Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Kompromi


__ADS_3

Kembali lagi ke Indonesia. Setelah selesai dari tujuan awal, Zean mengantar ketiga teman Zia kembali ke sekolah.


"Jangan lupa kasih tau temen-temen Zia yang lain tentang rencananya. Gue gak mau ini gagal dan gue gak punya plan B, jadi usahain semuanya sesuai rencana. Jangan lupa juga buat cari cowok yang gue maksud, kalau udah ketemu kabarin gue," pesan Zean saat mereka masih di dalam mobil.


"Tapi, bang..." sahut Aska sebelum keluar mobil yang dengan sengaja di jeda. "Kenapa?" tanya Zean bingung.


"Gini, kalau cowok bakal bahaya gak sih, bang? Lu kan tau yaa cowok napsuann. Walaupun gak semua cowok begitu, tapikan kita gak bisa prediksi. Saran gue, gimana kalau cewek aja tapi cewek tomboy gitu?" jawab Aska.


"Terserah dahh, gue manut gimana baiknya. Yang terpenting gak keluar dari rencana awal."


"Oke, bang!" Mereka pun keluar bersamaan dari mobil Zean. Zean menatap mereka sampai benar-benar masuk. "Semoga semuanya berjalan sesuai rencana," gumamnya lalu pergi meninggalkan sekolah.


Ketiga pria tadi berjalan menuju kelas dengan santai. "Ka, lu yakin gak ini berhasil?" tanya Dimas. "99% yakin."


"What about the 1% again?" tanya Ivan. Aska berhenti lalu berbalik, "Kenapa lu memperdulikan yang 1%? Bukannya yang 99% membuktikan kalau gue yakin? Lu ragu sama rencana ini atau gimana, Van?"


"Sedikit ragu aja. Circle Zia, Samuel ataupun Jimmy emang mau bantu? Gue gak yakinnya mereka gak mau bantu."


"Gue pastikan mau. Gak aman mereka kalau sampe gak mau." Dimas dan Ivan menatap Aska, "Seram juga belio ini."


Tanpa terasa Aska dan Ivan tiba di kelas, sedangkan Dimas tadi udah duluan masuk kelasnya sendiri. Setibanya di depan pintu, Joshua langsung menghadang Ivan dan Aska. "Stop! Lu berdua darimana?"


"Bukan urusan lu," jawab Ivan cuek. Joshua menghela nafas kesal. "Bu Lesta nyariin tadi, nanyanya ke gua."


"Terus?"


Melihat tatapan Aska, Joshua menyerah dan tidak jadi protes. "Tau dah ah, pensiun aja gue jadi ketua kelas kalau gini anggotanya," keluh Joshua sambil mengacak rambutnya.


"Alay."


"Mau gue bunuh, tapi ntar gue yang di bunuh. Masuk dah mending lu berdua. Tidur aja sana daripada ngilang terus."


"Gak usah ngatur. Ini jamkos?" Joshua berdehem. "Oke, nice. Sekarang aja gimana, Ka?" Aska dan Ivan saling tatap lalu mengangguk.


"Lu berempat ikut gue sekarang bisa?" ujar Aska menunjuk Qiara, Tania, Ica, dan Alya. "Ngapain?" tanya Qiara balik.


"Ikut kalau mau, kalau gak mau yaudah!" kata Aska lalu pergi meninggalkan kelas. "Kok gue kesel liatnya?!" sahut Ica naik darah.


"Udah ayok turutin aja, kalau dia ngamuk bahaya. Zia lagi gak ada di sini," ajak Qiara. Mereka pun beranjak mengikuti Aska dan Ivan. Mereka menuju kantin yang sepi.


"Ngapain kesini?" tanya Alya setibanya di kantin. "Mau pesen dulu gak kalian? Pesen aja, gue yang bayar," kata Aska.


"Seperti penyogokan," gumam Tania pelan tetapi terdengar oleh Aska. "Hanya penawaran." Mereka pun memesan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Oke, sekarang to the point. Mau ngomongin apa?" tanya Qiara membuka topik. "Lu berempat temen akrab Zia, kan?" tanya Ivan dan diangguki oleh mereka berempat.


"Lu pada percaya gak sama fitnah itu?"


"Nggak," jawab mereka bersamaan. "Lu pada mau ban—" omongan Ivan terhenti karena kedatangan Dimas. "Ke kantin gak ngajak ngajak. Tega emang lu berdua!" kata Dimas sok dramatis.


Sialnya, kedatangan Dimas membuat Tania gagal fokus dan malah jadi deg-degan. 'Kenapa gue harus ketemu ini anak sih?' tanya Tania dalam hati. Tania menghela nafas pelan, mencoba mengabaikan Dimas.


"Berisik dah lu ahh, mending duduk!" protes Ivan. Dimas nyengir kemudian duduk di sebelah Aska. "Oke gue lanjut, lu pada mau bantuin kita ungkap semua kejadian Zia gak?"


"Mau. Caranya gimana?" Ivan mulai menjelaskan semuanya termasuk siasat-siasat mereka. "Pada mau gak? Tugas kalian cuma di bagian buat malu doang kok," kata Ivan.


"Gue setuju!"


"Oke, pada setuju. Kalau gitu ntar malam jangan lupa, kita langsung mulai. Jangan sampe rencananya gagal ya."


"Sip, aman."


"Btw, lu yang nyuruh kita kesini kenapa lu yang diem aja?!" tanya Ica menuju Aska. Aska diam tidak menjawab apapun.


"Bangstt!" umpat Ica. Aska benar-benar tidak merespon apapun. Beberapa menit setelahnya, pesanan mereka datang. Mereka menikmatinya dengan santai.


Aska yang melihat mereka tenang menikmati makanan memilih untuk beranjak pergi. "Eh, Ka? Mau kemanaa??!"


Ivan beranjak, "Tenang aja. Udah dibayarin. Gue duluan nyusul Aska, nikmati aja makanannya." Ivan dan Dimas pun pergi menyusul.


Mereka menuju ke kelas Zai sekarang untuk melanjutkan misi. Dengan gaya sok artis, Dimas melambaikan tangan. Anehnya semua siswi terpesona melihat Dimas.


Aska menggelengkan kepala sedangkan Ivan menyenggol lengan Dimas. "Gak usah tebar pesona gobloug. Ntar pada baper mampusss lu," ujarnya memperingati.


Dimas mengedipkan matanya sambil cengengesan. "Iri kamu yahh, fansnya gak banyakk?" kata Dimas sombong. "Gue diem aja pada naksir."


"Tchh, sok iya!"


"Gak usah ribut," tegur Aska. "Siap, bos!"


Beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di kelas Zai. Aska pun memanggilnya dan mengajak Zai ke tempat yang sepi. "Kenapa nih, bang?"


"Bang Ze udah ngabarin lu belom?" tanya Aska. Zai mengangguk, "Udah, bang."


"Gue takut lu lupa, gimana kalau lu samperin sekarang. Gue, Ivan sama Dimas bakal mantau lu dari jauh," ujarnya. Zai menatap Aska bingung. "Sekarang, bang?"


"Besok!" jawab Ivan kesal, Zai cengengesan. "Okee dah, gue samperin dulu." Ketiga pria itu mengangguk. Dengan berat langkah, Zai pergi menghampiri Nabila.

__ADS_1


"Hai!" sapa Zai sambil berusaha tersenyum manis. "Eh, haii! Kenapa, Zaii?" tanya Nabila sok manis.


"Gue cuma mau nanya aja sih, ntar malem lu ada acara gak?" Mata Nabila berbinar. "Gak adaa, gue free! Kenapa, Zaii?"


"Makan malam sama gue yok, gue yang bayarin. Tapi syaratnya, lu datang sendiri aja. Biar romantis," kata Zai mencoba untuk tidak muntah. "Okaaayy, aku mauu. Mau makan di mana?"


"Kafe tempat biasa kita ketemu dulu, I'll pick you up at 7 pm," jawab Zai. "Okayyy, see youu yaa, Zaii!" Zai tersenyum lalu kembali menghampiri Aska dan yang lainnya.


"Demii, gue mau muntah, bangg!!" Ivan dan Dimas tertawa melihat reaksi Zai. "Tapi keren akting lu, udah cocok."


"Cocok jadi aktor?"


"Iyaa. Pemeran pengganti tapii."


"Kamprettt!!" Mereka tertawa bersama, terkecuali Aska yang hanya tersenyum tipis. "Sekarang tinggal eksekusinya."


...—·—...


Sementara itu di Jerman, Zia sedang duduk santai di sofa ruang keluarga sambil menonton drama Korea. Luis yang hari ini bolos datang menghampiri Zia.


"Mau jalan-jalan?" tanya Luis dalam bahasa Jerman. "Hm? Gak mau, hari ini terlihat sangat panas. Aku tidak suka."


"Ya sudah kalau begitu," ujar Luis sambil duduk di sebelah Zia. "Eh, aku baru sadar. Kenapa kau di sini? Tidak pergi ke sekolah??"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku telat bangun dan aku juga lupa mengerjakan tugas jadi aku malas pergi." Zia menggelengkan kepalanya. "Pria gila! Kau tidak akan lulus jika terlalu sering bolos, bodoh!!"


"Itu tidak akan terjadi, Zia. Tenang saja."


"Jangan menggunakan orang dalam dan menyuap mereka untuk kelulusanmu, Luis. Kau tidak akan bisa apa-apa nantinya. Pergilah ke sekolahmu sekarang, ini terlihat masih ada waktu."


"Tapi, Ziaa, ini sudah sangat terlambat." Zia mendengus kesal mendengar jawaban Luis. "Kau ini sangat pemalas. Tinggal beri alasan kau terlambat bangun saja apa susahnya?!!"


"Lalu bagaimana dengan tugas-tugasku?"


"Luiss, apa kau tidak punya teman di sekolah?" Kali ini gantian Luis yang mendengus kesal. "Baiklah, baiklah. Aku akan pergi ke sekolah sesuai suruhanmu," jawab Luis sambil beranjak pergi.


"Pintar tapi pemalas sungguh tidak ada gunanya."


^^^Revisi, 2023.^^^

__ADS_1


__ADS_2