
Indonesia, kediaman Zeco Hitler.
Tok tok tok..
"Zia, sayang. Bangun nak, ayo siap siap" panggil Zeva. Zeva mencoba membuka kamar Zia.
"Terkunci?"
"Mbakk, mbakk nidjaaa. Bawakan saya kunci cadangan kamar Ziaaa" teriak Zeva.
"Kenapa sih ma?" tanya Zeco yang baru muncul.
"Anak mu, di panggil gak nyaut" jawab Zeva.
"Belum bangun?" tanya Zeco lagi.
"Gak tau"
"Papa kebawah dulu" pamit Zeco, Zeva mengangguk, Zeco pun pergi.
"Ini nyonya kuncinya" kata pembantu. Zeva membuka kamarnya Zia.
"Kosong?"
"Di kamar mandi" Zeva mengecek kamar mandi.
"Kok kosong juga?" Zeva keliling kamar Zia.
"Kok gak ada? Zia dimana??"
"Papaaaaaa paaaaaaaaaaa" teriak Zeva. Dengan sigap Zeco lari keatas.
"Ada apa sih ma?" tanya Zeco panik.
"Zia... Zia gak ada di kamarnya!!"
"Yang benerrr?!"
"Gak mungkin mama bohong pa"
"Duh jadi gimana ini?" tanya Zeco.
"Abizar, Zean, Zaiii" teriak Zeco.
"Kenapa pa?"
"Kenapa bang?" tanya Abizar.
"Zia hilang, bantu cari. Kita mencar."
"Abi, kamu ke apartemen Zia."
"Zean, kamu ke HzIn."
"Zai ke kafe" ujar Zeco bagi bagi tugas.
"Gimana bisa ngilang?!!!!" tanya Lee yang baru muncul.
"Gak tau bang," jawab Zeco.
"Kenapa om?" tanya Luis.
"Zia hilang, coba kamu hubungin teman teman kamu. Cari dimana Zia" suruh Zeco. Luis pun pergi ke kamarnya. Zean, Abizar, Zai pun mulai bergerak sesuai arahan Zeco.
"Duh Zia kemana ini? Bilang apa sama Mahen kalau gini? Rame banget lagi ntar" kata Zeco. Dia terus risau dengan hilangnya Zia. Dia mengambil ponselnya dan menelepon Hans.
βHansβ
π Hans; Waalaikumsalam, kenapa?
Zeco; Zia hilang!!!
π Hans; HAH? SERIUS? GIMANA KOK BISA?
Zeco; pelan aja kali Hans, budek telingaku dengernya.
π Hans; reflek bos.
π Hans; serius Zia hilang? Udah dicari keliling rumah?
π Hans; Kafenya? Apartemennya?
Zeco; proses bro, sabar!!!
Zeco; kau dimana Hans?
π Hans; Indonesia, tapi Aska gak disini. Dia ada proyek.
Zeco; oh begitu. Yasudah.
π Hans; jadi bagaimana pernikahannya???
Zeco; aku tidak tau bagaimana. Zia menghilang tanpa meninggalkan apapun.
__ADS_1
π Hans; cek cctv mu!
Zeco; kau benar! Sebentar.
Zeco pergi keruangan kerjanya. Membuka rekaman cctv.
Zeco; dia tidak terlihat dimanapun.
Zeco; bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan pada Mahen dan tamu lainnya?
π Hans; Calm down Ze!! Coba telepon ponselnya!
Zeco; sudahh, semua nya tidak ada jawaban.
π Hans; astaga, tidak mungkin jika dia diculik.
Zeco; Sepertinya Allah tidak meridhoi ini. Sudah dua kali kegagalan.
π Hans; positif thinking. Mungkin dia lagi di kafenya, apartemennya, atau lagi disuatu tempat.
π Hans; semoga dia baik baik saja. Nanti aku bantu mencari.
Zeco; bisa setres aku jika begini. Yasudah aku tutup dulu teleponnya assalamualaikum. (memutuskan panggilannya)
"Ziaaa, kamu dimana nakk" tanya Zeco sambil meremas rambutnya.
"Hah? Ada apa? Zia kemana?" tanya Mahen yang baru datang.
"Zia hilang! Dia gak ada dikamarnya" jawab Zeco. Gak lama kemudian, Zai, Zean, dan Abizar datang. Luis pun keluar dari ruangannya.
"Abi udah cari di apartemennya Zia gak ketemu bang"
"Zai udah cari ke kafe gak ketemu pa"
"Zean juga gak nemuin Zia di HzIn"
"Zia kamu dimana nak??" tanya Zeva sambil sedikit terisak.
"Sabar ma, Zia pasti baik baik aja" ujar Febby menenangkan.
"Luis?" tanya Zeco.
"Luis udah telepon Ivan om, Ivan gak tau, dia di London sama Ica. Luis telepon Dimas, dia juga di London sama Tania. Luis telepon Qiara, dia di Paris sama Sam. Terakhir, Luis telepon Alya, dia gak tau, dia di Swiss sama Jimmy" jelas Luis.
"Bagaimana pernikahannya?" tanya Zeco masih meremas rambutnya.
"Kita tunda lagi sepertinya. Sudahlah, jangan bahas pernikahannya. Keberadaan Zia yang terpenting" sahut Mahen.
"Bagaimana? Zia sudah ketemu?" tanya Hans yang baru saja tiba.
βUnknownβ
Zai; iya halo?
π +62; saya dikasih tau sama kepala pelayan tuan. Nona Zia itu kabur, dia sempat ke kafe sebelum pergi.
Zai; serius kamu? Jangan bercanda.
π +62; saya serius tuan.
Zai; kemana?
(Tut Tut Tut, [sinyal hilang])
"Kenapa Zai?" tanya Hans.
"Tadi Zai suruh orang, kalau ada kabar dari Zia hubungi Zai. Dan tadi orang itu kasih tau Zai."
"Kemana? Kenapa?" tanya Zeco.
"Zia kabur, dia sempat ke kafe sebelum pergi." jawab Zai.
"Kabur? Kemana?" tanya Hans.
"Gak tau om, sinyalnya hilang tiba tiba" jawab Zai.
"Kenapa dia setuju kalau ujungnya buat malu gini?!!" tanya Zeco kesal.
"Dia pasti punya alasan Ze. Coba telepon lagi" suruh Hans. Zeco pun terus-menerus menelepon Zia.
"Kita cari aja lagi, siapa tau masih disekitar sini" suruh Lee. Ponsel Luis berbunyi.
βIvanβ
Luis; Waalaikumsalam, kenapa?
π Ivan; coba lu cek ke markas kita. Markas gue, Ivan, Dimas sama Zia. Gue share lokasinya. Jangan kasih tau siapa siapa. Pokoknya cuma Lo yang kesana!!
Luis; Oke! (Mematikan teleponnya)
Luis lari mencari jaketnya, kemudian mengambil mobilnya.
"Luis mau kemana?" tanya Zucky.
__ADS_1
"Hah? Mau cari Zia. Luis pergi dulu assalamualaikum" pamit Luis lalu pergi. Ponsel Zean berbunyi sekarang.
βUnknownβ
Zean; iya halo?
π Sam; bang, ini Samuel Alexand
Zean; oh iya, kenapa Sam?
π Sam; Zia udah ketemu belum bang?
Zean; belum, kamu tau dimana?
π Sam; Sam gak tau Zia dimana bang, tapi Sam saranin coba cari di Villa puncak yang pernah kami datengin. Siapa tau Zia disitu.
Zean; Villa? Ohhh iya. Iya iya Sam. Makasih sarannya ya.
π Sam; iya bang sama sama, semoga ketemu ya bang
π Sam; Sam matiin dulu teleponnya, assalamualaikum
Zean; makasih ya, waalaikumsalam (mematikan teleponnya)
"Bang Abi, temenin Zean ya" pinta Zean.
"Mau kemana kamu?" tanya Zeco.
"Villa puncak pa, siapa tau dia disana" jawab Zean.
"Oooh iya, yaudah cek sana buru" suruh Zeco.
"Iya pa, ayok bang" ajak Zean. Mereka pun pergi menuju villa.
"Bian kenapa kamu diam ajaa?!" tanya Mahen kesal.
"Bian masih mikir pa! Bian masih cari solusi." jawab Bian.
"Maafin, maaf. Semuanya kembali batal" ujar Zeco.
"Hey, tenanglah! Kita bisa atur lagi nanti. Yang terpenting Zia ada sekarang" balas Mahen.
"Dimana terakhir kalian lihat Zia?" tanya Hans.
"Tadi malam, dia masih gabung sama kami. Ngobrol ngobrol" jawab Zeco.
"Dari mana jalan Zia kabur, sedangkan di cctv semua gak nampak?" tanya Hans lagi.
"Bisa jadi Zia keluar dari jendela om" jawab Zai.
"Iya bisa, tapi itu bahaya" balas Alice.
"Bukan Zia namanya kalau gak demen yang bahaya bahaya" tambah Zai.
"Zafran mana?" tanya Zeco.
"Di kamar lagi tidur pa" jawab Febby.
"Biar aku saja yang ganti kerugian semuanya hen" pinta Zeco.
"Bagi dua saja, atau aku saja" tawar Mahen.
"Tidak, biar aku saja. Ini karena ulah Zia" balas Zeco.
"Sudahlah, semua kerugian sudah ayah bayar" sahut Zucky.
"Ayah?!" tanya Zeco.
"Sudahlah Ze, tidak apa" balas Santi.
"Coba telepon Zia lagi" suruh Lionard. Zeco menelepon Zia lagi. Berkali kali. Hasilnya sama saja, tidak ada jawaban.
"Aku takut.. hiks... Aku takut Zia tidur lagi" sahut Zeva.
"Positif thinking Zeva, Zia pasti baik-baik saja" kata Alice.
"Kenapa dia pergi tanpa jejak?!" tanya Lee.
"Baju apa yang terakhir Zia gunakan om?" tanya Bian.
"Baju tidur lengan pendek favoritnya" jawab Febby.
"Warna?"
"Abu abu" jawab Zai.
"Ah bukan!" kata Bian.
"Kenapa Bian?" tanya Lita.
"Orang suruhan Bian ketemu orang yang ciri cirinya mirip Zia, pakai baju tidur juga. Tapi bukan warna abu abu, warna pink" jawab Bian.
"Zia anti pink, itu jelas bukan Zia" sahut Zeva.
__ADS_1
"Ah ayolahhh Zia angkattt" teriak Zeco yang dari tadi menelepon Zia. Mereka semua pun berkumpul dirumah istananya Zeco, dan menunggu kabar keberadaan Zia.