
Zia; aaaaaaaaaaaaaaaaaaa (disumpelin)
Luis; apaan sih teriak teriak? Udah malamm
Zia; lah Lo ngapain muncul tiba tiba kek gitu?
Luis; sengaja.
Zia; Gak ada akhlak lu ya
Luis; (cengengesan) Holaaa
Dimas; Oh si Luis ternyata.
Jimmy; udah tau bahasa Indonesia lu?
Luis; ya udah lah, kan gue kuliah di Indonesia.
Qiara; lah gue kok kagak tau?
Samuel; kok gue baru tau?
Alya; sejak kapan?
Luis; ya sejak masuklah.
Qiara; nah lo di Indonesia, kuliah disana bahkan. Tapi kenapa Zia jadi gitu egee?!
Luis; iya mon maap, gue salah.
Zia; eh? Tumben lo gini.
Luis; iya, harusnya gue ikut bukan diem dirumah sambil nonton FTV.
Zia; emmmm... di Indonesia udah malem, gue ngantuk mau tidur. Gue matiin bye bye.. (memutuskan panggilannya)
"Bengek gue, lo sih kenapa sampe nampak segala?" Ujar Zia pada tangannya.
"Sodara gue kenapa gila gini?" tanya Luis.
"Pale lu ijo gila!" balas Zia.
Toktoktok..
"Eh papa, kenapa?" tanya Zia.
"Papa denger kamu teriak tadi, kenapa?" tanya Zeco.
"Luis ngagetin, tiba tiba muncul kayak setan" jawab Zia sambil melirik ke Luis yang cengengesan.
"Ooh, papa kira ada apa. Udah tidur sana udah malam. Luis kembali ke kamar kamu" suruh Zeco.
"Iya pa,"
"Iya om,"
"Selamat malam" ujar Luis lalu keluar kamar Zia.
"Tidur ya!" suruh Zeco
"Iya pa, selamat malam"
"Selamat malam kembali" sahut Zeco lalu pergi menuju kamarnya.
·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·.·
"Zia gak mau nikah sama orang yang tidak bertanggung jawab. Maafin Zia udah buat kalian malu"
"Zia kamu dimana??"
"Zia disini, Zia minta maaf karena membuat semuanya kacau. Maaf om Mahen maaf Tante Lisa. Jika emang dia bertanggung jawab. Seharusnya dia tidak pergi"
"Maafkan aku~"
-
"Huh huh huh, mimpi apaan sih gue? Kok bisa aneh gituu?" tanya Zia. Mimpi aneh baru saja menimpanya. Dia melihat jam, dan ternyata jam setengah 7 pagi.
"Jam 8 gue ada kuliah, boleh berangkat gak ya?" tanya Zia bermonolog.
"Bian, suruh Bian bujuk papa pasti bisa" lanjut Zia dia mengambil hpnya dan menelepon Bian.
__ADS_1
—Bianeo—
📞 Bian; Assalamualaikum, kenapa telepon pagi pagi?
Zia; Waalaikumsalam gue bosen dirumah, jemput yaa. Bujuk papa, gue pengen kuliah.
📞 Bian; Lo kuliah sama aja gak bisa nulis Zia.
Zia; ya tapi gue bosen. Iya napa plisss.
📞 Bian; baru sehari dirumah loh.
Zia; hm
📞 Bian; Oke oke, gue kesana. kuliah jangan lasak! Atas pantauan gue.
Zia: iyaa, danke. (Memutuskan panggilannya).
Zia pun bersiap siap untuk pergi ke kampus. Setelah itu dia turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.
"Mau kemana?" tanya Zeco. Belum sempat Zia menjawab, bel rumah mereka berbunyi. Setelah dibuka muncullah Bian.
"Nak Bian?" tanya Zeva.
"Hehe iya tante, good morning. Guten Morgen" sapa Bian.
"Morning"
"Bian sarapan disini boleh kan om, tante?" tanya Bian.
"Gak masalah," jawab Zeco. Mereka pun mulai makan.
"Om," panggil Bian.
"Iya kenapa?" tanya Zeco
"Zia,, boleh kuliah?" tanya Bian hati hati. Zeco melirik ke arah Zia yang menunduk.
"Tanganmu masih sakit nak?" Tanya Lee.
"Tidak ongkel" jawab Zia.
"Jangan sembunyikan rasa sakitnya jika memang itu sakit" suruh Lionard.
"Boleh tidak? Zia bosan" Zeco menghela nafas panjang.
"Baik, pergilah kuliah. Tapi kamu harus dipantau sama Bian dan Luis! Gak boleh bertengkar atau apapun itu! Paham"
"Thank you Daddy" ujar Zia sambil tersenyum.
"Sepertinya mereka bersekongkol" bisik Zean pada Luis tapi sengaja dengan suara yang besar.
"Hm, sepertinya begitu." Balas Luis.
"Hiss.. lu berdua pengen gue sentil ginjalnya?" tanya Zia datar, Luis dan Zean tidak meresponnya. Mama papa Zia dan yang lain hanya menggelengkan kepalanya.
"Bian, kamu ada kelas?" tanya Zeva.
"Jam 8 tante" jawab Bian.
"Kamu Zia?" tanya Yossie
"Jam 8 kalau gak di phpin" jawab Zia.
"Kamu pergi sama siapa? Luis atau Bian?" tanya Lee.
"Akuu.. pergi dengan mobil ku sendiri" jawab Zia.
"Tidak!!" bantah Zeco
"Papa," rengek Zia.
"Terkejut gue sumpah" balas Zean.
"Zia jangan ya, kamu pergi sama Bian saja hari ini" suruh Zeco.
"Harus?" tanya Zia.
"Kamu ingin kuliah bukan? Kamu harus dipantau Bian. Dan kamu harus berangkat dengan Bian. Papa gak mau kamu kenapa kenapa Zia"
"Turuti kemauan papamu. Jangan lupa, kamu cucu perempuan ku satu satunya. Kami tidak ingin kamu kenapa kenapa" sahut Lionard.
__ADS_1
"Baiklah" jawab Zia.
"Zia ingin pergi sekarang, Zia mau melihat ZiCF dan HzIn"
"Tidak perlu ke HzIn, kalau kamu mau ke ZiCF pergilah" suruh Zeva.
"Baiklah, baiklah" jawab Zia.
"Ayok" ajak Zia karena dia sudah selesai makan, begitupun dengan Bian. Mereka menyalimi tangan mereka semua lalu pergi.
Setelah kepergian Zia, ada sesuatu yang mengganjal dihati Zeco. Dia meletakkan sendok dan garpunya, lalu memegang kepalanya.
"Papa kenapa?" tanya Febby.
"Firasat papa tentang Zia tidak enak hari ini. Benar benar ada sesuatu yang mengganjal"
"Itu cuma firasat, berusahalah berfikiran positif." suruh Lee.
"Baiklah" jawab Zeco dia pun melanjutkan makannya walaupun masih gelisah. 'gue kira cuman gue. ternyata om Zeco juga. apa yang bakal terjadi hari ini?' batin Luis.
"Luis pamit dulu"
~
"Dimana ZiCF?" tanya Bian saat di mobil.
"Lo gak pernah ke sana? Yang benar aja??" tanya Zia balik.
"Gue gak tau" jawab Bian.
"Ya udah sini gue yang setir"
"Gak! Gak usah betingkah. Tunjuin aja jalannya" suruh Bian.
"Sebelas dua belas ya Lo sama papa. Posesif bangett"
"Ini..-"
"Demi kebaikan Lo" sahut Zia.
"Belok kiri, lurus terus. Setelah ada perempatan belok kanan. Disebelah kanan kafenya. Ada tulisannya kok, besar." lanjut Zia. Bian pun mengarahkan mobilnya sesuai yang dikatakan Zia. Gak lama kemudian mereka sampai.
"Buset ini kafe Lo? Tingkat 3? Bokap gue bilang Lo buat pake duit Lo sendiri??" tanya Bian bertubi tubi.
"Kalau gue jawab lo gak bakal percaya. Kuy masuk" ajak Zia. Mereka pun masuk kedalam kafe dan disambut dengan para pelayan.
"Nona Zia, lama gak ketemu" kata kepala pelayan.
"Eheh.. iya mbak, gimana kafe? Ada masalah?" tanya Zia.
"Nggak ada kok nona" jawabnya.
"Ini... Siapa nona?"
"Ohh, kenalin ini calon suami saya" jawab Zia.
"Bukannya tuan pengusaha muda yang populer itu?" tanyanya. Bian tersenyum.
"Iya mbak" jawab Bian.
"Itu tangan nona Zia kenapa?" tanya Ina, kepala pelayan.
"Ahh, gak apa apa mbak. Ada musibah kemarin. Saya ke ruangan dulu ya mbak" pamit Zia
"Hati hati nona" Zia hanya membalas dengan senyuman lalu menuju lift bersama Bian.
"Mau makan lagi gak Lo?" tanya Zia.
"Nggak, masih kenyang" jawab Bian, Zia dan Bian sudah di dalam lift menuju lantai 3.
"Ini tempat apaan?" tanya Bian
"Lantai tiga tempat penginapan para pelayan, dan juga ada ruangan pribadi gue" jawab Zia. Mereka pun berjalan menuju ruangan Zia.
"Iwaww, wagilasi. Perfect banget" sahut Bian.
"Ketikkan dong tolong, gue mau cek cctv sama cek keuangan" pinta Zia. Bian pun langsung bersedia. Pertama mereka mengecek cctv lalu mengecek keuangan.
"Busettt dahh.. Zi ini keuntungannya gede banget" kata Bian. Zia hanya cengengesan mendengarnya. Setelah selesai mereka keluar ruangan dan mengunci otomatis ruangan itu. Lalu kembali kebawah.
"Mbak, jangan lupa ya kalau ada masalah hubungin saya. Saya pamit dulu"
__ADS_1
"Oke siap non, hati hati ya nona" sahut Mbak Ina. Zia tersenyum lalu pergi meninggalkan kafe bersama dengan Bian.