"Pak ini kantor" ujarnya.


"Ini kantor saya"


"Ya masa bapak seenaknya gitu si?"


"Karena saya suka"


"Suka apa?"


"Suka kamu"


"Apaan si?" Cengengesan. Meronaa. Zia makin lucu.


"Pak ini say–" karyawan masuk tiba tiba. Kampret.


"Kamu saya pecat, masuk tanpa ketuk pintu" Zia masih ada di pangkuan gue natap gue sinis.


"Apaan gitu doang dipecat!!" protes Zia.


"Jangan pecat saya pak, saya minta maaf" ujar karyawan itu menunduk.


"Jangan dipecat lah. Coba kamu dip–" gue kecup bibirnya biar diem.


"Letakkan berkasnya di meja saya. Setelah itu kamu keluar dari ruangan saya dan kembali bekerja"


"Saya gak dipecat kan pak?" tanya Karyawan.


"Karena istri saya yang minta, kamu gak jadi saya pecat" Karyawan itu menunduk dan meletakkan berkasnya di meja lalu pergi. Gue kunci pintu pake tombol otomatis.


"Kamu sering kayak gitu? Pecat Karyawan karena masalah sepele?" tanya Zia. Duh, Zia marah ni.


"Nggak kok sayang. Tadi aku cuma kesel aja" Aska jaga bicara jangan sampe istri lu marah.


"Ya jangan sampe dipecat juga lah," kata Zia.


"Iya, janji gak pecat lagi,"


"Yaudah awas" galak bener bumil satu ini:)


Gue kerjain marah gak ya? Gue tahan dia biar gak pergi.


••••••


Author POV


"Ayyyyyyy" teriak Zia.


19:45


Mereka sudah dirumah dan ingin pergi makan malam bersama di kafe Zia.


"Kenapa?" tanya Aska yang baru masuk.


"Aku gak ada bajuu, bingung pake baju apaa" rengek Zia.


"Sayang, gak punya baju gimana? Liat ini. Ini. Ini lagi. Ini bukan baju?" tanya Aska sambil menunjukkan beberapa baju.


"Gak mau pake baju itu" balasnya.


"Jadi pake baju apa? Pake baju aku?"


"Gak mau juga" jawab Zia.


"Bumil ku mau apa si?" tanya Aska sambil mendekat ke Zia.


"Gak tau" dengan senyumannya, Aska pergi ke lemari, mencarikan baju untuk Zia.


"Pake ini mau gak?" Aska menunjukkan baju Hoodie yang berbeda dari biasanya. Zia mendekat.


"Ini aja" Zia menunjuk satu baju.


"Yakin?" tanya Aska. Zia mengangguk.


"Keluar" suruh Zia.


"Aku?" Zia mengangguk. Aska pun mengalah dan pergi keluar kamar.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ZiCF semua memandang kagum Zia dan Aska. Zia menggunakan gaun tertutup. Sedangkan Aska memakai kemeja dengan celana panjang beserta sendal santainya. Mereka memakai baju berwarna sama.


"Asekk, welcome back bro. Dah lama gak jumpa nih" sapa Ivan pada Aska. Aska tersenyum.


"Lah gayanyaa." ledek Ica. Mereka tertawa.

__ADS_1


"Aaaaa, Zia makin cantik aja siii" ujar Ica.


"Uwuuu, bumil juga makin cantik" balas Zia. Ica senyum malu malu.


Mereka semua ada di dalam ruangan VIP.


Yaa! Kafe Zia sudah dirombak. Ada ruangan VIP yang bisa digunakan untuk meeting atau keperluan pribadi lainnya. Jika mereka berada diruang VIP, otomatis sajian makanannya bukan makanan biasa. Tapi makanan istimewa.


Saat mereka lagi makan. Tiba tiba saja Zia mual, dia pun berlari keluar ruangan. Aska mengejarnya, takut jika Zia terjatuh. Dan benar saja, Zia hampir terjatuh kalau tidak di tangkap Aska.


Aska menggendong Zia lalu membawanya ke kamar mandi. Zia mengeluarkan semua isi makanan yang diperutnya.


"Mual lagi?" tanya Aska. Zia mengangguk. Aska berlutut dan mengelus perut Zia.


"Baby, sayangnya ayah. Jangan gitu ya, bunda kan mau makan" ujar Aska. Zia hanya melihat Aska. Aska kembali bangkit.


"Kamu kalau ada apa apa, bilang aku dulu. Kalau kamu jatuh tadi gimana?" tanya Aska. Zia diam sambil menunduk. Aska langsung memeluknya.


"Aku khawatir banget tadi"


"Maaf" ujar Zia. Aska melepas pelukannya lalu menatap Zia.


"Kamu jadi kalem ya?" goda Aska.


"Nggak juga" balas Zia cengengesan.


"Kita balik ke ruangan?" tanya Aska Zia mengangguk.


"Aku jalan ajaa, gak mau digendong"


"Is, yaudah iya. Pelan pelan"


--


"Kenapa lu?" tanya Dimas.


"Mual" jawab Aska.


"Mual? Zia hamil?" tanya Ivan. Aska mengangguk.


"Cieee, pada mau jadi ayah" ledek Samuel. Mereka tertawa.


"Bisa barengan gini ya?" tanya Ica.


"Ajaib, ntar besanan aja kita biar mantep" sahut Tania


"Hahahaha"


"Pantesan kalem banget lu Zi" kata Ivan.


"Pucet tau, bawa balik aja deh ka"


"Gue gak apa apa. Santai aja" balas Zia.


"Serius? Jangan di paksa loh" ujar Qiara.


"Gue baik baik aja kok" Zia menjawab sambil menatap Aska.


"Ya udah, terserah lu," balas Tania.


"Jadi gak ke SMA?" tanya Zia.


"Jadi dong" jawab Ica semangat.


"Ntar kita kesana pake baju apaan?" tanya Zia.


"Pake baju SMA aja. Gue mau nostalgia" jawab Qiara semangat.


"Eiy, baju gue da gak muat" protes Ica.


"Sama gue juga" sahut Tania.


"Lah? Yauda beli yuk" ajak Alya.


"Nah skuylah" balas Zia.


"Makan dulu, baru beli baju" suruh Jimmy.


"Tau tuh, makan dulu baru cabut" sahut Ivan.


"Yauda selolaa" balas Qiara, Alya, Ica, Zia, dan Tania bersamaan.


"Mampuss diserbu"


"Hahahahahaha"

__ADS_1


__ADS_2