Ciwi Barbar

Ciwi Barbar
Berkelahii


__ADS_3

Kembali lagi ke Jerman. Setelah menunggu beberapa menit, Luis datang dengan sok tampannya. Zia sendiri sudah menatap Luis kesal, sudah sedikit badmood.


"Astagaa lama banget kau bersiappp. Melebihi cewek tau gak?!" protes Zia menggunakan bahasa Jerman. Luis cengengesan. "I'm sorryy, hehe."


"Hadehh, ya sudah. Ayok berangkat." Mereka berdua keluar dari kamar bersamaan. Ternyata di meja makan seluruh keluarga sedang berkumpul. "Waahh, ramaiii!"


"TANTE YOSSIE, AAAAA ZIA RIND—" teriak Zia terpotong karena mulutnya ditutup oleh Luis. Zia memaksanya lepas lalu menatap sinis Luis. "Tanganmu bau!"


Seluruh keluarga tertawa melihat mereka berdua. "Seperti Tom and Jerry yang tidak pernah akur."


"Enak ajaa kau berbicara. Tanganku ini wangii," protes Luis. "Bauuu, sangat bauu!!"


"Ehh, udah-udah. Malah lanjut ributtt," ujar mama Zia menengah. Zia melanjutkan jalannya menuruni tangga, Luis juga mengikutinya. "Kalian mau kemana?" tanya Lee, papa Luis.


"Mau jalan-jalan, Onkel. Zia rindu suasana Jerman, hehe," jawab Zia. "Yaa itu lebih baik daripada diam saja di rumah."


"Benarr. Oh iya, tante tau gaakkk, masa si Luis bersiapnya lama banget, Zia sampe nunggu setengah jam lebihh," keluh Zia pada Yossie. "Bohong bangett."


"Reall, tantee. Luis gak mau ngaku saja ituuu." Luis menatap kesal Zia sembari berkacak pinggang. "Jalan-jalan sendiri, jangan minta aku temani!"


"Hihhh? Tega kau menyuruhku berkeliling sendirian?" Luis menggeleng dengan senyuman paksa. "Tidak."


"Hadehh, kalian ini. Tiada hari tanpa adu mulut. Yasudah kalau mau berangkat. Luis, jaga Zia baik-baik ya. Jangan sampai lecet sedikit pun," suruh grossvater.


"Iya, grossvater, Zia gak bakal kenapa-kenapa kok selama ada Luis," jawab Luis santai. "Baguslah."


"Yaudah kalau gitu, Zia sama Luis berangkat dulu yaaa. Byeee," ujar Zia beranjak pergi ke arah pintu, Luis kembali mengikuti. "Hati-hati, nak!" teriak mama Zia dan mama Luis bersamaan.


"Okeeeyy!" teriak Zia dan Luis juga bersamaan. Mereka kini sudah masuk ke dalam mobil. Luis membawa Zia kemanapun Zia mau.

__ADS_1


Lelah berkeliling Jerman, Luis menghentikan mobilnya di sebuah taman yang indah, tempat yang biasanya selalu dikunjungi Zia dan Luis. Di sana juga ada makanan jalanan kesukaan Zia.


Zia beranjak untuk membelinya dan berjalan sendirian menuju tempat sang penjual. Luis yang tau kalau Zia lupa membawa uang pun datang menyusul Zia saat pesanannya sudah hampir selesai.


Zia merogoh kantongnya mencari uang untuk membayar sedikit panik karena dirinya tidak menemukan apapun. Dari belakang, Luis langsung menyodorkan uangnya.


"Danke," ujar Zia pada Luis dengan senyuman. Luis mengangguk juga dengan senyuman. Setelahnya mereka pun berjalan ke arah mobil. Zia menikmati makanannya.


"Kenapa kau selalu memakan itu kalau kita ke sini?" tanya Luis dalam bahasa Jerman, mereka berdua sedang duduk di atas mobil sekarang. "Karena ini enak, kau mau mencoba?" tawar Zia, Luis menggeleng.


"Aku tid—" perkataan Luis terhenti saat Zia memasukkan makanannya ke mulut Luis. Luis menatap sinis Zia yang cengengesan sambil terus mengunyahnya. "Lumayan enak," gumam Luis.


"Kau suka?" tanya Zia antusias.


"Tidak terlalu, tapi lumayan."


Beberapa menit berlalu, makanan Zia habis. Kini dirinya merasa haus. Ia meminta uang pada Luis untuk membeli minum, dengan sukarela Luis memberikan uang pada Zia.


Zia pun pergi membeli minuman sendiri. Saat Zia pergi, Luis berdiri dan bersandar di mobilnya sambil memasukkan tangannya ke saku celananya. Terlihat sangaat keren, seperti seorang model.


Beberapa jarak dari tempat Luis, ternyata pria yang diceritakannya pada Zia muncul lagi membawa dua temannya. Luis yang melihat menjadi pura-pura tidak melihat dan berusaha tetap tenang. Pria bernama Edwin itu terus berjalan menuju ke arah Luis. "Ah, sial."


Luis panik melihat Edwin berjalan ke arahnya. Bukan karena dia takut untuk baku hantam kembali, tapi dia teringat pesan grossvaternya untuk menjaga Zia dengan baik. Jadi kalau Zia terluka, bagaimana nasibnya??


Setelah lama mencari cara, tanpa sadar musuhnya sudah berada tepat dihadapannya membuat Luis terkejut. "Ada apa lagi?" tanya Luis datar.


"Bagaimana jika kita lanjutkan pertarungan tadi?" tawar Edwin tersenyum smirk. "Aku sendiri dan kau bersama kedua temanmu? Ternyata kau lemah ya?"


Bughh!! Tanpa aba-aba Edwin meninju wajah Luis. Luis memalingkan wajahnya masih tetap tersenyum.

__ADS_1


"Lelah sekali harus terus berurusan denganmu. Apa maumu, cepat katakan," kata Luis masih santai. "Aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan!"


"Sudah berapa kali aku katakan padamu, aku tidak mengambil kekasihmu! Dia hanya mirip dengan kekasihku! Ahhh sudahlah, lagipula aku sudah putus dengannya, kau bisa ambil dan kau nikmatin saja mantan kekasihku itu!"


Kesal mendengar jawaban Luis, tangan Edwin bergerak hendak memukul Luis, tapi tiba-tiba tangannya tertahan. Di belakang ada Zia yang menahan tangannya. "Guten Abend, sir," sapa Zia tersenyum manis.


Edwin melihat ke belakang, ternyata teman-temannya sudah K.O dibuat Zia. Edwin benar-benar terkejut.


Luis sendiri semakin panik karena sepupunya itu sudah kembali. "Zia, pergi pulang sendiri. Masuk mobil sekarang cepat!" suruh Luis. "Baiklah, baiklah." Zia melepas tangan Edwin dan masuk mobil mengikuti suruhan Luis.


"Cepat pergi sekarang, aku sedang tidak ingin ribut denganmu hari ini," suruh Luis pada Edwin. Bukannya pergi, Edwin malah memukul Luis lagi. Teman-teman Edwin pun kembali bangun dan membantu Edwin menghajar Luis.


Luis melawan, tapi karena satu lawan tiga, apa mungkin dirinya menang?


"Astaga, aku seperti menonton film secara nyata sekarang," kata Zia dari dalam mobil. Dirinya keluar lagi untuk membantu Luis. "Mengapa kau keluar? Sudah sana cepat masuk!"


"Jangan bodoh! Mereka bertiga dan kau sendiri. Mana bisa aku membiarkanmu terluka lagi," jawab Zia. "Kumohon masuklah ke dalam mobil. Aku tidak ingin grossvater marah karena melihatmu terluka. Aku sudah janji akan menjagamuu tanpa terluka," kata Luis.


"Aku yang akan jelaskan nanti pada mereka, tenang saja!" suruh Zia. Mereka kembali berantem bersama Edwin dan kedua temannya. Teman-teman Edwin sudah K.O lagi dibuat Zia, tinggal Edwin yang masih bersemangat menghajar Luis.


Dengan tanpa aba-aba Zia langsung menendang barang berharga Edwin, membuatnya meringis kesakitan. "Oppss! Maaff ya, aku tidak sengaja," kata Zia berpura-pura. Zia mendekat ke arah Edwin yang kesakitan. "Orang bodoh," umpat Zia dengan bahasa Indonesia.


"Pergilah! Jangan ganggu kekasihku lagi. Bukankah dia sudah mengatakan kalau dia sudah putus dengan pacarmu? Aku tau kau bodoh, tapi ku sarankan jangan terlalu diperlihatkan kebodohanmu itu. Kau tampan dan mungkin kau kaya, tidak bisakah kau mencari wanita lain dan berhenti mengganggu orang lain? Lupakan semua dendammu. Jangan membuat kekasihku terluka kembali, jangan bertemu dia lagi saat dia sedang ingin berangkat sekolah. Jika kau masih melakukannya, akan ku putuskan semua jarimu. Kau mengerti?!"


Edwin terdiam. Zia sendiri langsung masuk ke dalam mobil, sedangkan Luis masih terdiam di luar. Zia geram melihatnya dan menelpon Luis.


^^^"Cepat masuk atau aku yang akan mengemudi dan meninggalkanmu di sini, Luis."^^^


^^^Revisi, 2023.^^^

__ADS_1


__ADS_2