
"Aaaku bosannn" Zia sedang mengganggu Aska yang lagi fokus pada pekerjaannya. Dengan manjanya dia duduk meja tepat di depan Aska.
"Sayang, gimana aku kerja kalau kamu duduk disitu?" tanya Aska.
"Aku bossaaaaann" keluh Zia. Aska mendekatkan diri ke Zia.
"Jadi? Kamu mau apa hm?"
"Nggak tauuu"
"Drakoran gih"
"Nggak mau"
"Rebahan di ruangan pribadi aku"
"Nggak mauu"
"Beli ice cream di kantin"
"Nggak mau"
"Jadi maunya apa sayang? Maunya apa hm?" Aska mengelus lalu mengecup punggung tangan Zia.
"Nggak tau ayy" Aska menarik Zia untuk duduk di pangkuannya.
"Dah diem ya, jangan gerak. Bahaya kalau kamu gerak" Zia diam dua menit, setelahnya Zia bergerak keluar. Aska membiarkannya keluar.
Zia berdiri di belakang Aska menutupi mata Aska. "Sayangku cintaku istriku, kok ditutup sih hm? Gimana aku kerja kalau gini?"
"Ya abisnya aku kesel. Kamu lebih mentingin kerjaan daripada aku"
"Bukan gitu istrikuu. Kalau aku gak kerja, kamu gak makan" Aska menatap Zia lalu mengecup sekilas bibirnya. Zia mengerucutkan bibirnya lalu pergi ruangannya.
-
"Ngapa muka di tekuk buk?" tanya seseorang baru datang.
"Berisik lu" balas Zia ketus.
"Savage" Dia langsung masuk keruangan Aska.
"Assalamualaikum bang"
"Waalaikumsalam, tumben lu kesini Zai. Kenapa?"
"Nggak, itu tadi kakak kenapa? Lo apain bang? Wih hajab lo gak dikasih jatah" tanya Zai. Mereka berdua melihat Zia yang berputar dengan kursinya.
"Gue tabok juga lo ntar. Kakak lo lagi mood mood-an tuh. Gak tau maunya apaan"
"Bukannya dibujuk, parah lu gak peka"
"Hyalah, jones diam" Zai menatapnya sinis. Aska tertawa.
"Jadi? Ngapain kesini?" tanya Aska.
"Hehe, gue mau minta ajarin cara ngurus perusahaan" jawab Zai.
"Kenapa gak minta ajarin papi? Gue sibuk Zai sumpah deh"
"Kalau ke papa, papa langsung lepas tangan"
"Lagian lo tumben aja minat? Kerasukan apa?"
"Astaga abang ipar gue gini amat sih?!" keluh Zai. Aska tertawa.
"Ke sofa sono, capek berdiri kan lo?" Zai cengengesan kemudian melangkah ke sofa. Aska menekan tombol yang mengarah ke kantin khusus Asz.
"Bawa chocolate panas dua" Aska melepas tombolnya lalu menghampiri Zai.
"Lo mau coba coba gitu belajar disini?" Zai mengangguk.
"Kan abang sukses mulai dari nol. Pasti tau gimana seluk beluk beginian"
"Kenapa gak minta bang Zean?"
"Bang Zean sibuk melebihi lo bang. Kak Febby juga udah mau lahiran"
"Lo mau mulai dari awal? Kenapa? Aaa.. buat modal nikah? Siapa cewek yang lo ajakin berjuang bareng?"
__ADS_1
"Kinan"
"Serius? Emang dia mau sama lo?"
"Ya jelas mau lahh. Lo gak liat bang? Pesona gue nih? Hwah" Zai sombong.
"Idii narsis" ledek Aska.
Toktoktok..
Minuman mereka tiba.
"Silahkan diminum tuan Zai"
"Ah iya terima kasih tuan Aska" Aska cengengesan.
"Gue gak bisa ajarin lo langsung. Mungkin lo bisa minta ajarin rap, atau bawahan rap"
"Astaga, tega lu kagak mau ajarin adek ipar sendiri"
"Gue gebukin ntar lu yaa!! Bukan gak mau, gue sibuk. Daritadi kakak lo juga godain mulu, untung gue kuat iman"
"Bacott!!!" sahut Rafael.
"Eh, masuk bukannya ketuk pintu. Gak sopan!!" ujar Aska. Rafael tertawa.
"Bantu ajarin calon adek ipar lo bisnis" suruh Aska.
"Aman, datang aja keruangan gue"
"Eh.. bay the way, tadi gue liat bini lo nangis di depan. Lo apain?" tanya Rap.
"Hah nangis?" tanya Aska. Aska berlari menuju luar.
Dan ya benar saja, Zia sedang mengusap air matanya. "Kamu kenapa sayang? Aku salah? Aku minta maaf ya" Zia diam.
"Sayaaanggg"
"Sayang kamu kenapa hm?" Aska jongkok dihadapan Zia.
"Sayangg, jangan diem aja dongg" rengek Aska.
"Emang kenapa?"
"Ini tu.. kedainya Wak Keling dibakar sama Endang. Jahat banget Endang jadi provokator" jelas Zia. Aska yang jongkok terduduk dan menatap Zia.
"Aku kira kamu kenapaa ay. Ah kamu mah demen emang bikin panik,"
"Kamunya ngapain samperin? Katanya banyak kerjaan sampe istri sendiri di kacangin" Aska bangkit dan langsung menyosor ke Zia.
"Mata gue gak sehat" ujar Zai, Rafael tertawa.
"Kakak lo sama abang ipar lo serasi banget. Demen gue liatnya"
"Yahh gitu deh bang. Bersyukur aja makhluk kayak kakak gue bisa nemuin cowok sebaik bang Aska"
"Eh betewe, abang kapan nikah? Gak mungkin gue sama Kinan duluan" Rafael malah pergi.
"Untung calon abang ipar" ujar Zai mengelus dada.
-.
"Ayy ah, kamu tu! Ini kantorrr!!" protes Zia.
"Ya kamu sih godain mulu. Bibir dimaju majuin. Kan kode minta di cium" Zia menatapnya sinis Aska yang cengengesan.
"Gak ada lipstik kan dibibir aku?" tanya Aska.
"Aku gak pake lipstik" jawab Zia.
"Tumben?"
"Tumben apanyaaa, cuma make sekali juga"
"Tapi kenapa bibir kamu merah? Manis banget lagi"
"Mana aku ta---"
Kriuk.. kriuk..
__ADS_1
Perut Zia bunyi. Aska tertawa.
"Mau makan apa hm? Makan dikantin, makan diluar atau makan beli online?" tanya Aska.
"Kamu maunya?"
"Makan kamu"
"Idiii" Aska tertawa lagi.
"Makan kantin aja yok" ajak Zia.
"Emang kamu bisa makan kantin? Kantin besar loh"
"Ah gak tau ah. Gak jadi, males. Bodo amat" balas Zia.
"Hahahaha.. yaudah iya ayok kantin"
- - -
Di kantin Asz.
"Kamu mau apa?" tanya Aska. Zia masih mensurvei kantin. Ini pertama kalinya masuk ke kantin.
Kantin Asz rapi, dan bersih. Cukup ramai. Banyak makanan minuman, cemilan, dan lain sebagainya. Semuanya gratis, hanya untuk karyawan Asz.
"Sayang" Aska memanggil Zia.
"Hm?"
"Makan apaan?"
"Apa aja deh terserah kamu" jawab Zia. Aska memesan makanannya.
"Oi pabos" seseorang melambaikan tangannya, Rafael.
"Ayok ke rap" ajak Aska. Dia menggandeng tangan Zia lalu menghampiri Rafael.
"Lo kan di ruangan gue tadi, kok tiba tiba disini?" tanya Aska.
"Gue daritadi disini" jawab Rafael.
"Gak usah ngaco, lo yang bilang bini gue nangis tadi"
"Gue disini daritadi bambang" Aska dan Zia bertatapan.
"Hahahaha"
"Nggak nggak"
"Kampret" Rafael tertawa.
"Zai? Lo masih disini?" tanya Zia.
"Masihh kak, gue laper. Diajakin abang ipar kesini" jawab Zai.
"Baaacot" Zai tertawa.
Beberapa menit kemudian, makanan mereka tiba. Ketika makan, sesekali Aska menyuapi Zia. Para penghuni kantin dibuat baper oleh dua pasangan ini termasuk Rafael dan Zai.
"Ailahh, gatau tempat lo pada" ujar Zai.
"Syirik ajaa" balas Aska. Rafael dan Zia tertawa.
"Gue denger lo niat serius ke Kinan? Terus mau mulai semuanya dari nol sama dia?" tanya Zia. Zai mengangguk.
"Pesan gue cuma satu ke lo. Setelah lo sukses nanti. Lo harus tau diri, harus sadar diri, kalau ada wanita yang setia dan selalu support lo"
"Banyak wanita yang masih mendukung pasangannya dari nol hingga sukses. Tapi tak banyak pria yang tetap bersama wanita yang mendukungnya dari nol, setelah iya sukses."
"Jadi, gue harap lo jangan pernah ninggalin Kinan kalau dia bener bener tulus setia ke lo" ujar Zia. Zai manggut-manggut.
"Gak bakal gue tinggalin. Gue bakal jaga Kinan sama kayak bang Aska jagain lo" kata Zai yakin. 'bersyukur adek gue nemu zai. semoga ini pilihan yang tepat' batin Rafael.
"Bagus lah kalau gitu" balas Zia.
"Eh btw.. ay kamu bakal setia gak sama aku?" tanya Zia pada Aska disampingnya.
"Sampai kapanpun! Sampai kapanpun aku bakal setia sama kamu" jawab Aska. Zia tersenyum memandang Aska.
__ADS_1
"You're my perfect husband"