
Sehari setelah batalnya pernikahan Zia dengan Bian. Orang lain jika batal nikah mungkin akan nangis, tapi beda dengan Zia. Dia terlihat biasa saja. Seperti sekarang, dia baru saja keluar dari hotelnya menuju kafe untuk makan. Dia menggunakan baju rajut, celana pendek, jaket yang tebal serta sepatu putih favoritnya. Dia sedang teleponan dengan Febby.
βKakipebβ
π Febby; aunty Zia, kapan pulang? Baby Zap rinduu. (Menirukan suara anak bayi)
Zia; aunty gak pulang sayang.
π Febby; Serius kamu dek gak pulang?
Zia; Pulang kak, tapi ntah kapan hehe.
π Febby; Ehhh?! Kamu dimana?
Zia; Dijalan mau beli makanan.
"Siapa?" tanya Zean dari sana.
"Adek akulah, Zia" jawab Febby.
"Ngadi ngadi, sini. Abang mau bicara" pinta Zean, Febby memberi ponselnya.
Zia; gak usah sok abang abang. Bapak bapak aja pun.
π Zean; Kurang ajar emang, coba deket.
Zia; Halah, bilang aja rindu.
π Zean; Ngadi ngadi lu ya
Zia; hahaha
π Zean; Lo dimana dek?
Zia; dijalan mau cari makan.
π Zean; Lo uang darimana sih? Papa transfer emang?
Zia; ZiCF ada bang, transferan papa yang dulu dulu juga masih ada.
π Zean; Oo gitu, terus Lo tinggal dimana?
Zia; hotellah.
π Zean; bagus bagus Lo disana, negara orang
Zia; Iya bawel.
π Zean; disana jam berapa?
Zia; Sore, jam limaan.
π Zean; Oo.. lo gak galau kan dek? Jangan sampe lo pulang ke Indonesia jadi kurus gara gara galau!
Zia; gue gak alay bang.
π Zean; ya siapa tau, Lo gak sedih batal nikah?
Zia; mau gue jawab sedih, gue gak sedih. Gue jawab sedih, sama aja bohong. Gue gak tau deh bang sedih apa nggak.
π Zean; berarti Lo gak cinta sama manusia itu?
Zia; cinta sih belum, gue udah coba buka hati. Sehh buka hati, kayak udah pernah tersakiti aja dah gue.
π Zean; Eehh, gue serius lucknut!!
Zia; hahaha, gue udah coba cinta sama dia, gue udah sempat percaya sih bang. tapi kepercayaan gue punah seketika karena ingat semua kelakuan dia. Sebenarnya tangan gue yang gue bilang kena cakar kucing liar itu, bukan karena kucing.
π Zean; jadi?
Zia; kena kuku dia.
π Zean; ck. Gob*lok! Tau dari awal gue suruh papa batalin. Calon suami Lo kasar gitu.
Zia; Itu gak sengaja nya. Udah lewat, jangan lo datangin anaknya terus Lo jotos lagi!!
π Zean; insyaallah, liat muka dia tangan gue gatel.
Zia; Halah bacot, Lo tau gak sih bang. Sebenarnya hati gue ada yang ngeganjal. Gue kayak lagi suka sama orang, tapi gue gak tau siapa. Gue kayak masih ngelupain satu orang gitu.
π Zean; Lah? Ada yang masih Lo lupa apa gimana?
Zia; ya itu gue gak tau.
π Zean; Abang sama yang lain susulin Lo ya ke London.
Zia; gak usah males gue, nanti kalian rusuh. Gue masih mau keliling Eropa.
π Zean; Heh dasar adek lucknut, terserah lo deh ya. Sekarang dengerin gue baik baik!
π Zean; Kalau ada apa apa, hubungin kita. Kalau Lo ada masalah. Curhat ke gue atau yang lain. Jangan sampai semuanya Lo pendam sendiri! Paham!!!
Zia; iya iya, bawel banget sih Lo bang.
Zia; ya udah gue matiin, gue mau makan. Nanti gue pamer deh ya ke lo. Assalamualaikum bapak bapak.
π Zean; Kamprett Lo!! waalaikumsalam (Memutuskan panggilannya)
__ADS_1
Zia sampai di salah satu kafe di London. Dia memesan makanan kemudian duduk di salah satu kursi untuk menunggu lalu menikmati makanannya.
β β β
Jarak beberapa meja dari meja nya Zia.
"Thank you, for your cooperation sir."
"You're welcome, I'm leaving first." Aska menundukkan badannya, client nya pun pergi.
"Akhirnya," pekik Aska kegirangan. Aska melihat sekelilingnya dan menemukan seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
βIvan setresβ
π Ivan; Apaaaaa
Aska; santai kek njer ah!
π Ivan; iya itu udah santai, ya kali gue jawab 'iya sayang, kenapa?' yang ada dikatain homo sama calon bini gue.
Aska; gak usah pamer bini mulu an*jir.
π Ivan; oiya lupa, lu jones ya hahahahah.
Aska; satbang!!! Gue mau tanya, Zia dimana?
π Ivan; gak tau gue, dua hari yang lalu dia kabur dari rumahnya. Menurut info nikahnya batal permanen sama Bian.
Aska; serius Lo?! Kabur kemana?
π Ivan; gak tau kemana, tapi semalam gue ditelepon Zai, Zia udah ketemu. Gak di Indonesia sih.
Aska; Lo dimana?
π Ivan; London sama Ica.
'kok bisa pas gini?!' tanya Aska dalam hati. Hari ini benar benar Lucky bagi Aska.
Aska; Dimas dimana?
π Ivan; London juga sih katanya
Aska; Telepon tu anak, bilang kita kumpul di kafe xxx. gue juga lagi di London. Dan gue ketemu sama seseorang.
π Ivan; Seriosly? Jangan ngibul!!
Aska; gue serius, gue habis meeting sama client?
π Ivan; "Sayang, sayangg!! Kamu siap siap. Kita mau ke kafe xxx ketemu sama monyet"
Aska; temen bangs*at ya gini. Udah buruan! Gak pake lama!!!! (memutuskan panggilannya)
"Darf ich hier sitzen, Miss?" tanya Aska dengan bahasa Jerman.
"Setzen Sie sich einfach, Sir" jawab Zia. Aska pun duduk, 'dia gak ingat gue atau gimana?' batin Aska terheran, 'ini London dia pake bahasa Jerman?' tanya Zia dalam hati. Hening di meja mereka, Zia masih belum mau beranjak dari sana. Dia suka kafe ini, mungkin setelah ini, kafenya yang di Indonesia akan dirombak. Beberapa menit kemudian Ivan, Ica, Tania, Dimas pun datang.
"Ica? Tania?" tanya Zia terkejut. Mereka semua juga terkejut. Ica dan Tania memeluk Zia.
"I miss you" ujar Ica.
"Miss you to" balas Zia. Mereka melepas pelukannya.
"Bivan, Dimas!" panggil Zia.
"Zi?" sahut Ivan bertanya tanya.
"Gue udah ingat semuanyaaa" ujar Zia.
"Serius?" tanya Ivan. Zia mengangguk, Ivan memeluk Zia.
"Udah gak usah lama lama! Nanti Ica cemburu" suruh Zia, Ivan melepas pelukannya. 'gue??? gue gimanaa??' tanya Aska terheran.
"Apaan sih" balas Ica.
"Lo kemana? Lo kabur kan? Kita panik Zia" tanya Ivan.
"Sorry, hehe"
"Jadi Lo kabur kesini?" tanya Ica.
"This favorit city" jawab Zia.
"Ini, ini an*jir gue dilupain?" tanya Aska.
"Utututu, Abang askaaaaa" panggil Dimas mereka ketawa.
"Reuni dadakan" kata Tania. Mereka duduk bersama dan memesan minum.
"Jadi, kenapa Lo disini?" tanya Dimas. Zia mengambil handphonenya. 'case dari gue masih netep? hp nya juga sama? ini dia masih lupa sama gue atau gimana' tanya Aska dalam hati lagi.
"Wait wait wait. Zi, Lo gak tau siapa gue?" tanya Aska.
"I don't know" jawab Zia.
"Who are you?" tanya Zia.
"Zi, serius Lo gak tau?" tanya Tania.
__ADS_1
"Gue ingat yang lain, cuma gue masih ngerasa lupa satu hal" jawab Zia.
"Wait" Tania mengambil ponselnya, dan menunjukkan foto tentang Zia yang menindih Aska waktu mereka di Filipina.
"Hah? Apa ini?" tanya Zia.
"Kamu siapa?" tanya Zia lagi.
"Its okay, gak masalah Lo gak ingat gue. Jangan dipaksain oke" jawab Aska, Zia merasa malu karena adegan itu. Dia menutup mukanya yang merah dengan kedua tangannya.
"Eh, balik ke pertanyaan Dimas. Jadi kenapa Lo disini?" tanya Ivan. Zia menunjukkan plat mobilnya.
"Ini, bukannya punya Bian?" tanya Tania.
"Iya, ini punya dia. Koma dua tahun gue karena dia." jawab Zia.
"HAH SERIUS?" tanya mereka semua berbarengan. Membuat terkejut penghuni kafe.
"Jangan kuat kuat ******! gob*lok dah, liatin kita mereka" jawab Zia, mereka melihat satu persatu dan berkata "Sorry".
"Jadi?" tanya Ica.
"Dia yang tabrak gue, ini fotonya tanpa rekayasa, gue fotoin sendiri sebelum hpnya mati. Gak masalah kalau dia gak sengaja. Tapikan seharusnya dia yang tolongin ke RS? Bukan Luis sama bang Abi" jawab Zia.
"Jelas dia gak bertanggung jawabkan?" tanya Zia.
"Iya gak bertanggung jawab" balas Ica.
"Syukurlah Lo gak jadi nikah sama dia. Dia yang buat Lo koma kan? Dia juga orang yang kasar." sahut Tania. Aska tersenyum, Ivan dan Dimas menyenggol lengannya.
"Kesempatan bosku" bisik Mereka.
"Diam!!" suruh Aska. Mereka berdua tertawa.
"Sekarang gue yang tanya. Kenapa kalian disini?" tanya Zia.
"Gue diajak liburan dong sama kang ojek" jawab Tania.
"Istri laknat ya gini, suami sendiri dikata kang ojek" cibir Dimas, mereka ketawa lagi.
"Gue nemenin Ivan ada tugas dari papa mertua" jawab Ica.
"Lo ka?" tanya Dimas.
"Barusan rapat sama client, proyek besar bro" jawab Aska.
"Iyalah iya, yang udah jadi bos besar" kata Tania.
"Ah biasa aja" jawab Aska malu malu.
"Sok malu, jijik gue" cibir Ivan.
"Bachotttd" balas Aska. Mereka tertawa lagi.
"Kok Lo sendiri? Pacar atau istri Lo mana?" tanya Zia pada Aska.
"Nih didepan gue" jawab Aska. Aska duduk berhadapan dengan Zia.
"Hah? Apaan sih?" tanya Zia. Pipi Zia merona. 'jantung gue deg degan. mamii tolong anakmu' teriak Zia dalam hati.
"Cie yang malu malu cieee" ledek Tania.
"Apaan sih udah ih" suruh Zia. Aska cengengesan. 'gue rindu Zi, gue rindu. mungkin Lo belum ingat gue sekarang. gue bakal tunggu lo, sampe Lo ingat gue' batin Aska sambil melihat senyumnya Zia.
"Alya, sama Qiara dimana?" tanya Zia.
"Alya di Swiss, Qiara di Paris." jawab Tania
"Gue pengen main salju di Swiss. Tapi gue juga pengen ke pariss" rengek Zia.
"Sayang, tugas lo udah selesai kan?" tanya Ica pada Ivan.
"Tuhkan, gak serunya gini. Gue obat nyamuk" cibir Zia.
"Ada gue, tenang aja" balas Aska.
"Helehh" balas Zia. Mereka tertawa.
"Udah, udah selesai." jawab Ivan setelahnya.
"Lo udah selesai ka?" tanya Ica.
"Udah," jawab Aska.
"Liburan kuy, kita undi. Paris atau Swiss." ajak Ica.
"Setuju gue" jawab Tania dan Zia bersamaan. Mereka pun mengundinya. Dan pilihannya menuju Paris.
"Jadi kapan?" tanya Tania.
"......."
_____________________________________
Zia lupa Aska guys, gimana dong?
Tunggu chapter berikutnya yaaa π
__ADS_1
See you next chapter π€©
______________________________________